Menggurat Visi Kerakyatan

Kado Ulang Tahun untuk SBY

96

Apa kabar Pak Susilo Bambang Yudhoyono, dengan datangnya surat ini pertama-tama saya mengucapkan selamat atas berulangnya tahun anda yang ke-65. Kemudian saya mengucapkan terima kasih atas kesediaannya membaca rintihan dalam kado ini. Di luar sana lebih banyak yang memilih untuk memberi hadiah dalam bentuk materi, beserta ucapan basa-basi sebagai bungkusnya. Hingga ada semboyan semakin mahal apa yang kau berikan maka akan semakin berkesan. Sementara itu saya menjadi bagian yang menolak semboyan lapuk khas elite birokrat tersebut.

Mungkin saja saya lalai dan menganggap bahwa bagi bapak kritik adalah tindakan jahat. Barangkali bapak merasa orang-orang di sekitar bapak tak pernah bertindak jahat kepada bapak. Cobalah lebih jeli melihatnya, bukan rahasia umum jika bapak kerap memergoki mereka yang sedang diam dan manggut-manggut saja karena takut. Mungkin saja mereka gentar jika profesi atau jabatannya seketika raib. Sebab akan berdampak domino, keturunannya akan menderita setengah miskin. Dalam hal ini agaknya saya sepakat dengan Habermas yang menyatakan bahwa komunikasi hanya akan terjadi di luar situasi terancam. Di luar itu yang terjadi hanyalah komunikasi satu arah.

Maafkan sebelumnya jika saya lebih memilih memberikan bingkisan kado berisi kritik khas kelas menengah. Barangkali lebih tepatnya bisa disebut sebagai upaya untuk mengingatkan kembali. Meskipun terkadang ada bagian dari diri bapak yang sulit dijangkau para kelas menengah seperti saya. Misteri mozaik tersebut hanya mampu saya duga. Akan tetapi saya harap bapak tetap tenang, janganlah khawatir, tentu karena saya bisa disangka menyandang status sosial sebagai kaum intelektual. Maka untuk mengomentari seseorang saya membutuhkan alasan yang rasional.

Masih ingatkah bapak tentang ritus khusus kurang lebih sepuluh tahun yang lalu. Beberapa hari setelah bapak terpilih secara resmi menjadi presiden. Kala itu bapak menyatakan sikap akan mencari sampai ke pangkal siapa pembunuh Munir Said Thalib. Saya rasa bukan hanya siapa, lebih dari itu apa motif dan siapa dalang di balik jejaring para algojo pembunuh Munir. Namun, hingga hari ini tak ada proses pengadilan yang jelas bagi kasus tersebut. Buruknya sistem penanganan hukum di negeri ini membuat kasus tersebut janggal dan mengambang.

Pernah kah bapak merasa kehilangan. Entah itu bagian dari keluarga bapak sendiri atau rekan dekat. Bagi banyak orang, almarhum Munir adalah rekan dekat. Saya rasa lebih dekat daripada hubungan bapak dengan masyarakat. Bagaimana tidak, Munir hadir di antara mereka yang ternodai oleh kasus Hak Asasi Manusia (HAM). Munir ada bersama para korban meraih keadilan.

Tidak, jangan samakan Munir dengan Bapak SBY. Dia tak seperti bapak yang hanya bisa memerintah dari kejauhan. Setelah itu tinggal menunggu laporan apakah perintah bapak sudah di jalankan. Dia tak seperti bapak yang meninjau lokasi dengan pendampingan ketat sekompi pasukan khusus. Dia juga tak seperti bapak yang hanya mendengar realitas yang dilaporkan oleh bawahan bapak yang berada dalam kawasan elite birokrat. Munir ada untuk mendampingi korban Pak, dia mendengar langsung kesakitan, turut berbagi kemuraman, berdialog dengan mereka yang diasingkan, menangani sendiri, tak rela HAM dinodai, dan sebagainya.

Beberapa bulan sebelum pembunuhan, Munir disibukkan dengan penyelidikan untuk kampanye menentang undang-undang tentang Tentara Nasional Indonesia (TNI). Selain itu dia sedang serius menyisir kasus korupsi terkait dengan anggaran untuk perang dan misi sipil militer Aceh. Ada rencana dia akan menuangkan hasil temuannya dalam disertasi yang akan dia selesaikan di Universitas Utrecht. Namun dalam perjalanan menuju Belanda, dia dibunuh dengan cara biadab, memakai senyawa kimia arsenik.

