Menggurat Visi Kerakyatan

Sastra Inggris Kemas Tragisnya Kehidupan, Mimpi dan Asmara lewat Pementasan Teater The Seagull Karya Anton Chekhov

Editor: Sofia Elyana Auliya

3,181

 

Sastra Inggris angkatan 2020 (Sasing 20) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember (FIB Unej) menggelar pementasan teater yang berjudul The Seagull karya Anton Chekhov di Gedung Soetardjo pada Sabtu, 3 Mei 2023. Pementasan teater tersebut digelar dalam rangka pemenuhan tugas akhir Mata Kuliah Literary Perfomance oleh mahasiswa-mahasiswi Sasing FIB Unej angkatan 2020.

Febrian Endra Basuki, selaku sutradara  menjelaskan alasan pemilihan naskah drama The Seagull karya Anton Checkhov. Ia menerangkan bahwa penempuh Mata Kuliah Literary Perfomance terbilang cukup banyak, yakni 112 orang sehingga proses pemilihan naskah yang akan dipentaskan melewati proses yang panjang.

Febrian menyebutkan beberapa kandidat naskah drama yang akan dipentaskan di antaranya naskah drama Macbeth dari William Shakespeare, Beauty and The Beast karya Stephen Chbosky, dan The Seagull oleh Anton Checkhov. Melalui pertimbangan yang matang dan keselarasan jumlah aktor, naskah drama The Seagull dipilih untuk dikembangkan menjadi sebuah pertunjukan teater berkapasitas 30 aktor. “Yang bener-bener bisa dikembangin buat jadi pementasan itu at least 30 talent cuma naskah drama The Seagull,” ujarnya saat diwawancarai pada Minggu, (04/05).

Drama The Seagull karya Anton Chekhov menceritakan konflik empat tokoh bernama Konstantin, Nina, Irina, dan Trigorin. Konstantin mencintai Nina, namun Nina mencintai ayah tiri Konsantin yakni Trigorin. Konstantin yang kerap gagal akhirnya menyerah dan membunuh dirinya dengan senapan. Drama The Seagull memadukan rumitnya asmara, pencarian jati diri, upaya menggapai cita-cita hingga kehancuran dalam kompleksitas tokoh-tokohnya.

Febrian mengungkapkan pesan yang ingin disampaikan melalui pertunjukan teater tersebut kepada penonton berkaitan dengan moralitas manusia sebagai insan yang luhur, upaya untuk menjadi manusia baik, dan memperlakukan manusia dengan baik. “Pesannya how to be a good person. Intinya cuma gimana caranya kita menjadi orang yang baik dan bagaimana cara kita juga memperlakukan orang dengan baik, karena konfliknya berhubungan dengan hal-hal yang seperti itu,” ujarnya

Ia selaku sutradara menerangkan bahwa keseluruhan proses pemilihan naskah, pembentukan panitia, open casting, latihan keaktoran hingga persiapan produksi memakan waktu selama dua bulan. Sedangkan latihan keaktorannya sendiri memerlukan waktu dua bulan persiapan. “Kurang lebih tiga bulan. Proses keaktoran pelaksanaanya dua bulan,” terangnya.

Selain itu, ia juga menyebutkan beberapa kesulitan yang dihadapi selama mempersiapkan pementasan. Kesulitan tersebut di antaranya jarangnya mahasiswa jurusan Sastra Inggris angkatan 2020 berkumpul karena kesibukan kuliah dan permagangan MBKM ditambah belum adanya pengetahuan akan pementasan dan keaktoran. “Kesulitan pertama, ketemuan jarang sesama angkatan 20 Sasing, jadi kurang mengenal orang-orangnya. Kesulitan kedua, dari semua anak-anak Sastra Inggris itu belum ada basic apapun mengenai pementasan,” tuturnya

Moch Ghazy Al Ghifarial Haq kerap disapa Farel, penempuh mata kuliah Literary Performance mengungkapkan pengalamannya memerankan Konstantin Treplyov, tokoh dalam drama The Seagull. Ia mengaku kesulitan karena hal tersebut merupakan kali pertamanya menjadi seorang aktor, namun hal tersebut menjadi tantangan bagi dirinya untuk menunjukkan keberhasilan. “Kesulitannya baru pertama kali buat aku jadi aktor, ngehafalin naskah, mimik dan suara lumayan susah. Jadi, lebih ke dilakuin aja, mau ga mau, harus berhasil,” ujarnya saat diwawancarai pada Senin, (05/05).

Farel kemudian menyampaikan pemaknaan terhadap tokoh yang diperankan dan sisi yang paling ingin ditunjukkan sebagai aktor. Ia mengungkapkan bahwa emosi dari tokoh Konstantin merupakan elemen yang penting sebagai sesuatu yang perlu ditunjukkan kepada penonton. “Dalam hal memperdalam karakter, banyak banget emosi yang pengen tak tunjukin di dalam karakterku, karakterku kan egois, pemarah, mood swing. Pengen banget tak tunjukin biar penonton itu paham kalo karakterku agak kompleks,” ucapnya

Proses keaktoran dan pendalaman karakter yang dilakukan Farel meliputi latihan individual seperti membaca naskah, referensi melalui Youtube, dan latihan olah tubuh melalui cermin. “Banyak cari referensi, baca teks naskah aslinya, sering banget nonton film dan drama yang ada di Youtube, aku di rumah ada kaca sebesar badanku, aku liat diriku kalo ngomong di depan itu gimana,” ujarnya

Ach Hilmi Lukman Baskoro, mahasiswa Sastra Indonesia FIB Unej, mengungkapkan kesan yang didapatnya setelah menonton pementasan teater The Seagull oleh Sasing angkatan 2020. Ia mengungkapkan suara aktor dalam pementasan kurang terdengar sehingga menyulitkannya memahami alur teater tersebut. Hilmi juga menyayangkan beberapa aktor yang masih menggunakan identitas agama berupa kerudung yang menurut pihaknya masih dapat disiasati dengan menggunakan wig. “Ga terlalu nangkep alur kisah ceritanya secara keseluruhan, yang menjadi paling sayang disayangkan yaitu suara aktornya, sebagian besar suara aktornya itu ga terdengar dan masih ada yang pakek kerudung, sebenernya kan bisa pakek wig gitu, nah itu juga yang sangat disayangkan,” ujarnya saat diwawancarai via telephone pada Minggu, (04/05).

Hilmi mengatakan bahwa kostum yang dikenakan aktor merupakan nilai tambahan dari pertunjukan teater tersebut karena sesuai dengan penggambaran yang terdapat di naskah, yaitu suasana barat. “Beberapa kostum aku suka karena menggambarkan suasana barat banget, karena kan Rusia gitu,” tegasnya

Di akhir, Hilmi menyampaikan harapannya agar praktik mata kuliah seperti pementasan teater dan sejenisnya lebih banyak dilakukan oleh mahasiswa. “Harapan ke depannya sih, lebih banyak praktik kayak gini ya, emang dalam persiapan itu sangat sulit ya, tapi untuk sarana apresiasi dan hiburan sejenis ini sangat diperlukan,” tutupnya [].

Leave a comment