Menggurat Visi Kerakyatan

Hentikan Eksploitasi Gumuk, Selamatkan Masa Depan Jember

174

Ekosistem alam termasuk manusia di dalamnya harus bergerak secara seimbang. Di Jember, ekploitasi gumuk mulai bermunculan pada tahun 1990. Salah satu kandungan gumuk yaitu batu piring, dianggap memiliki nilai ekonomi yang tinggi jika dibongkar. Sebagian besar gumuk-gumuk di Jember dihancurkan demi kepentingan ekonomi segelintir orang saja. Padahal gumuk merupakan fenomena bentukan alam yang unik dan mempuyai fungsi salah satunya sebagai penahan terhadap terjadinya bencana alam.

“Dulu kita sering mendengar bahwa Jember itu kota seribu gumuk. Jadi yang namanya julukan itu kan suatu identitas. Dan identitas itulah yang sebenarnya ingin kita rebut kembali. Dulu bisa dikatakan ada seribu lebih, sekarang sudah tinggal enam ratusan, termasuk salah satunya yang ada dibelakang kita yang kondisinya sudah terekploitasi. Sepertinya sudah hampir rata,” ujar Cak Oyong, Pendiri Sekolah Bermain.

Bagi Cak Oyong, mengembalikan gumuk yang sudah hilang itu mustahil. “Namun masih ada harapan kita dapat mengurangi aksi-aksi ekploitasi dari mereka yang berduit,” imbuhya. Memang sebagian besar gumuk-gumuk di Jember merupakan milik perorangan. Kemungkinan besar untuk mencegah munculnya ekploitasi gumuk masih bisa dilakukan dengan berbagai cara. Entah itu melalui pendekatan persuasif dengan cara menularkan wacana seputar fungsi gumuk atau yang lain.

Ir. Wahyu Giri mencurigai penyebab munculnya puting beliung yang merusak Kota Jember beberapa bulan yang lalu. “Kasus puting beliung di Kota Jember itu kan aneh, beberapa tahun yang lalu ada kejadian seperti itu. Sejak tahun 85 saya tak pernah ada cerita bahwa di Kota Jember pernah ada puting beliung,” ungkapnya. Sebelumnya tak ada catatan dalam sejarah bahwa Jember pernah dilanda puting beliung. Diduga fenomena alam semacam ini muncul karena semakin banyak gumuk yang dihancurkan. Tentu saja seiring dengan kehancuran itu maka fungsi gumuk sebagai penahan dan pemecah angin akan ikut musnah juga.

Menurut Giri, pada Tahun 2005, pernah ada diskusi yang memunculkan pembahasan serius seputar gumuk. Kala itu kesimpulan diskusi didapatan, bahwasanya tidak semua gumuk di Jember yang harus diselamatkan. Namun harus dipilah gumuk yang mana yang memang harus diselamatkan dan gumuk mana yang bisa dirubah menjadi lahan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Akan tetapi tak ada keberlanjutan nyata setelah diskusi itu selesai.

Memang jika dilihat Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Jember yang sekarang masih dibahas, tak ada itu gumuk yang menjadi bentang geologi unik yang harus diselamatkan. Tapi menjadi terancam semuanya untuk tambang, eksploitasi. “Semoga gumuk menjadi bentang geologi untuk yang masuk dalam RTRW,” ujar Giri.

Selain itu Giri juga mengungkapkan harapannya jika pada nantinya gumuk berhasil dilindungi dengan cara membelinya terlebih dahulu. “Kalau gumuk terbeli, mimpinya itu adalah wakaf, mohon maaf bagi yang beragama lain, tapi cuma saya mengistilahkan wakaf ini adalah menjadi kehilangan hak milik. Cuma saya yakin teman-teman yang sudah donasi tidak kehilangan hak pahala. Nantinya (gumuk yang terbeli) untuk apa, gak usah diapa-apakan saja hasilnya sudah lumayan. Tetapi bisa jadi gumuk itu menjadi wahana pendidikan, bisa juga untuk menyimpan atau mengkoleksi tanaman langka, macam-macam lah, mimpi itu bisa dibangun bersama-sama,” jelasnya. Sampai tanggal 26 Juli 2013, dana yang berhasil dikumpulkan oleh Wahyu Giri dan para pecinta alam di Jember yang peduli pada gumuk terkumpul Rp 5.135.707.

Di sisi lain setelah tahun 2005, sumber literasi seputar gumuk-gumuk di Jember tidak berkembang. Seperti apa yang dikatakan oleh Lozz Akbar, blogger Jember, “Jika kita ketikkan kata JFC di google, maka akan temukan banyak sekali informasi. Tapi kalau kita ketikkan kata gumuk, akan kita dapatkan sedikit sekali informasi tentang gumuk. Paling akan kita temui referensi gumuk pasir di Parangtritis atau mungkin tulisan lama teman-teman pecinta alam. Padahal kalau kita pikir, sebelum Jember Fashion Carnaval itu bergema di dunia, kita sebenarnya sudah memiliki ciri khas yang tidak ada duanya di dunia,” ungkapnya.

Seiring tidak berkembangnya referensi seputar gumuk, ternyata tingkat pengetahuan warga Jember terhadap gumuk masih sangat rendah. “Kemarin kurang lebih seminggu yang lalu, saya memasang logo dari save gumuk. Kemudian banyak orang yang bertanya, apa itu gumuk? Ini orang-orang Jember sendiri ternyata masih banyak yang tidak tahu mengenai gumuk,” tutur Akbar.

Lozz Akbar juga menyayangkan penambangan batu-batu yang dikandung oleh gumuk. Dia juga berharap agar kegiatan semacam ini memberikan penyadaran kepada publik mengenai betapa pentingnya fungsi gumuk. “Tapi sayang, lambat laun gumuk dikeruk karena kepentingan seseorang. Mudah-mudahan aja acara ini saling menyadarkan ingatan kita bersama bahwasanya gumuk tidak bisa dikuasai secara individu, tapi buat bersama-sama,” ungkap Akbar.

Mengenai kegiatan itu RZ Hakim, Pemerhati Lingkungan, Vokalis Tamasya mengungkapkan rasa bangganya terhadap Pers Mahasiswa Jember atas terselenggaranya save gumuk dengan menggandeng kerja kolektif jejaringnya. “Untuk acara save gumuk motor penggeraknya kawan-kawan Persma se-Jember. Persma juga tidak menutup mata, mereka juga mengajak komunitas-komunitas yang lain. Salut buat kawan-kawan Persma se-Jember yang bisa mengajak semua komunitas, termasuk mengajak proaktif kawan-kawan pecinta alam, kesenian, dan kawan-kawan punk,” ujarnya.

Acara yang dihadiri ratusan pengunjung ini bertujuan untuk membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga dan merawat gumuk-gumuk di Jember. Memang gumuk-gumuk di Jember sebagian besar adalah milik perorangan. Namun ketika dihancurkan yang menanggung dampaknya bukan hanya Jember tapi Indonesia. Sebab gumuk yang selama ini melindungi kita dari akan hadirnya bencana alam.[]