Saya rasa bapak juga tahu jika arsenik merupakan bahan kimia paling beracun. Tiga kali lebih beracun daripada merkuri dan lima kali lipat lebih beracun dari pentavalent. Menurut sebuah studi tahun 1999 oleh National Academy of Sciences, arsenik dalam air minum menyebabkan kanker kandung kemih, paru-paru dan kulit, dan dapat menyebabkan kanker ginjal dan hati. Studi ini juga menemukan bahwa arsenik merusak sistem saraf pusat, perifer, jantung, pembuluh darah, dan menyebabkan masalah kulit yang serius. Zat kimia itu juga dapat menyebabkan cacat lahir dan masalah reproduksi.

Masih ingatkah awal yang bapak lakukan 8 September 2004 yang lalu, memerintahkan penyelidikan secara objektif, terbuka, dan jujur terkait kasus pejuang kejahatan HAM, Munir. Akhirnya Polri meresponnya dengan membentuk tim khusus dipimpin Kombes Pol. Oktavianus Farfar. Tak cukup sampai di situ, bapak kemudian membentuk Tim Pencari Fakta (TPF) melalui Keppres No.111/2004. TPF sendiri beranggotakan perwakilan Polri, Deplu, Depkumdang, Kejaksaan Agung, tim ahli, serta organisasi non pemerintah berjumlah 11 orang. Mereka mulai bekerja efektif semenjak Januari 2005.

Lima bulan setelahnya, menurut kertas kerja berjudul ‘Bunuh Munir’ yang disusun oleh Edwin Partogi, Haris Azhar, Indria Fernida, Papang Hidayat dan Usman Hamid, Januari 2005 lalu, tim penyidik lambat dalam menetapkan tersangka. Kabareskrim mengakuinya, karena menghadapi beberapa kendala, berkaitan dengan belum adanya respon dari pemerintah Belanda berkaitan dengan permintaan sisa organ Munir, belum diperiksanya saksi penumpang yang duduk di samping Munir karena yang bersangkutan berada di Belanda serta pemeriksaan atas pengakuan Pollycarpus yang menyatakan bertugas sebagai mekanik di Bandara Changi.

Berikutnya dugaan keterlibatan para Badan Itelejen Negara (BIN) sengaja diacuhkan. Untuk mengakhiri penyelidikan, diam-diam Polri menggelar rekonstruksi pada 23 Juni 2005, tepat menjelang hari terakhir masa kerja TPF. Rekonstruksi tersebut diadakan tanpa sepengetahuan TPF dan parahnya lagi tanpa diketahui oleh publik. Padahal di awal bapak sendiri yang berkeinginan agar pengusutan kasus dilaksanakan secara objektif, terbuka, dan jujur.

Dalam persidangan yang berlangsung janggal, ada indikasi bahwa Pollycarpus memberikan keterangan yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Ada sesuatu yang sengaja disembunyikan. Dari situlah bisa ditangkap indikator bagi penyidik bahwa diperlukan pendalaman lagi untuk penyelidikan. Terkait apa yang dilakukan Polly dalam pergaulannya dengan beberapa orang di Jakarta masih belum tergali. Serta tentang kejadian-kejadian yang menimpa Polly seperti masalah tabrak lari yang pernah diderita oleh Polly masih belum jelas benang merahnya.

Terlebih terkait dugaan terhadap Muchdi PR yang enggan memenuhi panggilan TPF untuk digali keterangannya. Kala itu TPF hanya berniat melakukan konfirmasi kebenaran kontak telpon antara Polly dengan Muchdi sebanyak 35 kali. Komunikasi tersebut dilakukan sebelum maupun sesudah Munir dibunuh.

Terkait perjuangannya, Munir sebermula memang memiliki ketegangan berkaitan dengan beberapa kasus yang dikawalnya. Mulai dari advokasi kasus Talangsari, Lampung. Hingga yang terakhir tentang peran BIN dalam hal tidak diperpanjangnya izin tinggal dan kerja Sidney Jones, Direktur International Crisis Group (ICG), sebuah lembaga berbasis di Belgia yang pernah mengeluarkan laporan terkait dengan peran intelijen dalam sejumlah masalah sensitif di luar fungsinya. Munir juga turut bersitegang dengan Kepala BIN Hendropriyono, seputar pernyataan dan laporan BIN tentang 20 LSM yang dituduh ingin mengacaukan Pemilihan Umum tahun 2004.

Pak SBY, apakah Sidney Jones yang terus bersemangat mengkritisi masalah keamanan dalam negeri Indonesia itu salah? Apakah secara aktif melindungi masyarakat Papua terhadap pelanggaran HAM adalah perbuatan yang mengancam negara? Apakah negara ini pembenci HAM nomor wahid? Lantas apakah rasional jika Hendropriyono memukul balik mereka yang mendukung Sidney, dengan klaim sebagai penghianat bangsa.

