Menggurat Visi Kerakyatan

Mendaki Pagar Lewati Selokan

1.402

Pedestrian semakin tak nyaman menuju kampus. Mereka jadi korban ketika pengendara motor parkir sembarangan.

Annisa Ayu Pratiwi sedang berjalan kaki, hendak kembali ke indekos. Siang itu, sekitar pukul 12.30, ia baru saja selesai mengikuti mata kuliah Sejarah Militer. Di tengah perjalanan, langkahnya terhenti.

Mahasiswa Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember (FIB UJ) ini melihat beberapa pekerja bangunan membuat pondasi. Pondasi yang terbuat dari campuran batu bata, pasir, dan semen itu menghalangi jalan yang biasa ia lewati untuk ke kampus. Tinggi pondasinya sekitar semata kaki. Kamis itu, 17 Mei 2018, Annisa masih belum tahu, untuk apa gerangan pondasi tersebut.

Jalan yang Annisa lalui adalah jalur yang menghubungkan antara FIB, Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB), dan Bank Jatim. Lokasinya dekat gerbang Selatan UJ yang menjadi jalur keluar satu arah di antara FEB dan Fakultas Hukum.

Jalan setapak tersebut lebih mudah diakses lewat Jalan Jawa. Pedestrian harus melalui gerbang Bank Jatim, kompleks Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) FEB, kemudian melalui jalan setapak di gerbang belakang FIB.

Indekos Annisa berada di Jalan Jawa II. Dengan jalan memotong melalui gerbang Bank Jatim, Annisa butuh kurang lebih 10 menit berjalan santai untuk sampai ke kampus FIB.

Alasan Annisa memilih indekos di Jalan Jawa karena lokasinya dekat kampus. “Karena lebih dekat sama FIB dibandingkan sama kosanku dulu yang di Karimata,” kata Annisa. Sebelumnya ia sempat indekos di Jalan Karimata.

Saya mencoba jalan kaki dari Jalan Jawa II D ke FIB dengan kecepatan tetap. Titik awal dan titik berangkat saya seragamkan. Bila melalui gerbang FIB di Jalan Jawa VII, butuh waktu sekitar 10 menit untuk sampai. Jalur lain, dengan memutari FEB, bahkan butuh waktu lebih lama, sekitar 11 menit. Sementara bila memotong jalan melalui Bank Jatim, hanya butuh waktu tak sampai tujuh menit. Bisa hemat waktu tiga menit bahkan lebih.

infografis derita pejalan kaki

Annisa biasa jalan kaki bersama temannya sesama mahasiswa FIB. Semakin hari Annisa dan teman sesama pedestrian lainnya merasa semakin tak nyaman. Senin, 21 Mei 2018 jalan yang biasa mereka lewati kini dipagar. Annisa mendapati pagar kawat setinggi perut orang dewasa. Pondasi yang Annisa lihat Kamis lalu, ternyata pondasi pagar.

Kini Annisa terpaksa melalui jalan lain. Hanya ada satu jalan yang bisa ia lewati, jalan setapak tepat di samping gedung Bank Jatim. Tanahnya bergelombang, mucul genangan air bila hujan, belum lagi becek dan licin, parahnya jalan itu hanya muat untuk satu orang.

Pagar yang menghalangi pejalan kaki itu ternyata bikinan birokrasi FEB. Saya dan satu reporter IDEAS menemui Dr. Ahmad Roziq, S.E, M.M, Ak., Wakil Dekan II FEB. Roziq bertanggung jawab di bagian sarana dan prasarana. Rabu, 23 Mei 2018, sekitar pukul sembilan ia tak ada di kantornya. Salah satu staf dekanat menyarankan kami untuk kembali lagi pukul 11. Akhirnya kami bertemu Roziq sekitar pukul 11.30. Sayang, ia menolak untuk diwawancarai tanpa memberi alasan jelas.

Roziq menyuruh kami wawancara Dra. Tri Djati Murjani, Kepala Sub Bagian Umum dan Barang Milik Negara FEB. “Itu bagiannya Bu Ani, biar dia yang menjelaskan,” kata Roziq. Ani adalah panggilan akrab Murjani.

Ani baru bisa kami temui pukul 12.20. Ia menerangkan alasan pembangunan pagar agar tak ada lagi yang parkir di area tersebut. Larangan itu juga berlaku untuk mahasiswa FIB. Sudah sejak lama Ani menyuruh stafnya untuk memberi larangan parkir di area itu. Larangan berupa spanduk dari vinil, juga teguran langsung.

Ani dengar banyak kasus pencurian motor di sana. FEB tak bertanggung jawab atas kehilangan tersebut. Namun kasus semacam itu, menurut Ani membuat citra FEB jadi buruk. “Kalau ada kehilangan, yang namanya jelek Fakultas Ekonomi,” ujar Ani. Dengan alasan itu, Ani beserta jajaran dekanat FEB bikin larangan parkir.

Mereka tak melibatkan mahasiswa dalam memutuskan kebijakan. Baik itu larangan parkir, maupun pembanguan pagar. Tak ada sosialisasi. Ani dengan tegas mengatakan bahwa mahasiswa tak memiliki hak apa pun dalam pengambilan kebijakan di fakultas.

