Menggurat Visi Kerakyatan

Pementasan Begal Menggugat Perebutan Kekuasaan dengan Licik

141

Para pegiat teater di Jember yang tergabung dalam Royal Aktor berkerjasama dengan Teater Tiang, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kesenian, Fakultas Keguruan dan Pendidikan Universitas Jember  (FKIP-UJ) menampilkan pementasan teater bertajuk ‘Begal’, Sabtu dan Minggu (19-20/04) di gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM). Pementasan Begal membingkai fenomena yang terjadi dalam masyarakat kekinian. Perebutan kekuasaan dengan sampai pada tahap saling bunuh.

Naskah begal disadur dari cerpen Akutagawa Ryunsuke, berlatar belakang kekalutan kondisi perekonomian masyarakat Jepang pada  tahun 1915 tepatnya di daerah pembuangan mayat, gerbang utama Kyoto. Rashomon mengangkat fenomena sosial seputar kehendak untuk saling mendominasi. Sedangkan dalam pementasan Begal, ada beberapa tokoh yang dihadirkan, penyebab prahara diwakili tokoh dari kalangan bangsawan yaitu seorang samurai dan istrinya yang cantik jelita.

Ada pula tokoh lain yaitu banci tua miskin, pencabut rambut orang mati untuk dijual guna memenuhi kebutuhan ekonominya. Serta bandit atau begal yang berhasrat merebut istri seorang samurai sekaligus ingin mendapatkan martabat dengan cara membunuh samurai. Tokoh-tokoh tersebut dengan caranya masing-masing mencoba bertahan hidup di tengah terpuruknya kondisi peradilan. Sedangkan gerbang Rashomon menjadi saksinya.

Taruna P Putra, sutradara pementasan, ingin menyuguhkan kisah Rashomon secara Indonesia dengan menyuguhkan Carok. Carok adalah budaya adu kekuatan, sarana legitimasi kekuasaan dalam budaya Madura. Dua orang yang memutuskan untuk carok, harus berani menerima konsekuensinya. Si pemenang yang akan mendapat penghargaan sebagai blater (jagoan) harus tetap bertanggung jawab kepada pihak yang kalah. Yaitu dengan cara membiayai keluarga lawannya yang kalah untuk menggelar ritual pengajian. Carok biasanya dilakukan untuk membela harga diri atau memperebutkan kuasa. Dalam pementasan teater Begal ini, wanita yaitu istri seorang samurai yang menjadi sebab pertarungan para tokoh.

Namun adegan carok yang sesungguhnya tidak terjadi dalam pertunjukkan. Pertarungan antara celuring emas dan samurai dilakukan dengan curang oleh celuring. Tidak selayaknya jagoan madura atau Blater mengalahkan lawannya dengan cara licik. Pada pertarungan antara celuring dengan perampok lain pun bukanlah carok karena menggunakan kekuatan sihir. Dari sanalah carok sebagai identitas budaya berasal dari Madura untuk mempertahankan martabat dengan cara ksatria, telah luntur. Modernisasi dan percampuran kebudayaan membuat negeri ini semakin terpuruk. Cara apapun akan dieksekusi untuk mencapai kekuasaan.

Taruna menjelaskan bahwa kondisi sosial yang diangkat dalam pementasan ini terdapat pada Blater atau Begal, “Kami mengangkat tokoh Blater sebagai simbol perebutan kuasa. Tidak jauh berbeda di negeri ini bagaimana kekuasaan didapat dengan cara saling sikut,” ungkap Taruna. Watak blater yang diwakili tokoh celuring emas, menggambarkan watak orang-orang yang berambisi mendapatkan kekuasaan di negeri ini.

Ibnu Wicaksono, pegiat seni di UKM Kesenian Universitas Jember memberi apresiasi baik pada pementasan ini. Ia mengatakan kisah yang ditampilkan menggambarkan keadaan Indonesia saat ini. “Manusia Indonesia memang pembunuh, pembunuh karakter, pembunuh rakyat dengan korupsi.” Ibnu juga menambahkan sosok begal lahir dari kondisi bangsa ini sendiri, “Sosok begal ada karena penguasa yang bobrok. Bahasa kasarnya tidak ada cara lagi menggugah penguasa selain dengan membunuh.”[]

 

Penulis: Nurul Aini