Menggurat Visi Kerakyatan

Puisi-Puisi Ainun Nafhah

107

Bingkisan

Kabarnya, dia tidak percaya dengan salah satu hari paling bahagia yang katanya pasti akan datang dalam kehidupan manusia

Seperti malam saat dia menerima sebuah bingkisan ke-17

Dengan senyum sinis dan keyakinan yang sangat egois. Lalu udara yang tiba-tiba menjadi sangat dingin saat ditiupnya lilin yang menjadi penerangan satu-satunya di ruangan itu

“Aku Harap”

Asap itu menjadi sebuah kapal ringan yang dapat mengangkut berbagai macam harapan yang keluar dari tertutupnya mata. Sedikit ragu, melihat betapa apatis asap itu melirik. Udara menjadi dingin

Katanya, bingkisan yang dulu dia terima sekarang menjadi rongsokan, terkadang dia berharap bisa mendapatkan lebih baik dari itu dan terkadang dia tidak ingin memilikinya.

Saat dia membuka mata. Bingkisan ke-20 sudah menggelayut di kepalanya. Sekelebat datang tanpa asap, hanya menyapa dengan tangan berisi udara dan beberapa harapan yang malu-malu untuk terbang ke luar.

Aku yakin dia mulai bertanya-tanya. Apakah asap lilin bingkisan ke-17 telah terbang utuh atau dipaksa menghilang saat akan keluar dari pintu ruang tamu, karena dia masih tidak mengerti bagaimana cara mengucapkan terima kasih,

Bahkan dengan cara yang paling angkuh sekalipun.

Aku melihat dia memilih membakar jembatan yang sudah lama dia bangun dan melihatnya jatuh, lalu pergi. Mungkin dengan sedikit penyesalan yang ditolak mentah-mentah oleh diri sendiri

Asap yang malang, entah isinya yang terlalu lemah atau asap itu memang tidak cukup kuat untuk mengangkut harapannya yang terlalu berat.

Aku mulai khawatir, karena bingkisan selanjutnya akan datang sebentar lagi

Dia duduk di depan cermin, menatapku

Merencanakan sesuatu

 

“Haruskah aku terima bingkisan ini?

 

Efek Kupu-kupu

Jika aku memilih menetap,

Apakah kebenaran tentang predestinasi itu akan mengubah bagaimana caraku mengendalikan waktu?

Saat meraih acak lengan-lengan buana yang niskala aku pun sempat curiga

Benarkah peluru yang menembus kepala adalah jelmaan dari sang pemilik nyawa?

“Berjalan saja” katamu, “Kenapa kau masih berprasangka?”

;lebih dekat lagi

Saat satu dari seribu satu domino jatuh

Satu paku membuatnya menjadi seribu

Lihatlah bagaimana kekacauan menciptakan atma

Satu langkah kanan, depan, kiri, belakang sudah cukup menghasilkan nama

;Lihat

Lengan buana yang ku pilih tidak merestuiku untuk menetap

Jadi, percepat saja

Sungguh aku akan sangat bahagia untuk musnah

“Tidak” katamu, “Tidak dengan cara seperti ini”

Masa antara satu kepakan kupu-kupu ke kepakan selanjutnya

Di sana pertanyaan ‘kenapa’ selalu muncul di kepala

Rasa terima kasih yang terucap karena melihat darah saudara sendiri, ngeri.

Ampun,

Aku masih manusia penasaran,

mencari kepuasan, menyangkal kebenaran

 

Via Lactea

Sejajar garis lurus sedikit lebih tinggi

Iris menarik paksa pupil, kini

Berhasil mengintimidasi nadi yang telah mati

Melucuti mahkota yang angkuh karena posisinya yang terlalu tinggi

“Apakah ada rasa malu?”

Kelelawar berkeliaran tak terlihat

Pertanyaan lewat sekelebat

Tubuh pun terguncang hebat

Elusif, otak meronta sekarat

“Di mana poisimu sekarang?”

Aku hanya merasa yakin

Bahwa atmosfer menyimpan aku yang lain

Bahwa jika dibandingkan,

Semut adalah aku yang berjalan beriringan

 

Satu Koma

 

Hanya itu

Tidak lebih dalam

Di sanalah kamu

 

Merangkak membebaskan seperempat kejujuran

Lambat satu per satu,

Jangan percaya

Aku masih satu koma satu

 

Lebih dekat?

Tunggu dulu,

Labirin mana yang baru kau kuak itu?

 

Kau sangat yakin kekuatan pijakanmu

Bukankah seratus dua puluh masih di ujung kuku

 

Di tempat semula

Kau masih sama

 

Ainun Nafhah, Lahir 9 Januari 1998 di Probolinggo. Mahasiswa sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Seorang perempuan yang ingin berkarya.