Ogak harus sosialisasi ke mahasiswa. Memangnya mahasiswa itu apa? Fakultas yang punya kebijakan terus mahasiswa mengikuti. Aturannya kan begitu,” tutur Ani.

Belum genap sehari usai dibangun, pagar rusak. Ada oknum yang menggergaji kawat pagar. Hal ini membuat Ani geram. “Itu kan sudah anarkis namanya,” tukas Ani. Anarkis adalah orang yang menganut paham penentang kekuasaan dalam bentuk apapun termasuk negara. Ani salah memahami anarkis sebagai tindakan perusakan.

Ani lebih menekankan bagaimana motor tak bisa masuk dan parkir di komplek UKM FEB. Pejalan kaki hanya disediakan jalan sempit di samping Bank Jatim. “Ya kalau pejalan kaki kan jalannya kecil itu. Memang itu diminalkan seperti itu supaya sepeda motor gak bisa masuk. Kalau adik-adik gak dibikin kecil gitu sepeda motor masih bisa masuk, apa gunanya?” kata Ani.

“Pembangunan pagar itu gak ada gunanya,” timpal Aldo Rafa Ibrahim. Aldo senasib dengan Annisa. Ia indekos di Jalan Jawa II G. Sehari-hari jalan kaki ke kampus. Mahasiswa Sastra Indonesia FIB ini terpaksa memanjat pagar agar bisa lewat. Ketika pagar sudah jadi, ia mengira akan ada jalan untuk pedestrian. Ia lurus berjalan menuju pagar. Rupanya jalan untuk pedestrian ada di samping Bank Jatim. Aldo harus putar balik agar bisa lewat. Kuliah sudah hampir mulai. Waktu mepet. Aldo pun melompati pagar.

Rupanya tak hanya Aldo yang lompat pagar. Dua mahasiswa sedang melompati pagar, tepat ketika saya lewat.

Rabu, 23 Mei 2018 mahasiswa hendak melompati pagar agar bisa lebih cepat sampai ke kampus Universitas Jember. (Foto: Rosy/IDEAS)

Beberapa mahasiswa lain memilih jalan yang lebih jauh, yaitu lewat gerbang FIB di Jawa VII atau memutari FEB. Seperti Siska Ayu Kartika, mahasiswa Sastra indonesia. Ia kerap melalui Jawa VII, meski kalau malam jalan itu sepi dan minim penerangan. Sementara bila ingin cepat, ia akan lewat Bank Jatim, dengan konsekuensi harus lebih hati-hati. “Harus hati-hati lewat situ. Dan lebih enak lewat situ sih soalnya menurutku lebih cepat juga,” ucap Siska.

“Yang jadi masalah, membatasi ruang gerak kita ketika jalan aja sih, yang tadinya jalannya lebar sekarang malah agak sempit,” tambah Annisa.

Annisa merasa akses untuk ke kampus semakin terbatas. Pejalan kaki harus berjalan lebih jauh, sementara ketika pengendara motor parkir sembarangan, pejalan kaki menjadi korban. Awal pembuatan gerbang di belakang FIB juga karena pengendara motor tak parkir di tempat yang disediakan. Pejalan kaki hanya diberi jalan setapak dari semen di pinggir gerbang, tepat di atas selokan, tanpa pegangan, tanpa pengaman.

Udah sering becek, sempit, terus kadang ada semak belukarnya juga. Apalagi kalau pas malam hari gitu,” keluh Annisa.

Selama musim hujan, Annisa pakai sepatu karet saban ke kampus. Jalan di antara Bank Jatim, FEB dan FIB sering tergenang air hujan. Pernah celana yang ia kenakan kotor kena lumpur ketika lewat situ. Bila malam tiba, tak ada lampu penerang jalan. Perdu juga tak mau kalah untuk menghalangi langkah pedestrian.

Dari ketidaknyamanan itu, Annisa mempertanyakan kembali pembangunan di UJ. Ia merasa birokrat UJ hanya mementingkan citra almamaternya. Hak mahasiswa pejalan kaki tidak diperhatikan. “Menurutku pihak-pihak terkait itu lebih mengutamakan prestise, mungkin biar lebih dipandang bagus lagi,” kata Annisa.

“Bahkan menurutku pembangunan teras depan FIB itu kayak gak ada manfaatnya gitu,” tambahnya. Teras yang Annisa maksud adalah teras gedung dekanat FIB. Teras tersebut tidak rusak, tapi pihak FIB merombaknya dengan menambah tiang, atap, keramik, dan dicat ulang.

Pembangunan itu tak imbang dengan derita pedestrian. Pedestrian hanya punya jalan setapak yang jauh dari layak. “Ya paling tidak disediakan fasilitas yang lebih nyaman lagi buat pejalan kaki. Kalau gak gitu disediakan jalan yang khusus bagi mahasiswa yang jalan kaki menuju ke fakultasnya masing-masing,” harap Annisa. Pejalan kaki mendambakan akses yang nyaman dan cepat menuju ke kampus. []