Menggurat Visi Kerakyatan

Minim Kepedulian Pemerintah Daerah dengan Gumuk, Pemuda Jember Adakan Save Gumuk

96

Gumuk merupakan sebuah gundukan tanah yang menyerupai bukit namun volumenya lebih kecil dari gunung. Dulu Jember mendapat julukan sebagai ‘kota seribu gumuk’. Akan tetapi secara perlahan ribuan gumuk itu hilang satu-persatu. Ternyata kerusakan lingkungan tersebut menarik simpati dari para komunitas, organisasi, dan band untuk bergabung dalam kegiatan malam donasi ‘Save Gumuk’.

Save Gumuk merupakan suatu jalinan kepedulian kolektif dari berbagai macam komunitas di Jember. Kegiatan yang dimotori oleh Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Kota Jember atau Pers Mahasiswa (Persma) Jember ini berlangsung pada Sabtu Malam (28/9) di Gumuk Gunung Batu, Jember, Jatim. Kemudian mereka bekerjasama dengan Sekolah Bermain, Cangkruk Lewat Botol Kosong, dan Young Gun Veins untuk mengembangkan konsep save gumuk. Setelah itu perlahan komunitas-komunitas yang lain mulai berdatangan untuk membantu kegiatan bertajuk ‘Seribu Rupiah Untuk Seribu Gumuk’ tersebut.

Menurut Nurmaida, Ketua Pelaksana Kegiatan Save Gumuk, “Acara ini sebenarnya sederhana. Kami tak berpikir muluk-muluk untuk membeli gumuk. Tapi acara ini adalah langkah awal kita untuk mempersatukan antara UKM, LPM, komunitas se-Jember, dan semua lapisan masyarakat untuk sama sama menjaga kelestarian gumuk,” jelasnya. Ia juga menambahkan Semoga setelah adanya acara ini, banyak mahasiswa dari beragam fakultas maupun universitas yang melakukan penelitian terhadap gumuk.

Dalam sambutannya, Nurul Priyantari, S.Si, M.Si, Pembantu Dekan III Fakultas MIPA Universitas Jember (UJ), sangat menghargai kegiatan semacam ini, “Di tengah berita yang semakin marak tentang kenakalan remaja, di sini kita bisa sangat terhibur dengan kepedulian kalian terhadap alam. Sebagai generasi muda tentunya harus punya kepedulian terhadap alam. Saya sangat mengapresiasi sekali acara ini,” ujarnya. Nurul juga menambahkan harapannya agar acara semacam ini ditindaklanjuti dengan kegiatan lain yang lebih serius.

Gumuk Gunung Batu merupakan salah satu gumuk di Jember yang kondisinya memprihatinkan. Gumuk tersebut sudah tinggal separuh, sedangkan bagian yang lainnya sudah habis dieksploitasi. Dalam kegiatan save gumuk, pemandangan alam yang setengah rusak tersebut dijadikan sebagai background panggung. Selain itu gumuk dihiasi dengan banyak obor dan para pengunjung yang datang diharuskan melalui rute yang disediakan oleh panitia, yaitu melewati gumuk terlebih dahulu sebelum menuju lokasi kegiatan.

Beberapa personil band indie Jember yang hadir dan ikut mengisi acara save gumuk mengungkapkan keluh kesahnya terkait kondisi lingkungan alamnya. “Kita tahu kondisi gumuk di Jember salah satunya seperti yang ada di belakang kita saat ini. Acara ini setidaknya membuat kita sadar bahwa ada hal yang sangat kritis,” ungkap Dion, Vokalis Black Dog. Hal serupa juga diungkapkan oleh Alex Gunawan, Vokalis The Penkors, “Sangat besar peran gumuk bagi masyarakat, dan sangat masuk akal sekali jika kita harus menjaga keberadaan gumuk agar jumlahnya tidak semakin berkurang. Tetap pelihara gumuk yang tersisa. Semoga lebih banyak lagi yang mencintai gumuk-gumuk yang masih tersisa,” ujarnya.

Acara save gumuk ini berisi Acoustic Band Performance, Pembacaan Puisi, Pertunjukkan Tari Kedok Putih, Cangkruk’an, Pengumpulan Koin Untuk Gumuk, Pengumpulan Botol Kosong, Aksi Tanda Tangan Solidaritas Save Gumuk, dan Live Art Performing. Accoustic Band Performance diisi oleh penampilan band indie Jember beberapa di antaranya yaitu, The Penkors, Black Dog, From This Accident, Pispot, Gudang Production, dan Tamasya.

Sedangkan pembacaan puisi oleh dua penyair muda Jember yaitu Halim Bahriz dan Abdul Gani, menjadi suatu momentum perenungan. Oleh karena itu pembacaan puisi berniat mengajak para pengunjung merenungkan seputar hasrat manusia untuk merusak ekosistem alam. “Takdir harus dirumuskan, Di sana kita lahir dan menemukan diri sebagai manusia,” sepenggal syair yang dibacakan oleh Abdul Ghani. Kemudian Tari Kedok Putih dipersembahkan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Seni Kurusetra, Fakultas Ekonomi, UJ.

Live art performing merupakan penampilan para pegiat street art Jember di lokasi kegiatan. Dengan bermodalkan cat semprot, para seniman muda tersebut menunjukkan kebolehannya dalam menorehkan cat di atas vynil. Diantaranya Fiky Old Skull Hart Kore (OSHK), Dullboy OHSK, Asgar Fucking My Name (FMN), Mubin Tuban Rest, Nizar Everything of Art (EVA), Jejaring para artis street art lokal Jember tersebut bergabung dan menggambar bersama di lokasi kegiatan.

Selain itu ada rangkaian acara pengumpulan koin untuk gumuk yang menjadi inti acara save gumuk. Inisasi pengumpulan donasi untuk membeli gumuk ini sudah ada sejak lama oleh beberapa orang pecinta alam di Jember. Mereka berkeinginan untuk merubah status gumuk sebagai kepemilikan pribadi menjadi milik bersama. Oleh karena itu kami berniat mendukung rencana membeli gumuk dengan cara mengumpulkan donasi.

Sebelum kegiatan ini berlangsung, panitia sudah menyebar kotak donasi di beberapa titik. Teknis dan penjagaan kotak donasi dibantu jejaring organisasi maupun komunitas di Jember. Kemudian ketika acara berlangsung, kotak-kotak donasi tersebut dikumpulkan untuk kemudian dijumlah hasil donasinya.[]