Menggurat Visi Kerakyatan

Pertunjukan Teater Persinggahan Memori Mendapat Apresiasi Dari Penonton

711

Pertunjukan teater Persinggahan Memori yang disutradarai oleh Anwari, pada Jumat lalu (25/5) mendapatkan apresiasi dari penonton. Diana Purnawati, mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember (FIB UJ), mengungkapkan bahwa konsep teater ini menarik baginya. “Bagiku, teater ini dari segi panggung sangat sederhana, lighting yang cukup dan menggunakan benda-benda yang mudah dicari di sekitar kita, lalu kursi yang dijadikan pentas, letak penonton yang ada di wilayah panggung. Mereka bisa mengondisikan itu,” jelas Dian.

Pada awalnya, Dian tertarik untuk menyaksikan teater ini karna disutradarai oleh pemain teater yang sudah berpengalaman. Setelah menonton pementasan ini ia mengaku terhibur. Anwari merupakan salah satu pegiat teater yang mendunia. Dia pernah memperoleh penghargaan Hibah Kelola Karya Inovatif dari Yayasan Kelola dan merupakan salah satu dari 13 seniman yang tergabung dalam salah satu komunitas teater di Jepang, yakni Suzuki Company of Toga (SCOT).  “Saya tertarik karena teater ini disutradarai oleh pemain yang terkenal,” ungkapnya.

Selain itu, salah satu yang menjadi pusat perhatian Dian adalah aktor yang menari di atas kayu panjang. ”Aktor yang sangat menarik adalah Chindy, dimana dia memiliki gerak yang lentur, sangat teratur, dan bisa membuat penonton itu takjub,” jelasnya.

Apresiasi lain juga datang dari Dewi Elvira Liana, mahasiswi Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi. Ia hadir bersama rekannya. Mereka aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa Teater Bhineka 45 sengaja datang untuk menambah ilmu dan pengalaman. Menurut Dewi, dari segi model pementasan, teater semacam ini sudah banyak ditampilkan sebelumnya, hanya saja pada teater ini memiliki konsep naskah yang berbeda, bukan buatan sutradara atau menyadur naskah lain, melainkan naskah diambil dari pengalaman masing-masing aktor.

Dewi juga mengkritisi tentang penampilan para aktor tidak semaksimal dengan teori dan referensi yang ia dapat. Namun menurutnya, para aktor mampu menjaga konsentrasi dan dapat mengkondisikan suasana ketika ada kesalahan dialog atau adegan. “Mereka sudah  mampu menguasai apa yang sudah mereka latihkan,  jadi hasil latihan mereka bener-bener dimaksimalkan ketika pementasan itu, seperti ada miss-miss mereka abaikan,” ungkapnya.

Dewi sepakat dengan pernyataan Anwari bahwa apapun bisa diangkat menjadi teater dan siapapun dapat berteater tanpa memandang latar belakang dan profesinya. Hal ini disampaikan pada forum diskusi dan apresiasi.

Forum tersebut dilaksanakan setelah pementasan teater selesai. Forum ini dihadiri oleh mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi lain seperti Politeknik Negeri Jember, Institut Agama Islam Negeri Jember, Universitas 17 AGUSTUS 1945, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Selain menjadi penonton, mereka juga ikut berpatisipasi dalam memberikan pendapat-pendapatnya terkait dengan pementasan ini dan saling berbagi pengalaman perihal pementasan teater.[]