Menggurat Visi Kerakyatan

Mega-Mega, Potret Kemiskinan di Tahun 60-an

609

Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember  (FIB UJ)  angkatan 2015, menyelenggarakan  agenda tahunan yaitu pertunjukan teater yang berjudul Mega-mega. Teater ini disutradarai oleh Alan Adma Wiranata dan diselenggarakan di gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM)  pada Rabu (16/5).

Alasan dipilihnya naskah dari Arifin C. Noer ini karena naskah bercerita mengeni fenomena kemiskinan yang terjadi padah tahun 1967. Sutradara ingin menampilkan sebuah pembelajaran hidup yang baru melalui teater ini. ”Aku ingin hal yang belum pernah kita sentuh, kemiskinan kan ceritanya. Itu kan berbeda dengan teater sebelumnya, kalau di naskah mungkin kita nggak merasakan ya, jadinya harus melalui jalan yang baru,” ungkap Alan.

Alur cerita naskah Arifin C. Noer yaitu tentang sebuah masyarakat kelas bawah  yang memilliki harapan atau keinginan serta mimpi untuk menjadi orang kaya. “Menceritakan tentang kehidupan  orang-orang  kelas bawah seperti kemiskinan pelacur,  jambret, copet terus bandit gitu ya, tapi disitu mereka punya latar belakang  yang bikin mereka bingung, aku tidak pernah mendapatkan keinginanku,” jelasnya.

Alan selaku sutradara mengaku bahwa acara pementasan teater dua ini merupakan sebuah tradisi yang harus dilaksanakan oleh mahasiswa Sastra Indonesia. ”Sebenarnya Teater II ini adalah mata kuliah yang ditempuh di Sastra Indonesia, pementasan teater ini memang tiap tahun tetapi juga merupakan tradisi,” ujar Alan.

Dalam proses pemilihan pemeran, sutradara memilih berdasarkan kecocokannya dengan karakter dalam naskah. Setelah terpilih, mahasiswa akan ditanya mengenai ketersediannya dalam memerankan tokoh yang diinginkan sutradara. “Jika sutradara merasa cocok, kemudian ditanya bersedia atau tidak untuk jadi aktor dengan komitmen yang telah disepakati bersama antara sutradara dan para aktor,” jelas Alan.

Alan juga mengutarakan harapannya kepada mahasiswa angkatan selanjutnya agar tetap menjaga solidaritas dan dapat berproses bersama. ”Tetep solid ya, karena setiap angkatan pasti merasakan. Karena bagi yang menempuh  sastra, setiap angkatan pasti merasakan Teater II. Jadi, harapanya temen-teman bisa benar-benar merasakan prosesnya,” ujar Alan.[]