Menggurat Visi Kerakyatan

Film Kursk, Gambaran Subsunk Kapal Selam Pertama di Dunia

Editor: Alit Wahyuni

252

Judul Film                          : Kursk

Sutradara                           : Thomas Vinterberg

Skenario                             : Robert Rodart

Bahasa                               : Inggris

Durasi Film                        : 1 jam 58 menit

Tanggal Rilis (Indonesia) : 11 November 2020

 

Raut kekecewan dan amarah tampak jelas di wajah-wajah awak kapal selam Kursk yang bahkan kegelapan di bagian belakang kapal selam pada saat itu, tidak bisa menyembunyikannya. Sudah berjam-jam sejak kapal selam Kursk milik AL (Angkatan Laut) Rusia terdampar di dasar laut. Sebanyak 23 awak kapal terjebak di dalamnya. Kapal selam pertolongan datang. Namun pada saat akan melakukan evakuasi, kapal selam bantuan yang menggunakan energi baterai, kehabisan daya. Sedangkan oksigen dalam buritan, bagian belakang kapal selam, sudah semakin menipis. “Mereka akan kembali. Percayalah padaku!” teriak Mikhail Averin, untuk menenangkan rekan-rekannya. Mikhail Averin adalah seorang marinir yang bertugas sebagai kepala unit turbin, sebuah mesin yang berputar dengan menggunakan energi dari aliran fluida.

Begitulah adegan pada menit ke 67 film Kursk. Film Kursk mengadaptasi buku non fiksi dengan judul A Time to Die: The Untold Story of the Kursk Tragedy karya Robert Moore. Buku tersebut diangkat dari peristiwa tenggelamnya kapal selam bertenaga nuklir milik Rusia ke dasar Laut Barents pada 12 Agustus tahun 2000. Amerika Serikat merilis film Kursk dengan judul The Command. Sedangkan Britania Raya merilis film Kursk dengan judul Kursk: The Last Mission. Film yang disutradarai oleh Thomas Vinterberg ini menceritakan kisah para marinir kapal selam Rusia yang sedang menjalani latihan militer dengan tiga tahap. Yakni uji tembakan rudal, peluncuran torpedo pilot, dan usaha kembali ke markas tanpa terdeteksi. Namun, latihan tersebut berujung tragedi dengan tenggelamnya kapal selam Kursk.

Dalam film Kursk, angkatan laut Rusia mengalami kecelakan fatal saat menjalani latihan militer. Berawal dari dua ledakan yang disebabkan oleh keabnormalan tingkat suhu salah satu torpedo. Sebelumnya, kapten kapal telah diberitahu tentang hal itu namun mengabaikannya. Ledakan menewaskan sebagian besar awak kapal. Mikhail Averin yang diperankan oleh Matthias Schoenaerts mencoba mengevakuasi rekan-rekannya yang masih hidup. Mereka berkumpul di buritan dan berusaha bertahan hidup dengan persediaan oksigen dan makanan yang semakin menipis.

Keterlambatan pihak komando militer mengetahui insiden tersebut membuat keadaan semakin parah. Sehingga usaha-usaha penyelamatan yang mereka lakukan juga terlambat. Kendala lain seperti mesin kapal bantuan yang mengalami kerusakan dan baterai yang habis pada saat melakukan penyelamatan terjadi. Konflik perang dingin juga menjadi penyebab lambatnya penyelamatan. Pihak komando militer Rusia menolak bantuan dari Inggris dengan alasan harga diri negara. Apalagi kapal selam Kursk menyimpan banyak dokumen rahasia militer negara yang tidak boleh sampai jatuh ke tangan pihak asing.

Saat menonton film ini, saya merasakan ketegangan karena film ini menunjukkan bagaimana para korban berjuang bertahan hidup di kapal selam melawan laut. Selain itu, saya menjadi sangat emosional karena film ini menghadirkan sudut pandang keluarga korban. Semua emosi tergambar secara sempurna melalui akting para aktor yang tampak natural sehingga sangat mendukung cerita ini.

Fenomena dalam film ini serupa dengan peristiwa tenggelamnya KRI (Kapal perang Republik Indonesia) Nanggala-402 di Indonesia. KRI Nanggala-402 dinyatakan hilang selama latihan di perairan utara Pulau Bali pada Rabu 21 April 2020. Dilansir dari CNN Indonesia, terdapat tiga faktor penyebab tenggelamnya kapal tersebut yang dijelaskan oleh Pakar Kapal Selam dari Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya, Wisnu Wardhana. Ketiga faktor tersebut adalah tidak berfungsinya hydroplane atau sayap di badan kapal, tidak berjalannya Air Ballast yang dapat mengatur ketinggian penyelaman kapal, dan rusaknya Pressure Hull yang menyebabkan kapal tersebut hancur karena besarnya tekanan air. Berbagai usaha pencarian dan penyelamatan oleh TNI (Tentara Nasional Indonesia), Basarnas (Badan SAR Nasional), hingga bantuan internasional telah dilakukan. Mengutip dari KOMPAS TV, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono menyatakan bahwa terdapat beberapa negara yang tergabung dalam ISMERLO (International Submarine Escape and Rescue Liaison Office) siap membantu upaya pencarian. Upaya pencarian tersebut menemukan titik terang dengan ditemukannya barang-barang milik awak kapal. Panglima TNI Marsekal (Marshal) Hadi Tjahjanto memberikan pernyataan langsung bahwa semua awak KRI Nanggala-402 yang berjumlah 53 orang dinyatakan gugur.

Dikutip dari Hisutton.com, kasus ini terdaftar sebagai salah satu insiden kecelakaan kapal selam yang paling serius di dunia tahun 2000-2021 bersama dengan kecelakaan kapal Kursk. Kecelakaan kapal selam lainnya adalah kapal selam Nerpa (K-152) milik Rusia pada tahun 2008 yang disebabkan oleh ketidaksengajaan aktivasi sistem pemadam kebakaran yang melepaskan gas Freon ke dalam kapal. Insiden ini menewaskan enam awak kapal dan 14 pekerja sipil, sedangkan 21 orang lainnya mengalami luka-luka. Kasus lainnya adalah insiden kapal ARA San Juan S-42 milik Argentina. Insiden yang terjadi pada tahun 2017 ini menewaskan 44 awak kapal dengan penyebab yang belum diketahui.

Setelah insiden subsunk KRI Nanggala-402, saya harap tidak ada lagi kejadian serupa yang terjadi tidak hanya pada militer angkatan laut namun juga seluruh manusia di dunia ini. Saya juga berharap Yang Maha Kuasa dapat memberikan kekuatan dan ketabahan kepada para keluarga yang ditinggalkan.