Menggurat Visi Kerakyatan

Lingkungan di Sekitar Kampus UJ Kekurangan Air Bersih

254

Jember merupakan kabupaten di provinsi Jawa Timur yang memiliki curah hujan tinggi berkisar antara 1800-2000 ml per tahun. Namun dengan curah hujan sebesar itu, beberapa daerah di Kabupaten Jember masih mengalami kekurangan air bersih ketika musim kemarau. Salah satu daerah yang mengalami kekurangan air bersih adalah area kampus Unviersitas Jember (UJ), Kelurahan Tegal Boto, Kecamatan Sumber Sari, Kabupaten Jember.

Kekurangan air bersih itu tentu saja berdampak pada kehidupan masyarakat, yang didominasi mahasiswa. Mahasiswa sering kali tidak mandi karena kekurangan air. Bahkan ada yang membeli air minum isi ulang untuk keperluan mandi. “Temanku, anak Fakultas Ekonomi yang tinggal di Jalan Kalimantan pernah membeli air galon isi ulang digunakan untuk mandi,” ungkap Triana Desi Puspita Ririn, mahasiswi Fakultas Ekonomi UJ, pada Jumat 18/9.

“Aku pernah gak mandi dua hari gara-gara di kos-kosan gak ada air,” kata Amirudin Akhmad Fauzi, mahasiswa Fakultas Pertanian (FP) UJ. Hal serupa juga dialami oleh Erlina Eka Andarista, mahasiswi Fakultas Teknologi Pertanian UJ. “Di kosku juga sedang krisis air,” jelas Erlina. Mereka berdua adalah mahasiswa yang tinggal di dekat kampus UJ.

Ir. Herru Djatmiko MS., dosen ilmu tanah, FP UJ menjelaskan bahwa kebiasaan tidak mandi merupakan kebiasaan yang tidak sehat. Selain menimbulkan bau badan pada orang yang tidak mandi, penyakit seperti gatal-gatal dan iritasi ringan menjadi ancaman bagi orang yang tidak mandi. “Kehidupan mahasiswa jadi kurang sehat, sanitasi menjadi kurang baik,”  kata Herru.

Herru juga berpendapat bahwa kekurangan air di sekitar kelurahan Tegal Boto disebabkan oleh keadaan tanah di kelurahan Tegal Boto yang gantung. Gantung maksudnya, tanah yang diapit oleh dua sungai yang cukup dalam sehingga tidak ada cekungan untuk mengekang air tanah.

Herru mengungkapkan bahwa salah satu solusinya adalah memperbanyak daerah resapan air hujan. Resapan tersebut dapat berupa lubang biopori atau pun kolam resapan air hujan. Sehingga air hujan tidak hanya diarahkan ke sungai kemudian ke laut. “Kalau perlu yo tanah kampus ini dibuat kolam-kolam. Kolam tampung air hujan supaya air hujan masuk ke dalam tanah,” jelas Herru.[]

 

Penulis: Akhmad Fauzan

Editor: Rosy Dewi Arianti Saptoyo