Menggurat Visi Kerakyatan

Refleksi Kasus Agraria Melalui Panggung Solidaritas Petani Temon

205

Berbagai tanggapan muncul dari para penonton usai pemutaran film dokumenter dalam acara Panggung Solidaritas guna membantu petani di Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Satria Yudanegara, mahasiswa Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember (FIB UJ) mengungkapkan bahwa, usai menonton film dokumenter, dirinya menjadi sadar bahwa di Indonesia masih terdapat penyelewangan hukum. “Negara ini masih menggunakan cara represif untuk mecapai suatu tujuan,” ungkapnya.

Film dokumenter tersebut menampilkan perjuangan petani dan warga Temon dalam mempertahankan lahan miliknya. Film yang diputar oleh Aliansi Perpustakaan Jalanan Jember ini, juga menampilkan tindakan pemerintah Indonesia yang mendukung PT. Angkasa Pura I guna pembangunan bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA).

Bagi Satria, kasus yang menimpa petani Temon juga sangat memprihatinkan. Aparatur negara  yang terdiri dari polisi dan tentara dengan sewenang-wenang membabat habis lahan petani yang berada di Temon. “Mereka mencabut paksa meteran listrik, menjebol pintu-pintu rumah, memaksa warga untuk menjual tanahnya yang notabene mereka enggan, menunjukan sebuah kesewenangan yang ditunjukkan oleh para pemangku kebijakan,” imbuh Satria.

Kurang lebih terdapat puluhan mahasiswa yang hadir. Mahasiswa dari Institut Agama Islam Negeri Jember, Politeknik Negeri Jember Universitas Islam Jember dan Universitas Muhammdiyah Jember juga datang memenuhi halaman FIB UJ. Tak hanya itu, berbagai komunitas di Jember turut hadir meramaikan acara ini.

Satria berharap setelah acara panggung solidaritas ini, penegak hukum di Indonesia memberi keadilan terhadap kejadian yang menimpa petani di Temon Kulon Progo, Yogyakarta. “Semoga kasus sengketa agraria ini menjadi yang terakhir di Indonesia. Jika Indonesia mengaku sebagai negara hukum maka hukum harus benar-benar ditegakkan tanpa pandang bulu,” tegas Satria.[]