Menggurat Visi Kerakyatan

Sering Jadi Ruang Untuk Mengkritisi Kampus, Kantin Sastra Akhirnya Ditutup

137

Penutupan kantin Fakultas Sastra, Universitas Jember (FS UJ) sejak beberapa bulan lalu menimbulkan pertanyaan di kalangan mahasiswa. Obrolan antar mahasiswa pun meluas hingga dugaan kesengajaan menghilangkan ruang publik yang menjadi pemantau kebijakan dekanat selama ini, sebagai alasan penutupan kantin.

Hal ini diungkap Ahmad Fais Ali Perdana, mahasiswa Sastra Indonesia. Faiz juga mengakui bahwa memang sering sekali muncul gagasan kritis dari mahasiswa dan dosen ketika berkumpul di kantin sastra.  “Sepemahaman saya, orang-orang atas (Dekanat) bilangnya terjadi fitnah. Kantin yang lama ini tempat revolusi, gitu ya. Kantin ini bisa dikatakan sebuah tempat untuk berevolusi.” kata Faiz.

Namun berawal dari dugaan tersebut, kata Faiz, akhirnya ada yang menyebut kantin sastra kerap menjadi tempat mengumbar fitnah terhadap kebijakan kampus. “Akhirnya dikatakan timbul fitnah. Fitnah tentang dosen, tentang mahasiswa, relasi dengan dosen dengan mahasiswa itu. akhirnya (kantin) dirombak.”

Sementara itu, Pramoedya Ardi Krishna, mahasiswa Sastra Inggris membenarkan adanya kabar tersebut. “Iya aku denger juga. Salah satu alasan kantin ditutup karena kantin dianggap sebagai tempat melakukan suatu gerakan massa atau apalah namanya, untuk mengkritisi Dekanat. Seperti dosen ngasih tahu mahasiswa, lalu mahasiswanya ikut mengkritisi. Ya, denger-denger kan dekanat sekarang antikritik,” tutur Krishna.

Namun dugaan tersebut dibantah Pembantu Dekan II (PD II) FS UJ Dr. Latifatul Izzah, M.Hum. Dalam wawancaranya dengan awak Ideas.id (Baca: Soal Penutupan Kantin Sastra, Ini Alasan PD II Fakultas Sastra Universitas Jember)

Tidak aneh jika sebagian mahasiswa berfikiran demikian. Selain tidak ada penjelasan terkait penutupan kantin dari pihak dekanat, kantin memang menjadi tempat favorit kalangan akademisi dari mahasiswa, karyawan dan dosen. Seperti dikatakan Bob Hasan Bisri, pegawai administrasi Jurusan Sastra Inggris. “Kantin menjadi salah satu tempat favorit sebagai ruang publik,” kata Bob.

Selain itu menurut Bob di kantin biasa dijadikan tempat ngobrol santai hingga diskusi, “Kadang ngobrol serius, kadang tidak kadang menyinggung soal kepemimpinan dari RT, RW, Bupati, Dosen Pembimbing, Combi, Dekanat bahkan perpolitikan maupun kepresidenan baik dulu maupun hasil pemilu kemaren. Banyak laaah,” kenangnya.*

 

Penulis: Nurul Aini