Menggurat Visi Kerakyatan

Contagion, Film Refleksi Masa Pandemi Covid-19

195

Saat ini, pertahanan terbaik kita adalah jaga jarak, tidak berjabat tangan, berdiam di rumah ketika sakit, dan sering cuci tangan – Dr. Ellis Cheever

Judul Film                        : Contagion

Sutradara                         : Steven Soderbergh

Skenario                           : Scott Z. Burns

Bahasa                             : Inggris

Durasi Film                       : 1 Jam 46 menit

Tanggal Rilis (Amerika)  : 9 September 2011

 

Seekor kelelawar terbang, hinggap pada pohon pisang dan memakannya. Kemudian kelelawar itu menggantung pada tiang horizontal di kandang babi, menjatuhkan sepahan pisangnya hingga dimakan oleh si babi. Babi tersebut dibawa oleh seseorang untuk dijual. Lalu dimasaklah babi itu oleh koki di salah satu restoran. Sang koki menggosok mulut babi dengan tangannya, berniat membersihkan. Seseorang karyawan memanggil, sang koki hanya menyerbet tangannya pada celemek yang ia pakai. Rupanya sang koki bertemu dengan tamunya (Beth Emhoff), dia bersalaman dengan tangan yang kotor itu.

Itulah adegan akhir yang menjelaskan  bagaimana virus menyebar dalam film berjudul Contagion. Dalam bahasa Indonesia, Contagion berarti  penularan. Film ini disutradarai oleh Steven Soderberg. Seorang sutradara yang memulai debutnya dengan menyutradarai film Sex, Lies dan Vidiotape. Lewat film tersebut Steven meraih penghargaan Palme d’Or dalam festival Film Cannes sebagai sutradara film terbaik.

Di poster resminya, Contagion menampilkan enam wajah yang akan menjadi pemeran utama dalam film ini. Enam orang inilah yang akan bercerita tentang virus yang menyerang beberapa wilayah di dunia dengan sudut pandang mereka masing-masing. Secara singkat film ini bercerita tentang seorang pengusaha, Beth Emhoff (Gwyneth Paltrow) yang terjangkit virus dan secara tidak sadar menyebarkannya ke beberapa wilayah. Suami Beth, Mich Emhoff (Matt Damon) berjuang hidup di tengah pandemi dengan putrinya. Sementara di sisi lain ada tiga orang dokter, Ellis Cheever (Laurence Fishburne), Erin Mears (Kate Winslet), dan Leonora (Marion Cotillard) yang berjuang untuk menemukan vaksin virus tidak diketahui itu. Kemudian ada seorang jurnalis freelance bernama Alan Krumwiede (Jude Law), yang memperkeruh suasana epidemi. Dia membuat tulisan dan video kontroversial dalam blognya. Vidio itu berisi tuduhan bahwa virus ini adalah konspirasi CDC (The center of Disease Control and Prevention) dan WHO (World Health Organization). Konspirasi itu berisi bahwa CDC dan WHO menahan persediaan forsythia, obat yang Alan yakini bisa menyembuhkan untuk keuntungan mereka. Lalu pada faktanya,  kabar obat forysthia untuk menyembuhkan, hanya sebuah berita bohong.

Karena film ini diceritakan dengan enam sudut pandang, saya menjadi agak bingung dengan jalan ceritanya yang tidak fokus pada satu tokoh saja. Meski begitu kelebihan dari ditampilkannya beragam sudut pandang ini, kita bisa tahu dampak epidemi dalam film secara menyeluruh. Di bidang ekonomi, yakni orang-orang yang berbondong-bondong membeli persediaan makanan. Bidang kesehatan, para tenaga medis yang bekerja tanggap mencari vaksin, sampai peran media sosial yang sentimen dalam menyebarkan informasi sehingga mempengaruhi nitizen/warga net.

Menonton film Contagion di tengah pandemi Covid-19, membuat saya merasa sangat terhubung dengan film ini. Bagaimana tidak? Saya mengalami nyaris semua kejadian dalam film ini. Mulai dari pemerintah yang menghimbau social distancing,  masyarakat harus mematuhi protokol kesehatan, hingga karantina mandiri. Saya mengerti betapa bosannya Mich dan putrinya yang diam dirumah selama 114 hari dan tak berani menerima tamu. Hingga orang-orang macam Alan yang menyebarkan hoax dan mengarang sebuah konspirasi, juga ada di masa pandemi Covid-19 sekarang ini.

Potret kejadian di film ini relate dengan situasi yang terjadi sekarang. Seolah film keluaran 2011 ini memprediksi  pandemi Covid-19 yang pertama kali ditemukan pada  akhir tahun  2019. Covid-19 pertama kali ditemukan di China dengan analisis bahwa virus ini berasal dari kelelawar. Asal virus dalam Contagion juga dari kelelawar. Persebarannya di China pula. Dan jangan lupakan juga gejala para pasien yang terpapar. Batuk, demam tinggi, flu, benar-benar mirip gejala Covid-19.

Ilmuan dalam film Contagion menemukan vaksin MEV-1 dalam waktu berbulan-bulan, setelah mengorbankan 56 kera sebagai percobaan vaksinnya. Pada vaksin ke 57 seorang dokter bernama Ally (Jeniffer Ehle) langsung menyuntikkannya pada manusia untuk mengetahui dosis yang tepat. Karena menggunakan kera terlalu lama. Vaksin berhasil dan akhirnya disebarkan ke seluruh wilayah yang terjangkit.

Setelah membaca artikel dari Liputan6.com, saya tahu ternyata untuk membuat vaksin dibutuhkan waktu bertahun-tahun lamanya. Demam berdarah Dengue (DBD) yang di Indonesia pertama kali ditemukan pada 1968, membutuhkan 48 tahun agar vaksin ini mendapat persetujuan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Lalu beredar di Indonesia pada 2016. Satu-satunya pembuatan vaksin tercepat adalah vaksin penyakit gondong yang membutuhkan waktu empat tahun.

Kalau dihitung dari sejak ditemukan Covid-19 di Indonesia, sudah setengah tahun kita ada dalam suasana pandemi ini. Dan dalam kurun waktu tersebut vaksin tak kunjung disebarkan, padahal Indonesia sudah menemukan vaksin Covid-19. Kasus Covid-19 terus meningkat. Per 13 September, di Indonesia sudah lebih dari 200 ribu kasus, membuat saya khawatir sekaligus bertanya-tanya mengapa vaksin belum kunjung disebar jika memang sudah ditemukan. Setelah tahu bahwa pembuatan vaksin memang tak singkat, masih harus melewati berbagai uji klinis. Saya cukup memakluminya, dengan keyakinan para ilmuan berusaha semaksimal mungkin untuk menguji keamanan vaksin agar bisa diedarkan. Terakhir, seperti ending film Contagion yang menenangkan dengan pemvaksinan masal pencegahan virus, saya harap vaksin Covid-19 segera selesai diuji coba dan disebarkan sehingga kasus Covid-19 tak lagi bertambah. []

Penulis : Alifia Suci Rahma

Editor   : Alit Wahyuni