Menggurat Visi Kerakyatan

Ormawa Berikan Keluhan Setelah 3 Bulan Tempati Sekretariat Baru

Editor: Alifia Suci Rahma

954

Pada Juli 2022, ormawa FIB (Organisasi Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya) mulai menempati ruang sekretariat mereka masing-masing. Tiga bulan setelah menempati ruangan baru, ormawa mengeluhkan beberapa hal, mulai suara bising, panas, hingga sempitnya ruang sekretariat.

Muhammad Fadlillah Ashari, ketua umum PSM Mesra (Paduan Suara Mahasiswa Melodi Sastra) mengeluh karena ruangan bersekat yang tidak terbuat dari tembok membuat suara bising dari ormawa lain terdengar, walaupun ia juga bersyukur karena sudah mendapatkan ruangan sendiri. “Bersyukur udah punya ruangan kita sendiri. Tapi sering dengar suara lain dan lumayan ganggu sih, kalau misal satu UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) sama-sama punya acara dan perlu rame (latihan hadrah atau paduan suara) itu ganggu,” tutur Fadlil pada Jumat (7/10).

Keluhan serupa juga disampaikan ketua umum DKK (Dewan Kesenian Kampus), Yudha Fernanda. Ia mengungkapkan bahwa tembok yang menjadi sekat antar ormawa rentan rusak dan tidak kedap suara, “Rawan buat keganggu atau mungkin rusak. Ini karena masih baru gampang rusak, dan tetangga sebelah gampang keganggu ketika kita nyender atau ketok ketok,” ungkap Yudha pada Selasa (11/10).

Mengenai suara yang mengganggu, ia menambahkan bahwa suara ini tak hanya bersumber dari ruang sekretariat, tetapi juga dari rooftop. “Suaranya gak cuma dari tetangga ormawa, tapi kegiatan di atas, lantai tiga. Biasanya keras,” tutur Yudha.

Yudha juga mengeluhkan kondisi ruang sekretariat yang sisinya ditutupi oleh jendela penuh membuat ruangan terasa panas. Yudha memberikan saran untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan memberikan gorden pada jendela. “Karena ini full jendela jadinya kan panas. Mungkin bisa dikasih gorden atau penutuplah jendelannya,” jelasnya.

Sajalan dengan Yudha, Rika Andriaka, Ketua umum  (EDSA) juga turut mengeluhkan sekretariat yang panas. Jika Yudha menyarankan gorden, Rika memberikan solusi lain, yakni dengan adanya AC (Air Conditioner). “Harus ada AC sih kata teman-teman, sekret baru itu kan menghadap ke matahari ya kalau siang, jadi panas banget gitu loh,” ujar Rika pada Selasa (11/10)

Selain mengeluhkan bising dan panasnya ruang sekretariat, keluhan berbeda diungkapkan ketua umum IMASIND (Ikatan Mahasiswa Sastra Indonesia), Khotibul Umam. Ia mengaku kesulitan menyimpan barang-barang milik IMASIND di sekretariat karena kondisi ruang yang cukup sempit. “Untuk sekretnya sempit banget, buat nyimpen barang aja nggak muat,” tutur Umam pada Senin (10/10).

Akibat dari sempitnya ruangan sekretariat, Umam menuturkan bahwa tidak bisa menyimpan barang di dalam ruangan sekretariat. Akibatnya, banyak barang IMASIND yang hilang. “Barang-barang ditaruh di sembarang tempat, kayak di bawah tangga gitu. Terus ada ruang kosong juga tapi ya akhirnya barang-barang IMASIND banyak yang hilang,” jelas Umam.

Selain tak bisa menyimpan barang di sekretariat, Umam juga menjelaskan bahwa sempitnya ruang membuat IMASIND tidak bisa melakukan rapat di ruang sekretariat. “Di sini aja ngumpul orang lima udah pengap, tapi ya kita rapat itu biasannya nggak di sekret sih, karena ya nggak muat itu tadi,” tutur Umam.

Mengenai produktivitas IMASIND, Umam menuturkan sulitnya mencari tempat rapat menjadi sebuah kendala, apalagi di tengah kondisi yang sudah luring membuat beberapa titik di FIB sering ditempati. “Kalau produktif nggaknya proker tetap berjalan, hanya saja kendalanya susah buat nyari tempat rapat apalagi offline ini semua tempat kepake,” tuturnya. []

Leave a comment