Menggurat Visi Kerakyatan

Kisah Berdirinya Kerajaan Majapahit Versi Teater II dalam Nararya Sanggramawijaya

214

Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia konsentrasi sastra Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember (FIB UJ), kembali menggelar pertunjukkan teater. Mahasiswa penempuh mata kuliah Teater II kali ini, yakni dari angkatan 2016. Mereka mementaskan teater dengan judul Nararya Sanggramawijaya. Acara tersebut berlangsung di gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) pada (22/06). Nando Dzikir Manhattir selaku sutradara mengaku tujuan diadakannya teater kali ini adalah sebagai Ujian Akhir Semester (UAS) pada mata kuliah tersebut.

Kisah Nararya Sanggramawijaya yang mereka pentaskan menceritakan tentang Sanggramawijaya yang ingin membalas dendam kepada kerajaan Kadiri. Sanggramawijaya merupakan menantu Kertanegara, Raja Singasari yang meninggal saat pemberontakan Jayakatwang. Jayakatwang sendiri merupakan Raja Kadiri yang masih merupakan paman Sanggramawijaya. Sanggramawijaya yang lebih dikenal dengan Raden Wijaya dibantu Ranggalawe dan ayahnya, Aria Wiraraja dari Sumenep, berhasil melumpuhkan Jayakatwang. Kemudian Raden Wijaya mendirikan kerajaan Majapahit.

Berangkat dari kisah babat tanah Madura yang disarankan oleh dosen pengampu, Nando bersama tim Teater II menggarap naskah tersebut dengan fokus pada kerajaan Majapahit. “Saya tidak sepenuhnya mengambil cerita dari babat tanah Madura, saya lebih menonjolkan ke sisi Majapahitnya dengan bantuan dari Madura,” terangnya.

Dari naskah babat Madura yang ia baca, Nando menemukan variasi lain yang lebih mengunggulkan Aria Wiraraja. “Saya baca ceritanya, di situ mengunggulkan Ariya Wiraraja.”

Jika berkaca pada sejarah, cerita yang berkembang adalah Raden Wijaya ingin membalas dendam terhadap pemberontakan yang pernah dilakukan Jayakatwang terhadap Singasari. Pada masa kekalahannya, Raden Wijaya diberi ampun karena menyerahkan diri atas saran Aria Wiraraja yang saat itu juga turut membuat siasat meruntuhkan Singasari. Kemudian Raden Wijaya diberi Hutan Tarik yang menjadi cikal bakal desa Majapahit. Pada tahun 1293 pasukan Mongol datang hendak menghukum Kertanegara yang pernah menyakiti utusan mereka. Raden Wijaya selaku ahli waris siap menyerahkan diri asal dibantu memerdekakan diri dari Jayakatwang. Saat itu Aria Wiraraja turut membantu Raden Wijaya sehingga Jayakatwang kalah dan Majapahit berhasil mengusir pasukan Mongol dari Jawa.

Ada berbagai cerita tentang sejarah berdirinya kerajaan Majapahit. Mulai dari naskah-naskah kuno seperti dalam kitab Pararaton dan Nagarakertagama, prasasti-prasati peninggalan kerajaan-kerajaan, sampai catatan sejarah Tiongkok dan negara-negara lain. Dalam teater II, tidak disebutkan sama sekali mengenai terlibaatnya pasukan Mongol. Hal tersebut bukan tanpa alasan. Selain karena minimnya aktor, Nando ingin mengangkat sisi bahwa Majapahit bisa berdiri dengan bantuan rakyatnya bukan negara lain. “Saya mengajak pikiran saya sendiri, saya ingin mengangkat kisah Majapahit yang merdeka bukan karena mendapat bantuan dari negara lain. Merdeka dari rakyatnya tadi,” ungkapnya.

Di adegan terakhir, sinden dari tim karawitan Unit Kegiatan Mahasiswa Kesenian (UKMK) UJ yang menjadi pengiring musik menyanyikan tembang Megatruh. Saat itu Raden Wijaya atau Nararya Sanggramawijaya yang telah mendapatkan kekuasaan tertidur di singgasana dan menjatuhkan mahkotanya. Dari adegan tersebut Nando menyisipkan pesan jika kekuasaan dapat membuat orang yang meraihnya tertekan. “Perebutan kekuasaan hanya akan membuat orang yang telah meraihnya berada dalam tekanan,” ungkapnya.

Nando juga menceritakan bahwa naskah yang dibuat oleh tim Teater II menyesuaikan dengan jumlah aktor. “Pencarian aktor tidak ada casting. Jadi, naskah yang dibuat temen-temen ini menyesuaikan ketersediaan aktor,” kata Nando.

Tercatat, pertunjukkan Teater II kali ini salah satu yang mengangkat naskah kolosal setelah sepuluh tahun yang lalu. Tepatnya di tahun 2009. Nando sendiri mengaku beberapa aktor belum pernah tampil atau menonton teater. Selain itu ada beberapa kendala lain seperti menghafal dialog dan aktor yang jarang lengkap saat latihan. Hal tersebut karena beberapa aktor ada yang bekerja sampingan. “Jarang sekali setiap malam itu lengkap,” ungkapnya.

Nando berharap Teater II tahun depan agar tidak menampilkan kolosal lagi. “Kolosal menurut saya jadi selingan saja yang  paling penting garapannya nanti lebih mewah dari segi artistik,” terang Nando.

Mahasiswa jurusan sastra Indonesia angkatan 2017 FIB UJ, Sonia Kharisma Putri, memberi pendapatnya mengenai Teater II kali ini. “Pertama aku sangat mengapresiasi karena mengangkat sejarah di pementasan Teater II. Tapi, aku belum menemukan pesan yang ingin disampaikan,” ujarnya.

Sonia juga menyampaikan jika pengemasan cerita cenderung monoton. “Cara mengemasnya monoton gitu, pas nonton belum ada yang, wah, kurang mendalami karakter yang diperankan,” ujar Sonia. Monoton yang dimaksud Sonia adalah pementasan yang didominasi oleh dialog.

“Cuma aku terhibur di bagian dagelannya, meski nggak paham karena pakai bahasa ibu (Madura),” ujarnya kembali. Dagelan merupakan lakon singkat dalam adegan yang menimbulkan kelucuan lewat gerak-gerik, cara bicara dan isi pembicaraan pemain. Dalam teater Nararya Sanggramawijaya dagelan yang dimaksud Sonia adalah adegan saat kepala prajurit Sanggramawijaya muncul.

Sonia juga mengungkapkan harapannya untuk Teater II tahun selanjutnya. “Harapannya buat Teater II tahun depan, semoga bisa menyuguhkan pementasan yang mengesankan,” harap Sonia. Mengesankan yang ia maksud adalah ketika pesan dalam pementasan nantinya tersampaikan. []