Menggurat Visi Kerakyatan

Pementasan Begal Menguak Pergeseran Budaya di Indonesia

60

Pementasan Begal merefleksikan realitas sosial berupa pergeseran budaya yang disebabkan kapitalisme atau modernisasi. “Jika budaya carok yang benar dipegang ndak bakal ada carok, karena konsekuensinya baik yang menang dan kalah sama,” jelas Taruna Y Putra, sutradara pementasan Begal. Menurut Taruna, pecahnya konflik sampit dan beberapa daerah lain, dikarenakan masyarakatnya tidak lagi memegang budaya asli. Ketidakpercayaan antar suku akan menjadi serangkaian permasalahan yang membuntutinya.

Naskah Begal disadur dari cerpen berjudul Rashomon karya Akutagawa Ryunsuke oleh Taruna P Putra. Penyaduran dilakukan agar cerita yang disampaikan mudah dicerna oleh penonton. Maka dari itu disesuaikan dengan zeitgeist atau jiwa zaman. Seperti yang dijelaskan Taruna, “Menyadur itu sesuai kebutuhan. Perlu tidaknya naskah disadur atau mementaskan naskah asli, yang jelas harus bisa diterima penonton.” Di sisi lain, kata Taruna, agar penyesuaian kultur tersebut memudahkan penghidupan kembali naskah asli di lingkungan baru. Ada pergeseran yang membuat secara otomatis naskah saduran menjadi karya baru.

Ada perbedaan jauh mengenai point of interest pertunjukkan yang di naskah asli berupa Gerbang Rashomon, menjadi Begal. Selain itu senjata samurai disesuaikan oleh sutradara menjadi celurit. Penggubahan Begal serta celurit dalam saduran, sebagai upaya penyelipan identitas budaya di mana naskah tersebut akan dipentaskan. “Kalau perampok di Jepang menggunakan samurai, mereka punya filosofi sendiri. Indonesia juga punya filosofi sendiri, punya senjata sendiri, yaitu celurit yang digunakan dalam budaya carok. Itu yang saya coba masukkan di sini,” jelas Taruna.

Konsep panggung yang tak sepenuhnya mengadopsi gaya modern, pengemasan dicampur dengan pementasan tradisional ludruk. Ruang pertunjukkan dibuat begitu lebar, hampir tak ada sekat dengan penonton, para penonton seolah menjadi mudah berinteraksi langsung dengan para pemain. Instalasi gardu-gardu pemantau khas suasana pegunungan di dataran tinggi Asia, turut mempermudah para penonton merasakan langsung suasana latar pertunjukkan realis ini.

Khatarina Nikmatus Sholikah, pegiat seni UKM Dewan Kesenian Kampus Fakultas Sastra UJ, mengapresiasi pementasan yang menampilkan perpaduan budaya hampir di semua elemen tersebut. “Sepertinya sutradara sengaja mendampingkan suku-suku Indonesia yang terkenal berwatak keras. Dapat dilihat dari ilustrasi musik, make up, kostum dengan nuansa Indo-Cina.”

Pementasan ini diringan alat-alat musik khas beberapa daerah di Indonesia antara lain gong, jimbe, rebah, didjeridu, seruling, sampek alat musik Suku Dayak, dan garpu tala. Peracikan alat musik ini sebagai upaya melestarikan kekayaan nusantara. Petikan sampek yang menyayat hati dan lafalan mantra berbahasa Jawa Kuno menambah kesan mistis pementasan[]

 

Penulis: Nurul Aini