Menggurat Visi Kerakyatan

Teater Salbhi, Gambaran Kehidupan Kampus dan Cerita Cinta

1.007

Pementasan teater berjudul Salbhi garapan Alan Adma Wiranata,  menuai beragam apresiasi dari penonton. Salah satu tanggapan muncul dari Titis Rizka Yusnita, mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember (FIB UJ). Baginya, teater Salbhi menceritakan kehidupan kampus.

Titis penasaran dengan arti dan makna judul teater ini. “Pertama judulnya, itu enggak ngerti artinya apa, jadi tambah penasaran, terus kedua karena lebih banyak temen seangkatan yang tampil, jadi pengen tahu,” kata Titis. Ia berangkat jalan kaki dari Sekretariat Unit Kegitan Mahasiswa Pramuka ke PKM untuk menonton teater ini.

Meski begitu, bagi Titis menonton teater milik Imasind ini menjadi sebuah kewajiban sejak ia masuk jurusan Sastra Indonesia pada 2016. “Bagiku sendiri semenjak masuk sastra, kalau ada pertunjukan Teater Dua II sama Teater Akbar itu kayak udah wajib nonton, apapun judulnya,” kata Titis. Teater Dua II yang ia maksud, merupakan mata kuliah wajib bagi mahasiswa Sastra Indonesia yang memilih konsentrasi sastra.

Sebelum acara mulai, terdapat dua orang mahasiswa yang sedang memainkan musik mengawali acara. Sekitar pukul 19.50 pintu gedung PKM baru dibuka. Antrian panjang penonton memenuhi pintu masuk. Titis juga termasuk dalam kerumunan bersama dua orang kawan laki-lakinya.

Satu jam kemudian teater selesai, penonton menyambutnya dengan tepuk tangan. Panitia mengajak penonton dan para aktor untuk membentuk lingkaran dan memulai diskusi. Titis masih merasa bingung usai menonton teater Salbhi. “Ketika ending itu enggak sadar juga, kalau udah selesai,” ujar Titis. Ia baru sadar teater telah usai, saat panitia yang ada di belakang penonton bertepuk tangan.

Mulanya, Titis memaknai pementasan Salbhi sebagai hal yang biasa terjadi dalam kehidupan di kampus. Seperti menunggu dosen. ”Beberapa ya misalnya, nyari DPA (Dosen Pembimbing Akademik), nunggu dosen,” tuturnya. Anggapan ini merujuk pada salah satu adegan ketika Nando  Zikir sedang berdialog dengan Fahrudin Lengga Pradana perihal menunggu dosen.

Titis ingat pernah membuat janji dengan dosen pembimbingnya pada pukul 09.00. Namun hingga pukul 14.00, dosen pembimbingnya tak kunjung datang. Akhirnya Titis pulang. Satu jam kemudian dosen pembimbing ini menghubungi Titis, menyampaikan bahwa ia sudah di kampus.

Dirinya baru memahami arti kata berantakan pada pementasan Salbhi ini usai diskusi bersama sutradara dan para aktor. Apa yang dimaksud Alan mengenai berantakan selaras dengan yang Titis bayangkan. Ia menyimak percakapan antara sutradara, pemain dan penonton. ”Intinya, kadang kala hidup itu terbangun atas ketidakteraturan yang selalu coba disempurnakan oleh pemiliknya,” katanya.

Titis juga menyampaikan bahwa pada dasarnya karya sastra ditampilkan, tidak membatasi penonton untuk memahami isi cerita pada setiap pertunjukan teater. Penonton memiliki andil terbesar dalam menyimpulkan suatu karya. ”Penonton merupakan interpreter terliar,” tambahnya.

Interpreter yang Titis maksud adalah orang yang memberi pandangan atau pendapat pertunjukan teater. Sedangkan yang dimaksud terliar oleh Titis yakni penonton bebas untuk berpendapat atau berpandangan mengenai karya sastra.

Penonton lainnya yang masih bertahan hingga sesi apresiasi, yakni Laili Nafis atau biasa disapa Laili. Ia mahasiswa Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Saat apresiasi berlangsung, ia sempat menyampaikan kebingungannya akan teater tersebut.

Laili awalnya mengira cerita dari teater ini berjenis horor karena melihat judulnya. ”Jujur, saya pikir dari judulnya horor,” kata Laili.  Namun ketika menonton pertunjukan, Laili menyangka teater ini tentang sebuah kisah cinta. Ada satu kalimat yang melekat di benak Laili. Nando yang berperan sebagai Alan di masa sekarang, mengucapkan kalimat itu berulang-ulang. “Jika jadi kekasihmu, hanya menjadi beban diperantauanmu”.

Sama halnya dengan Titis, Laili juga sempat bingung dengan alur cerita Salbhi. “Properti yang digunakan kayak gitu itu, ini maknanya apa. Saya masih berfikir ini, apa tujuannya dan kayak apa gerakan-gerakannya,” ungkap Laili. Properti yang ia maksud yaitu, tong, bambu, kandang ayam bahkan lengkap dengan ayamnya.

Meski begitu Laili tetap mengapresiasi pertunjukan teater ini. Ia mengartikan berantakan bukan dari bentuk fisik saja. Menurutnya berantakan bisa saja dalam pikiran. Saat pikiran berantakan, ia bisa saja tersenyum layaknya orang yang sedang bahagia di hadapan orang lain.

Satu hal lagi yang Laili dapat pada pementasan teater kali ini. Setelah mendengarkan beberapa bentuk apresiasi oleh beberapa orang di dalam sesi tersebut. Ia sepakat mengenai pemahaman bahwa sebuah pementasan teater tidak harus mengikuti maksud sutradara. Melainkan kebebasan penonton dalam menyimpulkan isi pementasan teater.[]