Menggurat Visi Kerakyatan

Kembali Luring, Penonton Parade Monolog Diarahkan Live Streaming

Editor: Ayu Zhahrotul Madinah

332

Mahasiswa Sastra Indonesia (Sasindo) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember (FIB Unej) angkatan 2020, mengadakan parade monolog pada tanggal 4 dan 5 Juni. Pelaksanaan parade monolog dilakukan untuk memenuhi praktikum Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah Teater I. Parade monolog dilakukan secara luring setelah dua tahun sebelumnya dilakukan secara daring. Namun, penonton hanya dapat menyaksikannya melalui live streaming YouTube.

Dewi Angelina, dosen pengampu mata kuliah Teater I menjelaskan, semula parade monolog dilakukan secara daring, karena masih dalam masa pandemi Covid-19. “Pada saat itu perkuliahan offline belum dibuka karena ada Omicron,” jelasnya pada (05/06).

Parade monolog ini mengusung judul Gamaharsa. Muhammad Rizqy Hasan, ketua panitia pementasan monolog menjelaskan mengenai judul tersebut. “Gamaharsa itu kami ambil dari bahasa Sanskerta. Kalo arti perkata, gama artinya perjalanan sedangkan harsa itu kegembiraan” paparnya pada (04/06).

Ia menambahkan bahwa alasan pemilihan judul ini karena diksi gamaharsa merepresentasikan perjalanan angkatan 2020. “Jadi judul dari pementasan ini merepresentasikan perjalanan kami angkatan 20 ini. Teater ini kami anggap sebagai sebuah perjalanan yang menggembirakan,” kata Rizqy.

Bersamaan dengan pembentukan panitia, Rizqy mengatakan bahwa persiapan parade monolog ini membutuhkan waktu hingga enam bulan. “Kalo untuk panitia itu sekitar enam bulan yang lalu udah terbentuk,” ucap Rizqy.

Menurut Rizqy, dengan persiapan yang membutuhkan waktu enam bulan, mahasiswa Sasindo angkatan 2020 masih mengalami kesulitan karena keterbatasan referensi. “Jadi agak berpikir lebih keras gitu untuk nyari referensi dimana gitu, tanya-tanya sama siapapun dan harus berusaha lebih keras,” ungkapnya.

Meskipun begitu, Rizqy beranggapan bahwa acara ini dapat membangun solidaritas mahasiswa Sasindo angkatan 2020. “Cukup bisa membangun solidaritas kami yang sejak awal tidak bisa terbentuk secara organik gitu, jadi harus dibentuk secara mekanik melalui acara seperti ini,” ujarnya.

Rizqy berharap, dengan acara ini, seni dan budaya dapat terus lestari. “Harapan saya dengan acara ini, kerja-kerja seni bisa terus istiqomah dilakukan dan di angkatan-angkatan selanjutnya semoga bisa menyajikan konsep yang lebih menarik dan segar,” ucapnya.

Amelia Salsabella, mahasiswa Sasindo angkatan 2019 menonton parade monolog melalui live streaming kanal YouTube La Satra ’20. Ia beranggapan bahwa acara tersebut cukup menghibur. “Acara monolog kemarin sangat bagus dan cukup menghibur. Bisa untuk menemani hari libur para penontonnya,” ujarnya pada (07/06).

Ia menambahkan bahwa ia mengapresiasi kinerja panitia dan para pemeran yang sudah berhasil mengadakan acara parade monolog tersebut. “Untuk pemeran dan tim yang mengurus monolog kemarin udah hebat karena bisa ngadain acara offline lagi,” cetusnya.

Namun, Amelia beranggapan bahwa durasi penayangan yang lama membuat penonton bosan. “Waktu penayangan terlalu lama sekitar tujuh jam lebih, sehingga membuat penonton merasa bosan atau banyak penonton yang meninggalkan live YouTube,” ungkap Amelia.

Oleh karena itu, Amelia memberikan saran untuk parade monolog di tahun-tahun selanjutnya. Ia menyarankan bahwa acara tersebut dapat dipersingkat durasinya atau ditambah harinya. “Semoga misalnya ada acara seperti live monolog itu durasinya tidak terlalu lama, mungkin bisa dipersingkat atau ditambah hari livenya,” kata Amelia

Mengenai harapan, Amelia berharap bahwa akan banyak acara yang akan diadakan secara luring. “Semoga di situasi pandemi yang sudah mulai mereda ini bakal banyak lagi acara atau kegiatan kayak monolog, teateran, dan lain-lain,” ujarnya.[]