Menggurat Visi Kerakyatan

Memberantakkan Aktor Melalui Laku Kreatif Pementasan Salbhi

1.080

Ikatan Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia (Imasind) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember (FIB UJ) menyelenggarakan pementasan Teater Akbar. Teater Akbar yang berjudul Salbhi tersebut disutradarai oleh Alan Adma Wiranata. Di balik pementasan Salbhi terdapat proses yang panjang. Alan dan semua yang terlibat di teater akbar mengalami banyak hal dalam penggarapan naskah, keaktoran serta proses produksi teater ini.

Naskah Salbhi merupakan karya Alan yang berarti berantakan. “Salbhi dari bahasa daerahku Bondowoso, bahasa Madura tapi itu hanya istilah yang sering dipakai. artinya salbhi ini kayak kacau, berantakan, nggak karauan,” ungkap Alan, usai mementaskan naskahnya di gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM UJ) pada Jumat (14/9).

Salbhi menggambarkan problematika kehidupan Alan di masa lalu. Baik itu tentang asmara, keluarga, maupun ketidakseimbangan antara keinginan dan kebutuhan Alan, serta benturan-benturan yang ada di lingkungannya. Akibat dari berbagai problematika tersebut, Alan merasa berada pada kondisi berantakan. Ia merasa apa yang menjadi keinginannya tidak sejalan dengan nilai yang dipegang oleh orang di sekitarnya. Alan kemudian menuangkan pengalamannya tersebut ke dalam Salbhi.

Alan mengaku bahwa penulisan naskah dimulai tepat seminggu sebelum pementasan Salbhi. Sedangkan selama latihan ia hanya menyampaikan gagasan-gagasan alur cerita yang akan dimainkan oleh para aktor. ”Naskah kebentuknya setelah gagasannya terbentuk, awalnya nawarin gagasan bukan naskahnya. Dialog belum tertulis. Dialognya dari aku, cuma ada beberapa bagian yang diimprove,” jelas Alan.

Alan sengaja membuat naskah Salbhi setelah aktor menjalani proses latihan, karena ia ingin melakukan sebuah eksperimen pada teater garapannya. “Teater eksperimen, jadi nggak kayak teater sebelumnya yang harus ada naskah dulu baru dibikin proses latihannya gitu. Aku malah proses latihannya dulu, naskah belum ada, gagasan ada,” ungkap Alan.

Dalam proses latihan, Alan mengaku kesulitan menyampaikan gagasan kepada aktor. Ia menilai bahwa aktor belum merasakan apa yang ia alami. “Prosesnya lumayan berat. Soalnya aktor di sini belum menerima penuh apa yang aku kasih,” kata Alan.

Untuk menyiasati kendala tersebut, Alan berusaha mencari metode yang tepat untuk latihan aktor. Agar aktor bisa menjiwai perannya, Alan menerapkan beberapa aturan kepada aktor. Misalnya, aktor dilarang menghubungi orangtua dan kekasihnya selama beberapa minggu. Alan menilai metode ini berhasil, karena ia melihat saat latihan fisik pikiran para aktor jadi semakin fokus. ”Metodenya cukup berat. Aktor ini kan masih tertata, jadi aku cari celah-celah biar aktor istilahnya keciprat berantakan. Biar ketika masuk dalam pementasan benar-benar ngerasain. Jadi bukan ke fisik tapi ke batinnya, pikiran,” jelas Alan.

Ada enam aktor yang berperan dalam pertunjukan Salbhi. Masing-masing aktor mewakili hal yang berbeda dari diri Alan. Gio Galaxi menggambarkan masa lalu Alan, Nando Zikir mewakili Alan di masa sekarang, dan Lengga Fahruddin merupakan gambaran keinginan Alan di masa depan. Sedangakan Ayu Wulandari merupakan perempuan yang mewakili penggambaran seorang kekasih, Siti Komaria dan Diana Purnawati menggambarkan sebagai bahasa-bahasa atau pendapat-pendapat di luar diri Alan. ”Si Gio menceritakan masa laluku, Nando menggambarkan aku sekarang, Lengga mengagambarkan keinginanku di masa depan, terus aku jadikan satu,” ungkap Alan.

Alan menilai bahwa pertunjukan Salbhi sudah sukses. Bagi Alan, kesuksesan suatu pertunjukkan bukan diukur dari seberapa banyak penonton yang datang, namun bagaimana penonton mampu menangkap apa yang ingin ia sampaikan melalui pertunjukan Salbhi.  “Ya menurutku berhasil soalnya di apresiasi kemarin kan ada penonton yang merasa oh iya aku pernah mengalami kayak gini,” ungkap Alan.

Imasind menggelar Teater Akbar satu kali dalam setahun karena Teater Akbar memang merupakan program kerja (Proker) tahunan. “Teater akbar ini salah satu program kerja dari divisi laku kreatif di Imasind, nah acara ini program tahunan kita emang,” jelas Ajeng Yuditya selaku produser.

Tahun ini sebanyak 257 tiket Teater Akbar yang terjual. Ada yang unik dalam Teater Akbar kali ini, panitia menyediakan segelas coklat hangat dan sebungkus roti untuk penonton. ”Ya tujuannya untuk menambah kenyamanan penonton aja selama pertunjukan berlangsung, itu kan malam juga jadi kayaknya enak kalau dikasih coklat hangat,” ungkap Ajeng.

Persiapan Teater Akbar membutuhkan waktu selama dua bulan setengah dimulai dari pembentukan kepanitiaan, latihan, hingga pementasan. Kepanitiaan Teater Akbar tidak hanya melibatkan pengurus dari Imasind, tapi juga mengikutsertakan mahasiswa angkatan 2017 supaya mahasiswa angkatan 2017 memahami proker-proker yang terdapat di kepengurusan Imasind. ”Di Teater Akbar ini kepanitiaannya nggak cuma pengurus aja tapi dari temen-temen angkatan 2017 ikut berberpartisi. Kalau persiapannya mulai akhir-akhir bulan Juni itu,” ungkap Ajeng.

Ajeng mengaku bahwa pencarian properti merupakan salah satu kendala dalam kepanitian Teater Akbar. Dalam Teater Akbar tahun ini terdapat berbagai macam properti di atas panggung, seperti tong, bambu, dan kurungan beserta ayam jago. Selain itu, lamanya proses surat menyurat di birokrasi FIB juga menjadi kendala lain dalam kepanitian Teater Akbar. “Kendalanya kadang itu misal kita butuh surat, tapi lama prosesnya karena kan orang-orang di atas nggak gampang ditemuinya, dan juga kendalanya ngumpulin properti,” jelas Ajeng.

Ajeng berharap dengan adanya Teater Akbar tahun ini dapat menambah ketertarikan mahasiswa terhadap teater. ”Semoga di tahun depan dengan meningkatnya minat orang-orang melihat teater ini, semoga penerus-penerusnya kita juga bisa lebih tertarik dengan teater,”kata Ajeng.[]