Menggurat Visi Kerakyatan

Layar Kemisan, Memberi Ruang Disribusi Film Indie

73

Layar kemisan kembali membuka layar di halaman tengah Fakultas Sastra Universitas Jember (FS UJ) pada kamis malam (25/09). Edisi september ini giliran film-film sineas Jogja yang tergabung dalam komunitas Layart Kaca disuguhkan kepada penonton. Pemutaran film ini sekaligus sebagai roadshow Layart Kaca. Elmi Auliya Bayu Purna, Direktur Layar Kemisan menjelaskan awal kerja sama dengan Layart Kaca, “Temen-temen Layart Kaca punya roadshow namanya Roadshow Suka-Suka. Mereka menghubungi Pak Deni dan Pak Deni menghubungi Layar Kemisan. Terjadilah Layar Kemisan edisi Jogja.”

Roadshow ini merupakan upaya Layart Kaca mendistribusikan film mereka yang awalnya merupakan tugas mata kuliah di Intitut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta. Hal ini dijelaskan Amirulloh Nuri Anom sutradara film Selaras, “Film-film ini kan tugas ya, biasanya tugas selesai cuma disimpan. Sayang kan, kenapa nggak ditontonkan ke orang lain, sekalian kita bisa sharing agar bisa mempebaiki karya selanjutnya.”

Upaya pendistribusian merupakan bagian penting dari kerja film maker, khususnya film indie untuk menemui pasarnya sendiri. Seperti dijelaskan Elmi “Ditribusi film itu bisa dikatakan sangat penting sekali. Biar bisa ketemu sama penonton, biar banyak yang mengapresiasi juga.” Ia menambahkan hal tersebut merupakan salah satu tujuan Layar Kemisan, memberi ruang  film indie sampai ke publik.

Ada empat film indie dalam pemutaran Layar Kemisan kali ini antara lain On the Way karya Jeihan Angga, Tengah karya Rizky HK, Selaras karya Anirullah Nuri Anom dan Macapat karya Olivia. Selain empat film indie tersebut Layar Kemisan dan Layart Kaca menyuguhi tiga film dokumenter berjudul Kampung Cyber karya Siti Suhada dan Film Sujud Kendang karya Morced dan Jazz Mben Senen karya Adiya Chandra.

Berbeda dari pemutaran sebelumnya kali ini lebih istimewa karena film maker-nya turut hadir. Kehadiran film maker membuat acara apresiasi berlangsung dengan antusiasme yang besar dari para penonton. “Apresiasi semalem peserta terlihat lebih antusias, mungkin karena bisa mengapresiasi langsung dengan pembuat film,” tutur Elmi. Amirullah pun merasa tekesan dengan apresiasi peserta diskusi, “Sangat terkesan dengan apresiasi kawan Jember, saya belum tahu di kota-kota lain. untuk kota awal ini bagus sekali”

Dalam acara yang memiliki slogan Mari Mengenal, Menonton, dan Diskusi Film kali ini tidak hanya menampilkan pemutaran film, ada pula pembacaan puisi bejudul Apakah Pendidikan oleh Abdul Gani dijeda pemutaran film.*

 

Penulis: Nurul Aini