Munir juga terlibat aktif dalam mengkritisi ambisi BIN. Sebagaimana ketakutan sipil bahwasanya kesewenangan militer akan memperoleh legitimiasi lewat undang-undang. Munir mencegah penangkapan secara langsung terhadap orang yang masih dicurigai oleh BIN. Di sisi lain Munir juga melucuti BIN dengan mencegah pemberian ijin penggunaan senjata api. Saya sendiri juga beranggapan penyelesaikan kasus dengan cara kekerasan justru akan memperkeruh keadilan. Pada akhirnya perseteruan dengan aparat tersebut memunculkan dugaan bahwa munir sengaja dibunuh oleh mereka. Semua ini menunjukkan renik fakta bahwa pembunuh Munir mengandung unsur-unsur militer.

Hingga hari ini pelaku utama pembunuhan Munir masih belum ditemukan. Bapak juga pernah menyatakan tak puas terkait keputusan Majelis Hakim tentang penyidikan kasus Munir. Membunuh pejuang HAM di udara pada tubuh jalur internasional bukan hal yang mudah. Butuh kejelian khusus dan ketelibatan banyak orang. Tentu saja dengan memakai teknik senyap sebuah kejahatan kolektif bisa terlaksana.

Pembunuhan terhadap Munir menjadi teror bagi para pejuang HAM lainnya dalam melaksanakan pembelaan di bidang HAM. Terlebih bagi keadilan untuk meraih HAM an sich. Tanpa ada kejelasan siapa dalang pembunuh Munir, maka HAM di Indonesia hanya omong kosong belaka.

Keterlibatan Munir dalam mengawal kasus HAM membuatnya menjadi bagian yang rentan diserang. Pada tahun 2002 dan 2003, kantornya diserang. Lalu pada bulan Agustus 2003, sebuah bom meledak di luar rumahnya di Bekasi, Jawa Barat. Dua hari setelah kematian Munir, istrinya, Suciwati, mendapat ancaman yang dilayangkan ke rumahnya di Jawa Barat. Sebuah kotak berisi ayam yang telah dimutilasi datang beserta pesan pendek, kurang lebih berisi hardikan agar tidak menghubungkan kasus Munir dengan TNI jika tidak ingin berakhir naas seperti ayam yang mereka kirim.

Di balik keriuhan para survivor HAM, Agustus lalu bapak malah sibuk merilis album kelima dan empat antologi puisi. Berhubung beberapa album sebelumnya terbit lalu tenggelam, bulan lalu anda berupaya menggandeng para pesohor dalam bidang musik dan puisi. Meski jauh dari kualitas, saya yakin para pesohor yang mungkin bayaran tersebut mampu menutupi kekurangan anda. Bapak bilang beberapa keresahan yang selama ini diderita di Indonesia bapak terjemahkan dalam daya ungkap lirik dan puisi. Bukankah seharusnya orang seperti bapak lebih memilih untuk menuntaskan daripada menikmati fase terngiang. Atau sekedar menyebarkan keprihatinan melalui pidato maupun jaringan sosial media.

Saya yakin bapak tergolong barisan orang-orang yang bijak. Pasti dengan mudah bapak mampu menelaah lebih dalam apakah arti sebuah pengulangan. Tentu saja bapak akan malu ketika harus merayakan pengulangan dengan perayaan semu. Beberapa hari sebelum bapak berulang tahun, kami juga merayakan sesuatu. Bukan perayaan yang mewah, hanya sekedar upaya untuk mengingat kembali kasus pembunuhan Munir.

Jika sebuah pengulangan dirayakan dengan pestapora, maka tak akan berlangsung lama dan menjadi uforia sia-sia. Pesta telah berhenti sebelum lilin ditiup. Momentum tersebut serupa asap lilin yang berkibar sejenak lalu hilang.

Sebenarnya saya menganggap bahwa perburuan dalang pembunuhan Munir yang bapak lakukan selama ini, hanya sekedar formalitas dari bibir belaka. Kurang seriusnya dalam penggalian kasus pembunuhan Munir, turut menjegal para pembela HAM yang lain dengan ancaman pembunuhan. Sampai sini saya jadi khawatir kesulitan mengakhiri kado panjang ini. Namun saya yakin bapak akan bersedia lebih tegas. Terlebih berani memeriksa orang-orang yang dulu kerap berada di sekitar bapak sendiri. Atas asumsi sementara tersebut saya jadi mendapat semangat untuk memaksakan diri mengakhiri kado ini. Mari pak kita sama-sama saling menguatkan untuk terus merawat ingatan.[]

 


Penulis: Dieqy Hasbi WidhanaKolumnis Portal Berita Pers Mahasiswa Ideas.id. Alumnus Kelas Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau XXII dan Workshop Jurnalisme Keberagaman yang diselenggarakan Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk).