Menggurat Visi Kerakyatan

Puisi-puisi Wasis Zagara

1.441

Selasar Biru Laut

Pada sunyi yang redup,

Pada batas keangkuhanku yang tandas ini,

Aku tetaplah biru laut yang serba rahasia

Dan, Kau biru langit: tempat bersarang segala doa-doa.

 

Seluruh Kapal ke-aku-an

Telah pulang padaku

Renik-renik kelalaian terapung-apung

Di semenanjung ombakku.

Setiap yang hitam dan keliru

Telah pulang-berlabuh di palungku.

 

Lalu, apa lagi yang bisa kuharap dari bentang langitMu?

Selain hamparan pengampunan?

 

Abisal lautku gigil,

Ingin pulang pada haribaan rindu

Mengambang, berarak-arak bersama putih awanMU

Dan, lelap pada dekap mahabbahMU.

Bayangkaki, 2022

 

Anasir Segala Doa

Segala hal yang terperanjat akan luruh

pada titi mangsanya.

Do’a, labirin, dan hikayat kesepian akan runtuh bersama rintih hujan.

Daun yang terkatup, rerumput gemetar

Sementara aspal menguar berurai petrikor.

 

Begitu pun kau, atau pun doa kita yang pernah sama-sama erat

Menggenggam arti lautan

Menyelam dalam buih laut, dan, janji yang berbusa-busa

Kini kita telah menguap-melangit, dan jatuh.

Menjelma rerintik kehilangan

 

Beruntung, bumiku telah lapang

Menggelar ingatan-ingatan,

Juga badai sendu yang berkejaran.

Bangku Tunggu, 2021

 

 

Silsilah Kesedihan

Pada malam yang lindap

Seorang gadis telah menitipkan sedihnya padaku

Menggugurkan gundah yang mendekam di benaknya.

Mencabik pedih yang bermukim pada masa lalunya.

 

Sesaat, setelah nyanyian haru itu gemuruh

Di rumput layu dan remang lampu taman

Aku berniat pulang pada relung keheningan,

Namun, ia menahan derak langkahku

 

“Singgahlah beberapa masa, sampai nyala bulan berjatuhan di wajahku?” pintanya.

Kedua tangannya menggapit lenganku sekuat balur elang

Mataku membidik jauh ke saujana masa kelamnya

Tentangnya, dan derita yang nyala-padam

Tentang puing hati retak dan berserak

Tentang tangis sunyi yang getar di bibir malam

Tentang gundah yang singgah

Tentang harap-cemas yang tak tahu

akan bermuara pada dada siapa

Kau harus jadi cakrawala, jika ingin nyala bulan.

“Cakrawala menopang kesedihan banyak orang, tapi melupakan kerapuhannya sendiri.  Adilkah?” Tanyanya liar tak bertuan.

“Kau tahu, derita tak akan purna, tapi cakrawala juga tahu, bahwa kebahagiaan ialah derita yang menguar dan jatuh ke bumi menjadi rintik-rintik penerimaan”.

Puspa Asri, 2021

 

 

Anomali Pagi

Pagiku tergagap, dihadang matahari yang telah meninggi

Dengan langkah tertatih kubuka tirai kepalsuan

Yang bergantung dijendela bumi.

Seberkas cahaya menikam tajam mataku

“Wahai, penata jagad, aku belum siap,” rintihku.

 

Sekelamut ingatan tentang malam yang percuma,

Membuat Fajar serasa datang terlalu cepat

Tetiba mataku pedih dan dada gegap-gempita

“Apakah penyesalan semengerikan ini?”

Hingga nurani ingin berkelit dan mencampakkan jasadnya sendiri.

 

Suatu kali, di hari berkabungku,

Apakah sesal akan menyumpal riuh di dada?

Apakah sehimpun amarah berhasil sirna?

Ataukah justru ia melumatku?

Kian babak belur dipecundangi waktu.

 

Sanggupkah aku lepas layaknya layang-layang

Terhempas tenang mencumbui langit

Sebilah mata tegap seolah menyiratkan keyakinan, “Baiklah, aku siap”.

Atau justru lari tunggang langgang

Seperti kijang yang ditawan mata senapan?

Ah, pagi ini terlalu anomali,

Terlebih untuk orang yang asing dengan aroma bumi.

Puspa Asri, 2021

 

 

Sekelumit Dejavu

Kau tahu, dik

Rotasi waktu, hingga permulaan bumi,

dan awal mula kehidupan

Telah dimulai ribuan dekade

Jauh sebelum kita terlahir

 

Jauh sebelum kau menjelma perempuan jelita

Terpaut lampau, sebelum aku jadi lelaki kelana

 

Barangkali, masa lalu yang muskil terhitung angka

Kita pernah berjumpa sebagai seekor kupu-kupu

Sesama tersesat di belantara kata

 

Atau sepasang angin,

Dan, daun yang saling berbisik

Bertukar kabar melalui kesedihan hujan

Atau bersua di antara baris-baris awan

 

Atau, sebagai dua helai ilalang,

Menari di terik matahari

Dan, menggembirakan kuncup-kuncup mungil

Yang  kesepian.

 

Pada mula yang selalu berakhir

Atau, akhir yang meretaskan permulaan

Selamat bertemu pada dejavu-dejavu selanjutnya

Pada masa yang entah kapan.

Kafe D’jatipitu, 2021

 

Wasis Zagara, bertempat tinggal di Kabupaten Ponorogo. Saat ini, ia menjadi ketua komunitas literasi Forum Penulis Muda (FPM) Ponorogo. Selain itu, ia juga pegiat Komunitas Sastra Langit Malam dan Laskar Sastra Muda Ponorogo.

Leave a comment