Menggurat Visi Kerakyatan

Memanfaatkan Ruang, Gelanggang Gelar Teater dalam Rumah

2.100

Komunitas Gelanggang kembali menggelar pementasan teater. Acara tersebut berlangsung selama tiga hari berturut-turut, yakni tanggal 17,18, dan 19 September 2018, dengan judul Teater Aporia. Acara ini diselenggarakan untuk memperingati tiga tahun berdirinya komunitas Gelanggang. Kali ini mereka menggelar teater di dalam ruang, yakni di Rumah Gelanggang.

Aporia adalah sebuah keadaan psikologis di mana seseorang merasakan kekosongan yang mendalam setelah mengetahui apa yang dipercayai tidak benar. Dari pementasan Aporia ini, Ahmad Shidiq Putra Yuda selaku sutradara ingin menunjukkan bahwa teater bisa bergerak di mana saja, tidak hanya di panggung.

Lokasi teater kali ini, merupakan sebuah rumah yang Gelanggang sewa tiga bulan lalu, berukuran 8×6 meter. Ada dua kamar tidur, satu kamar mandi, dapur dan tangga menuju ke atap. Yuda mengaku ingin memanfaatkan ruang yang mereka miliki untuk dijadikan tempat pementasan. “Aku memanfaatkan ruang rumah, ya bisa dikatakan ini rumah bagi Gelanggang,” jelas Yuda.

Pada malam itu, penonton memasuki tempat manapun dalam ruangan. Boleh berdiri atau duduk. Ada yang duduk di bawah tangga, sebelah dapur, dekat lighting, dan berdiri di salah satu sudut ruang.

Bagi Yuda, menyutradarai teater dalam ruang menjadi tantangan tersendiri dan merupakan pengalaman pertama baginya. “Lebih menantang daripada panggung kotak gitu, itu jadi kerja lain bagiku untuk penyutradaraan, karena belum pernah nyutradaraain ruangan seperti ini,” kata Yuda.

Yuda mengungkapkan bahwa proses latihan teater ini berjalan selama satu bulan. Awalnya Yuda menjadwalkan waktu latihan pukul 15.00 sampai 18.00, namun jadwal pribadi para aktor tidak dapat diseragamkan. Hal tersebut tidak menjadi kendala baginya. Aktor mulai bisa latihan pukul 22.00 hingga subuh, sehingga waktu latihan yang kondusif dapat memunculkan inspirasi dalam adegan. “Karena aku jadwalin jam tiga sampai jam enam malem latihan, mereka bisanya jam sepuluh, oke, sampai subuh, jadi itu menjadi penolong, inspirasi buat adegan,” jelasnya.

Selama proses latihan, aktor tidak diberi naskah, Yuda hanya memberi satu kata aporia, kemudian mengajak aktor untuk  mendalami bersama. Aktor mengimplementasikan kata tersebut pada peran yang mereka tampilkan. “Aktor  tidak ku kasih naskah, aktor aku kasih satu bahasa aporia, yuk kita googling bareng, terus kita sobek-sobek, kita kupas, akhirnya aktor bisa kritis terhadap dunia sendiri,” terang Yuda.

Para aktor mementaskan pertunjukan secara berulang selama tiga hari. Penonton untuk setiap malamnya 20 orang. Tiket dijual dengan harga Rp 20.000. Afif Jauhari Asihanang alias Pepe selaku  pimpinan produksi  mengaku mengalami kesulitan dalam penjualan tiket. “Kendalanya pertama julalan tiket, karena dengan dua puluh ribu itu dan konsumen kita kebanyakan mahasiswa,” tukas Pepe.

Pepe juga menjelaskan bahwa Gelanggang sebagai komunitas independen tidak dinaungi institusi manapun. Sehingga pendanaan menjadi salah satu kendala yang dialami. “Kita komunitas di luar kampus, tementemen anak kampus semua, biasanya kalau ngadain acara ngajukan proposal dulu, kalau di sini kita gak ada” ujarnya.

Selain itu ia juga menjelaskan bahwa lokasi teater yang terletak di sekitar rumah warga menjadi kendala saat pementasan. “Kalau di kampus sudah ijin dari pusat,  misal PKM mau dipakai sampai malam rame-rame gak apa. Ini tadi aja pas pertunjukan sudah ada peringatan karena kondisinya di kampung bukan di kampus,” jelasnya.

Meskipun mengalami berbagai kendala, pementasan Aporia tetap diminati penonton.  Bahkan di hari terakhir, penonton masih datang meskipun hujan deras. Walau sempat mengalami penundaan, pertunjukan teater tetap terselenggara.

Pepe berharap, pada perayaan tiga tahun berdirinya Gelanggang, komunitas ini bisa panjang umur dan terus beregenerasi. “Panjang umur dan punya anak cucu gitu,” Jelas Pepe.[]