Menggurat Visi Kerakyatan

Mengingat Kembali Tragedi September, Sejumlah Massa Gelar Aksi Kamisan

Editor: Ayu Zhahrotul Madinah

251

Kamis (22/09) pukul 15.55, sejumlah massa yang tergabung dalam Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia Dewan Kota (PPMI DK) Jember dan beberapa Organisasi Mahasiswa (Ormawa) menggelar Aksi Kamisan di Tugu Kembar Adipura alun-alun Kota Jember. Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk pengingat tragedi September atau September Hitam yang banyak melanggar Hak Asasi Manusia (HAM), seperti tragedi pembantaian 1965-1966, pembunuhan Munir, tragedi Tanjung Priok, tragedi Semanggi II, pembunuhan Pendeta Yeremia, dan reformasi dikorupsi.

Selain melakukan aksi, beberapa massa juga membagikan selebaran kertas kepada pengunjung alun-alun yang berisi tentang pelanggaran-pelanggaran HAM yang masih belum diusut tuntas oleh pemerintah.

Sekretaris Jenderal PPMI DK Jember, Titania Elsa mengatakan bahwa selain sebagai pengingat tragedi September. Aksi Kamisan ini bertujuan untuk membangkitkan kembali Aksi Kamisan yang telah vakum selama dua tahun dan merupakan aksi yang kelima sejak tahun 2020. “Selain merefleksi dan mengingat tragedi September, tujuan awalnya ingin membangkitkan lagi Aksi Kamisan September yang pernah terlaksana tahun 2020. Ini aksi yang kelima kalau sama yang sebelumnya tahun 2020 empat kali, “ ungkap Elsa.

Elsa mengungkapkan bahwa latar belakang dari aksi kamisan ini adalah tragedi September yang sebelumnya dibahas dalam diskusi umum mengenai September Hitam pada Senin (12/09) lalu. “Latar belakangnya kayak tujuan awal mengingat September hitam kan sebelumnya ada diskusi dan sekarang dilanjut aksi,” ungkapnya.

Tak hanya menampilkan orasi, Elsa menjelaskan bahwa terdapat juga pembacaan puisi, musikalisasi puisi, dan teatrikal dalam Aksi Kamisan ini. “Yang nampilin orasi karena ini mimbar bebas, siapa aja boleh. Ada yang baca puisi, musikalisasi, teater juga ngga cuma orasi,” katanya.

Dalam aksi tersebut, Elsa menyatakan bahwa tidak ada tuntutan pasti sebab aksi Kamisan merupakan bentuk simbolik pengrefleksian diri terhadap tragedi September, sehingga para peserta aksi dapat menyuarakan bentuk pelanggaran HAM apapun. “Kalau tuntutan pastinya tidak ada. Ini sebenarnya simbolik bagaimana kita merefleksikan diri pada tragedi September. Makanya tadi beberapa kawan ngomong perampasan tanah, bagaimana yang terjadi di Kalimantan,” kata Elsa.

Menurut Elsa, Aksi Kamisan akan terus berlanjut, karena tidak hanya PPMI dan LPM saja yang terlibat tetapi juga organisasi mahasiswa seperti Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA), Kader Hijau Muhammadiyah (KHM), Aliansi Mahasiswa Papua (AMP), dan beberapa perorangan. “Ada acara lanjutan kan memang ini kolektif ngga cuma PPMI dan LPM, jadi melibatkan lembaga lain kayak FNKSDA, KHM, AMP, dan perorangan kayak anak solidaritas,” ucapnya.

Ia juga menambahkan, akan ada Aksi Kamisan seminggu sekali atau dua minggu sekali untuk terus menimbulkan kesadaran pada masyarakat. “Kita bikin konsep seminggu sekali atau dua minggu sekali, paling ngga biar timbul terus kesadaran,” tambah Elsa.

Elsa mengatakan bahwa belum ada respon dari pemerintah kota Jember soal Aksi Kamisan di Jember, namun pihaknya akan tetap menyuarakan Aksi Kamisan untuk mengingatkan masyarakat tentang tragedi September. “Kalau bagaimana respon pemerintah belum ada sih ya hanya begini-begini saja. Tapi kan dari aksi-aksi kecil minimal masyarakat mengingat tragedi September dan bentuk pelanggarannya,” ucap Elsa.

Di akhir wawancara, Elsa berharap dengan adanya aksi ini masyarakat akan tahu dan mengingat tragedi September serta berharap tuntutan akan ditanggapi oleh pemerintah. “Harapannya pertama supaya masyarakat tahu dan semoga tuntutannya bisa segera terlaksana,” tutup Elsa. []

Leave a comment