Menggurat Visi Kerakyatan

Jam Malam Menghambat Produktivitas Ormawa

110

Pemberlakuan jam malam di Universitas Jember (UJ), oleh berbagai pihak dianggap merugikan mahasiswa. Hal ini menjadi salah satu bahan pembahasan perwakilan Organisasi Mahasiswa (Ormawa) dari berbagai fakultas di UJ saat berkumpul di halaman Unit Kegiatan Mahasiswa Kesenian (UKMK) UJ pada Rabu (19/2).

Hal tersebut pun ditegaskan kembali oleh Pramoedya Krisna, anggota UKMK, “Memang jam malam itu merugikan mahasiswa dan Ormawa tentunya.” Alasannya, kata Krisna, dengan adanya peraturan jam malam ini tentunya semakin sempit ruang berproses kreatif bagi masing-masing Ormawa yang ada di UJ.

Sebelumnya, sejak Selasa (4/2) kemarin, Ormawa di Fakultas Sastra UJ mulai merasakan dampak dari penerapan peraturan jam malam. Hal ini pun menjadi salah satu pembahasan pada forum konsolidasi yang diadakan UKMK UJ.

Namun tak hanya para pegiat Ormawa di Fakultas Sastra saja rupanya yang merasakan dampak dari pemberlakuan jam malam ini. Lucky Rudhy Aghazsi, anggota UKM Kesenian Kolang-Kaling Fakultas Teknik UJ, mengatakan munculnya peraturan jam malam di Fakultas Teknik membuat para pegiat Ormawa resah. “Saat awal diberlakuannya, kemudian diiringi Surat Keputusan jam malam, kami kaget pastinya,” kata Lucky.

Bahkan di Fakultas Teknik, kata Lucky, Ormawa yang sedang mengadakan kegiatan pernah diusir agar segera meninggalkan kampus. “Kami sempat diusir dari kampus. Kemudian dimintai surat izin penggunaan fasilitas untuk kegiatan yang diadakan,” tutur Lucky kepada reporter Ideas.

Selanjutnya, berbagai perwakilan Ormawa yang hadir dalam forum konsolidasi pun tak luput membicarakan Dr. Ek. M. Saleh, SE, MSc., Pembantu Rektor III UJ sebagai penggagas munculnya peraturan jam malam.

Seperti yang diungkapkan oleh Arum Sekar Suminar, Ketua Umum UKMK UJ kepada reporter Ideas, “Initinya itu, dari pihak rektorat ketika memutuskan sebuah peraturan tidak melibatkan kami (Ormawa). Padahal, tambah Arum, peraturan seperti itu diperuntukkan untuk mahasiswa, khususnya Ormawa.

“Itu kan ada sesuatu yang salah,” kata Arum.

“Maka dari itu kita sebagai agent-of-change harus sadar bahwa bapak kita sedang melakukan tindakan yang salah. Dan kita harus memperingatkan bapak kita,” pungkas Arum.[]