Menggurat Visi Kerakyatan

Hari Pertama Lakukan Presensi Geolocation, Mahasiswa Alami Kesulitan

474

Pada Senin (25/01) 2021 UPTTI (Unit Pelaksana Teknis Teknologi dan Informasi) Universitas Jember (UJ) mengunggah video di aplikasi youtube. Video tersebut tentang tutorial penggunaan presensi berbasis geolocation untuk aplikasi Sistem Informasi Terpadu (Sister) For Student atau SFS. Tautan video youtube tersebut tesebar pada mahasiswa di hari yang sama melalui telegram. Sebagai realisasi dari penggunaan presensi ini, pada (22/02) mahasiswa melakukan sistem presensi tersebut di hari pertama masa perkuliahan semester genap tahun akademik 2020-2021.

Muhammad Madrusi, mahasiswa Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UJ mengungkapkan bahwa pada hari pertama perkuliahan, Media Manajeman Pembelajaran (MMP) yang biasanya menjadi tempat untuk presensi tidak bisa diakses. Sehingga ia harus memakai kode bar presensi geolocation untuk presensi di SFS, “Absen di hari pertama down, harus ngakses yang lain,” ucap Rusi pada Selasa (23/02).

Rusi berujar bahwa ia masih kesulitan melakukan presensi meskipun sudah menonton video tutorial presensi geolocation dari youtube, “Kalau aku pribadi sudah, tapi tutorial itu kurang bisa menjelaskan secara spesifik. Langkah-langkahnya bagaimana gitu? Jadi itu menghambat proses absen,” ujarnya.

Kendala yang Rusi rasakan saat melakukan presensi berbasis geolocation adalah keterlambatan presensi karena kurang jelasnya informasi sehingga ia kebingungan,  “Keterlambatan mungkin jadi kendala yang paling aku dan teman-teman rasakan,” ucapnya.

Ia bercerita bahwa teman satu angkatannya mendapat presensi tidak hadir di beberapa matakuliah karena SFS eror, “Sampai saat ini ada beberapa mahasiswa di angkatanku yang alpa dan sekarang sudah dua hari kuliah, kemarin satu mata kuliah, hari ini empat mata kuliah, jadi ada lima mata kuliah alpa,” ungkap Rusi.

Rusi menambahkan bahwa SFS yang mengalami kesalahan, tidak dapat merekam kehadiran mahasiswa tersebut, “Dia sudah absen di awal perkuliahan tapi tetap gak bisa, SFS yang digunakan eror atau menolak gitu,” ujar Rusi.

Hal ini menurut Rusi sangat merugikan mahasiwa. Untuk mengatasi permasalahan tersebut pun, dosen tidak dapat membantu sehingga mahasiwa yang harus mencari solusi sendiri, “Secara pribadi merugikan mahasiswa. Sedangkan kampus tidak mau tahu tentang yang sekarang gitu. Dosen gak bisa bantu. Sedangkan mahasiswa dibikin ribet tanpa ada solusi,” kata Rusi.

Rusi mengungkapkan bahwa presensi MMP lebih efektif dibandingkan geolocation. Ia menganggap sistem geolocation membutuhkan waktu lama untuk presensi sehingga menghambat pemahaman materi perkuliahan, “Menurutku mending pakai yang MMP. Soalnya, pertama mahasiswa itu tidak kehabisan waktu gitu untuk absensi. Kayak gitu kan anggapannya menghambat. Menguras waktunya juga. Dosen ngomong apa sedangkan mahasiswanya masih sibuk  absen dan tidak fokus pada mata kuliah,” ucap Rusi.

Saat menggunakan presensi geolocation, Rusi berharap ada perbaikan sistem ini agar presensi segera terekam sehingga mahasiswa bisa fokus pada perkuliahan, “Untuk absen yang sekarang diperbaiki lagi, supaya tidak menghambat waktu mahasiswa dalam menyerap informasi dari dosen,” harap Rusi.

Kendala juga dialami oleh mahasiswa Program Studi Televisi dan Film FIB UJ, Aprilia Rahmawati. Lia berujar bahwa presensi yang ia lakukan sulit karena tidak bisa segera terekam di SFS, “Di awal aku presensi kayak gini, sulit baget perasaanku, masih harus download (kode bar) di Sister website, kayak gitu kan, masih harus di-scan dan scanan itupun gak langsung masuk gitu, gak langsung bisa ke-record,” ucap Lia pada Selasa (23/02).

Untuk mengatasi permasalahan presensi, Lia mengungkapkan akan mengajukan pemulihan presensi, “Nanti misal kayak ada pemutihan gitu, memperbaiki  presensi, aku mungkin bakal ajuin itu atau ngurusin itu,” ujar Lia.

Sejalan dengan Ruzy, Lia menilai bahwa sistem presensi MMP lebih baik daripada geolocation karena sistem MMP hanya dilakukan melalui website. Sementara geolocation melalui website Sister dan aplikasi Sister (SFS). “Lebih enak pakai MMP menurutku. Soalnya ya meskipun absensinya di website, ruwetnya di situ aja gitu. Gak harus dua langkah gitu kan,” ungkap Lia. []