Menggurat Visi Kerakyatan

Nararya Sanggramawijaya: Jawaban dari Sebuah Tantangan Mementaskan Teater Kolosal

210

Mahasiswa jurusan Sastra Indonesia 2016 kosentrasi sastra Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember (FIB UJ) mengadakan pementasan teater II di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM UJ) pada Sabtu (23/06). Sekitar pukul 20.10 WIB penonton sudah mulai memasuki tempat pementasan melalui pintu samping Gedung PKM. Aroma dupa mulai tercium ketika memasuki ruangan dan kelopak bunga mawar berserakan di lantai tempat penonton duduk.

Nararya Sanggramawijaya merupakan judul dari teater yang akan dipentaskan malam itu. Judul tersebut merupakan nama dari salah satu tokoh. Aktor yang berperan dalam teater ini yaitu Oong, Galang, Dimas, Zamima, Rere, Ria, Yahya, Fatur, Ridwan, Gio, Nanda, Icang, serta beberapa bantuan dari teman-teman lainnya. Naskah ini berangkat dari babad Madura yang lebih menonjolkan ke sisi majapahitnya.

Nando Zikir Manhattir selaku sutradara menjelaskan proses latihan dimulai dari 20 Maret 2019. Proses latihan ini berlangsung lima kali dalam satu minggu. Aktor bisa beristirahat pada hari Sabtu dan Minggu ketika latihan libur. Untuk waktu latihan itu tidak tentu tergantung dengan situasi dan kondisi. “Proses latihan itu seminggu ada lima kali, senin sampai jumat. Sabtu minggu libur,” Jelas Nando

Ada beberapa kesulitan yang terjadi selama proses latihan. Salah satunya dengan aktor yang masih belum pernah bermain teater. Ketika naskah sudah selesai, naskah itulah yang akan menyesuaikan dengan ketersediaan aktor. “Pencarian aktor lelaki sebagai pemeran utama ada casting, pemeran aktor wanita juga ada casting, tapi untuk aktor yang lain saya yang menentukan. Jadi naskah yang dibuat sama temen-temen menyesuaikan dengan persediaan aktor yang ada,” ungkap Nando.

Selaku produser, Delia Erli Pribadi menerangkan bahwa  pementasan ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Ada sebuah tantangan dari dosen pengampu matakuliah Teater II untuk menampilkan teater yang berbeda. Delia mengaku bahwa mahasiswa yang mengambil konsentrasi sastra tahun ini lebih banyak dari sebelumnya. “Ini tantangan dari dosen disuruh nampilin teater kolosal mungkin karena yang ngambil sastra banyak jadi dirasa mampu tenaganya,” ungkap Delia. Teater kolosal  merupakan cerita kerajaan, kesaktian, perang yang membutuhkan banyak aktor.

Waktu untuk persiapan pementasan kurang lebih tiga bulan. Dari mulai pembentukan kepanitiaan, pemilihan naskah yang akan dipakai, penulisan naskah, proses latihan, hingga pementasan berlangsung. Kepanitiaan terbentuk sejak awal semester enam. “Persiapannya dimulai dari awal perkuliahan,” kata Delia

Untuk pemilihan naskah sendiri Delia mengaku ada masukan dari teman-teman maupun dari dosen, ia sempat bingung ingin membuat pementasan kolosal yang bagaimana serta akan memakai naskah apa. Selanjutnya sutradara dengan dosen pembimbing yang membahas naskah lebih lanjut. “Untuk pemilihan naskah sebenernya ada masukan dari dosen juga sih, soalnya sempet bingung mau kolosal yang gimana,” jelas Delia

Proses penulisan naskah menghabiskan waktu sekitar dua sampai tiga minggu. Naskah juga sering mengalami perubahan karena adanya masukan dari dosen pembimbing yang ikut dalam proses latihan. Tanpa mengelak ia mengaku bahwa naskah yang sudah siap untuk ditampilkan baru jadi pada Jumat (21/06). “Pembuatan naskah sampai naskah jadi itu sekitar dua atau tiga mingguan tapi lebih sering dirubah juga karena selalu ada masukan, jadi bener-bener fix  ini baru semalem,” jelas Delia

Delia mengaku salah satu kendala dalam mempersiapkan pementasan ini, yaitu penentuan tanggal pementasan. Dosen pembimbing memberi mereka pilihan antara sebelum puasa atau akhir UAS. Karena kesepakatan bersama mereka memilih akhir UAS. Karena waktunya terpotong libur, selama dua minggu itu aktor tidak latihan. “Selama dua minggu itu aktor gak latihan, mulai latihan lagi dari awal mulai bangkitin lagi semangat dan emosinya itu yang paling jadi kendala. Selain itu ya kendala wajar,” ungkap Delia

Pertunjukan teater II berakhir dengan suara riuh serta tepuk tangan penonton. Setelah itu acara berlanjut dengan sesi apresiasi. Sekitar pukul 22.00 WIB acara apresiasi ini dimulai. Muhammad Miqdad Nidhom Fahmi memoderatori acara apreasiasi malam itu, sesi ini berlangsung selama 56 menit.

Delia menilai bahwa acara ini sudah sukses. Ia berpendapat bahwa sebagian orang menganggap teater kolosal membosankan. Akan tetapi, setelah menonton teater Nararya Sanggramawijaya banyak orang yang masih bertahan untuk mengikuti sesi apresiasi. “Kesuksesannya dapat dilihat dari antusias penonton” ungkap Delia.

Delia berharap pementasan teater tahun depan bisa lebih baik daripada teater tahun ini. “Ya semoga teater II bisa kreatif lagi juga dosen-dosennya bisa lebih ikut mendukung,” ungkap Delia. []