Menggurat Visi Kerakyatan

Teater II Sastra Indonesia, Berproses Lewat Sebuah Karya

881

Mahasiswa jurusan Sastra Indonesia 2015 konsentrasi sastra Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember (FIB UJ), menggelar pertunjukkan Teater II berjudul Mega-mega karya Arifin C Noer. Teater tersebut diselenggarakan di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) pada Rabu (16/05) guna memenuhi tugas mata kuliah Teater II.

Naskah Mega-mega menceritakan tentang kehidupan masyarakat miskin seperti, pengemis, pelacur, jambret dan bandit yang hanya bisa berangan-angan tanpa bisa mendapatkan keinginannya. Dalam dunia mereka impian menjadi satu-satunya kenyataan hidup.

Salah satu tokoh yang berpengaruh dalam cerita ini adalah Koyal yang diperankan oleh Prasta Aditya. Ia mengajak kawan-kawannya untuk bermimpi dan bersenang-senang dalam mimpinya. Selain Koyal, ada Mak’e yang diperankan oleh Fiezu Himmah, Panut oleh Ardhiansyah Roufin, Retno oleh Hanum Suciati, Tukijan oleh Reza Tama serta Hamung oleh Meriady W.S.

Reza Tama selaku pimpinan produksi mengungkapkan bahwa tujuan diselenggarakannya Teater II ini bukan semata-mata untuk mendapatkan nilai dari mata kuliah, melainkan sebagai wadah dirinya dan teman-teman sesama pengampu Teater II untuk berposes dalam bentuk penggarapan teater. “Kami di sini tidak memerlukan nilai, nilai nomer sekian. Yang lebih utama kita berproses. Bagaimana cara kita menggarap sebuah teater dari nol,” ungkapnya.

Proses penggarapan yang singkat dan kurangnya sumber daya manusia, menjadi tantangan saat proses produksi Teater II ini. “Sebenarnya waktu penggarapannya cuma satu setengah bulan, setting panggung cuma satu hari, dan kita kekurangan orang.” Terang Reza, mengingat jumlah mahasiswa yang mengikuti mata kuliah Teater II hanya 15 orang.

Tiket masuk Teater II kali ini dibandrol dengan harga Rp.15.000 berbeda dengan tahun sebelumnya yang hanya Rp.10.000. Saat  ditanya mengenai tiket masuk yang lebih mahal dibandingkan tahun 2017, Reza menampik bahwa hal itu ada hubungannya dengan kurangnya finansial tim Teater II. “Jadi, mahalnya harga tiket itu hanya sebuah penghargaan. Kita mencoba menaikkan penghargaan kita pada sebuah seni, menaikkan derajat teater itu sendiri,” terang Reza. Menurutnya, di Jember harga tiket teater sangat rendah dibanding kota-kota lain seperti Surabaya, Jogja, Semarang dan Jakarta yang berkisar Rp. 35.000 ke atas. “Di Jakarta, lima puluh ribu itu paling murah,” lanjutnya.

Reza juga mengungkap harapannya untuk Teater II tahun depan agar lebih sukses dari tahun ini. “Harapanku untuk Teater II tahun depan lebih sukses. Kita punya definisi sukses masing-masing, pokoknya lebih dari tahun ini, lebih maksimal dari ini, lebih segalanya dari ini. Dan yang penting itu membuat penonton puas,” harap Reza.

Sony Supiyanto Prasetyawan, mahasiswa dari jurusan Ilmu Sejarah FIB UJ berpendapat bahwa harga yang dibandrol cukup seimbang dengan pementasan yang disajikan. Sebagai penonton ia juga mengakui bahwa lamanya durasi taeter sama sekali tidak begitu terasa karena pengemasan tampilan yang tertata dengan baik dan menghibur. “Gak membuat orang lain bosan. Meskipun berlama-lama, gak ingin meninggalkan tempat,” ungkapnya.

Sony juga menyampaikan kritik alangkah lebih baiknya jika panggung lebih tinggi agar penonton yang di belakang dapat memahami keseluruhan cerita. []