Menggurat Visi Kerakyatan

Koleksi Kurang, Tak Ada Dana Beli Buku, Mahasiswa FIB Wajib Menyumbang.

Editor: Siti Alvia Warda

174

Koleksi buku perpustakaan (ruang baca) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember (FIB Unej), masih terhitung kurang. Padahal, sejak tahun 2001 FIB memberlakukan ketentuan sumbang buku bagi mahasiswa yang telah lulus. Kebijakan ini berlaku karena tidak adanya dana untuk mengatasi sedikitnya ketersediaan buku. Namun, mahasiswa menuturkan koleksi buku baru masih terbilang kurang.

Berdasarkan penelusuran jurnalis Ideas.id, kondisi fisik buku di ruang baca FIB juga memperihatinkan. Beberapa buku, ada bercak-bercak kuning di kertasnya, ada pula yang sudah usang. Tak hanya itu, debu juga menyelimuti buku dan rak. Kondisi ini membuat mahasiswa tak nyaman dan enggan memasuki ruang baca FIB. Terlebih, koleksi buku baru yang kurang.

Seperti yang disampaikan oleh Khilwa Nazilia. Mahasiswa jurusan Sastra Indonesia (Sasindo) angkatan 2017 itu menyampaikan, koleksi buku di ruang baca FIB sudah cukup banyak. Namun koleksi tersebut merupakan koleksi buku lama. Ruang baca FIB kurang menyediakan koleksi buku-buku terbaru. “Koleksi buku di ruang baca FIB lumayan banyak, tapi koleksi buku barunya jarang,” tutur Khilwa, pada Jumat (03/06).

Ia menyampaikan, sudah banyak sekali buku fiksi maupun buku umum yang terbaru, yang bisa menunjang kebutuhan mahasiswa FIB. Namun, saat melihat di ruang baca FIB, buku-buku yang tersedia masih koleksi lama. “Sekarang kan buku-buku baru banyak bermunculan, tapi koleksi ruang baca masih sama. Perkembangan koleksi literasinya belum ada,” kata Khilwa.

Terlebih saat ia membaca buku teori. Khilwa menuturkan, isi buku lama teori sastra yang ada di perpustakaan FIB, kurang lengkap untuk dijadikan referensi. Ia menyayangkan, ruang baca tidak menyediakan buku yang lebih lengkap. “Buku terbarunya nggak ada, padahal menurutku lebih lengkap,” ucap Khilwa.

Ia berharap ruang baca FIB secepatnya bisa mengatasi kurangnya koleksi buku ini. Sehingga mahasiswa maupun dosen yang membutuhkan referensi, bisa mendapatkan dengan mudah di ruang baca FIB. “Diperbanyak lagi koleksi buku mengenai dunia sastra. Karena mahasiswa dan dosen juga butuh untuk dijadikan referensi yang autentik,” ujar Khilwa.

Sementara saat dikonfirmasi pada Dwi Haryati, selaku pustakawan di ruang baca FIB menyatakan, buku koleksi ruang baca FIB, sudah beragam. Hanya saja jumlah eksemplar buku yang kurang banyak. Baginya, ruang yang tak terlalu besar juga menjadi kendala untuk menerima buku dengan jumlah yang banyak. “Yang penting yang dibutuhkan (buku) terpenuhi semua,” kata Dwi, saat diwawancarai pada Selasa (24/05).

Menurutnya, kebijakan sumbang buku bisa menambah ketersedian buku di ruang baca FIB.  Namun ketentuan sumbang buku ini, harus berdasarkan kebijakan masing-masing jurusan. Dwi hanya bisa menerima buku yang telah jurusan setujui. “Prosesnya itu acc dulu dari jurusan, tandatangan di jurusan dulu, disetujui, baru ke aku,” tuturnya.

Salah satu jurusan yang dapat jurnalis Ideas mintai konfirmasi, ialah jurusan Sasindo. Kepala jurusan (kajur) Sasindo, Agustina Dewi Setyari menjelaskan, tujuan adanya sumbang buku, agar mahasiswa tidak bingung saat mencari dan membutuhkan referensi. “Mahasiswa membutuhkan buku referensi, sementara perpustakaan pusat bukunya sangat terbatas. Fakultas juga tidak akan ada pembelian buku,” ucapnya pada Selasa (24/05) melalui telepon whatsapp.

Wanita yang karib disapa Bu Dewi itu mengungkapkan, sejak tahun 2019 pembelian buku sudah mencapai empat sampai lima juta rupiah. Namun ia tidak mengetahui jumlah pasti buku yang sudah mahasiswa sumbangkan. “Waduh saya tidak hapal berapa banyak. Tapi sejak tahun 2019 pembelanjaan buku sekitar 4 sampai 5 juta sejak saya memegang uang buku,” kata Dewi.

Mahasiswa yang sudah lulus, boleh menyumbang buku apa saja. Dewi menjelaskan, mahasiswa Sasindo bisa menyumbang buku yang linear dengan jurusan Sasindo. “Nggak ada kategori. Pokoknya selagi berhubungan sama sastra, linguistik, dan budaya saya membolehkan,” katanya

Selama mengkoordinir sumbang buku sejak 2019 lalu, menurutnya tidak ada mahasiswa yang tidak menyumbang buku. Menurut Dewi, hal itu karena adanya surat keterangan dari ruang baca sebagai salah satu syarat wisuda. “Belum ada, mahasiswa yang tidak menyumbang buku. Mungkin karena sebagai syarat wisuda”, tutur Dewi.

Namun, jurusan bisa menolak buku yang tidak sesuai. Ia mengatakan pernah menolak buku sumbangan mahasiswa, karena topik buku yang tidak sesuai. “Seingat saya pernah sekali menolak buku. Kalau tidak salah topik buku tidak sesuai,” tutur Dewi.

Sebagai alternatif, mahasiswa boleh menyumbang uang saja. Uang sumbangan itu, kemudian akan masuk pada dana khusus pembelian buku. Dewi menjelaskan, selama ini masih belum ada dana khusus untuk pembelian buku “Sumbang buku ini wajib, sebab tidak ada dana khusus untuk pembelian buku,” kata Dewi.

Serupa dengan alur penyumbangan buku, jurusan akan mengkoordinir langsung, uang sumbangan dari mahasiswa. Kemudian jurusan membelanjakan uang tersebut, berbagai macam buku yang dirasa sesuai. “Itu dikoordinir oleh prodi masing-masing. Jadi ada (uang) berapa juta pun untuk buku ya memang dibelikan buku,” ucap Dewi.

Dewi juga menjelaskan, pihak ruang baca seharusnya memberikan masukan ke jurusan. Apabila pihak ruang baca membutuhkan jumlah eksemplar lebih banyak, jurusan bisa mencetak ulang buku. Namun, selama ini ruang baca belum memberikan masukan apapun ke jurusan. “Kalau pihak ruang baca menganggap ini perlu, bisa dicetak ulang. Harusnya ada masukan pada kami, tapi selama ini ga ada masukan,” terangnya.

Di akhir wawancara, Dewi mengatakan, mahasiswa juga dapat mengusulkan buku-buku yang dibutuhkan. Agar pihak jurusan bisa menambahkan buku tersebut, menjadi koleksi ruang baca FIB. “Jadi sebenarnya teman-teman bisa mengusulkan, misalnya selagi buku itu gak susah ya dicari untuk koleksi di ruang baca,” tutup Dewi. []