Menggurat Visi Kerakyatan

Cegah Mahasiswa Berbuat Curang, Universitas Jember Memberlakukan Presensi Berbasis Geolocation

882

Sejak Januari 2021, Universitas Jember (UJ) telah memberlakukan sistem presensi berbasis geolocation. Wakil Rektor II mengeluarkan Surat Edaran Nomor 946/UN25/KP/2021 tentang Sistem Presensi Elektronik Berbasis Geolocation di Lingkungan Universitas Jember pada (14/01). Menindaklanjuti hal tersebut, pada (25/01) Unit Pelaksana Teknis Teknologi Informasi dan Komunikasi (UPTTIK) Universitas Jember mengirimkan broadcast terkait sistem presensi berbasis geolocation melalui telegram.

Bayu Taruna Widjaja Putra, selaku kepala UPTTIK UJ pada Senin (15/01) menjelaskan bahwa sistem presensi geolocation merupakan sistem presensi dengan memanfaatkan titik koordinat di muka bumi yang terdapat dalam teknologi Geographic Information System (GIS). “Presensi berbasis geolocation memanfaatkan fasilitas yang ada dalam teknologi GIS, Geographic Information System, dan itu sudah banyak dimanfaatkan untuk pemetaan, untuk membuat segala sesuatu yang ada kaitannya dengan koordinat di muka bumi,” jelasnya.

Sasaran dari presensi berbasis geolocation yaitu seluruh civitas academica, baik dosen, mahasiswa, dan karyawan UJ. “Sasarannya semua, seluruh civitas akademik, dosen, mahasiswa, dan karyawan,” ungkap Bayu.

Menurut Bayu, tidak seperti presensi Quick Response (QR) code terdahulu yang masih rentan terhadap kecurangan dan terbatas pada akses poin tertentu. Presensi geolocation dapat mencegah terjadinya kecurangan karena kampus dapat memantau lokasi pihak yang melakukan presensi. “Kita benar-benar memantau di mana sih tempatnya yang bersangkutan. Kalau dulu bisa aja dicurangi, kalau yang sekarang untuk dicurangi sangat tidak mungkin,” tutur Bayu.

Bayu juga menambahkan bahwa pada presensi geolocation, mahasiswa bisa mendapatkan QR codenya melalui web sister di kelas masing-masing dan setiap QR code selalu berbeda sehingga setiap mahasiswa memiliki identitas sendiri dan tidak bisa ditirukan. “Itu (QR code) didapatkan ketika anda membuka sister di kelas masing-masing. Untuk saat ini, bagi mahasiswa kami sediakan presensi untuk perkuliahan saja, dan QR code kalau dulu bareng-bareng dan sama, kalau yang sekarang tidak bisa menyalin milik teman,” tambahnya.

Bayu juga mengungkapkan bahwa ketika terjadi masalah jaringan, presensi geolocation dapat tetap berlangsung meski tanpa adanya akses internet dengan syarat harus mengaktifkan Global Positioning System (GPS) terlebih dahulu agar lokasi bisa terekam. “Misal, mahasiswa tidak punya akses internet, tidak ada masalah, tetapi GPS harus aktif,” ungkap Bayu.

Mahasiswa tetap bisa melakukan presensi di MMP. Namun, Bayu menyarankan untuk menggunakan presensi berbasis geolocation. “Kalau saran saya, lebih enak memakai presensi geolocation, tetapi presensi MMP tetap dapat digunakan sebagai alternatif,” ungkap Bayu.

Dhiva Aurelia, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) jurusan Sastra Inggris UJ memberikan komentarnya pada Senin (15/01) terkait presensi berbasis geolocation ini. Ia mengungkapkan bahwa ia mengetahui kebijakan presensi baru ini melalui SE dari universitas yang dikirim di grup WhatsApp angkatan. “Ada surat edaran dari universitas yang dikirim di grup angkatan terkait itu,” ujar Dhiva.

Dhiva juga mengungkapkan bahwa saat mengetahui hal ini, kebanyakan teman-temannya memberikan respon negatif. Menganggap bahwa fitur presensi berbasis geolocation tidak diperlukan. “Awalnya ya kayak ‘apaan sih’ gitu responnya, soalnya kita pikir ini fitur yang tidak perlu,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa teman-temannya juga berpikir jika lebih baik UJ memperbaiki server yang sering down, seperti saat absen dan KRS daripada menambahkan fitur seperti ini. “Teman-teman mikirnya lebih baik UNEJ memperbaiki dulu server yang sering macet karena traffic,” imbuhnya. Traffic adalah aliran data dalam seluruh internet, menurut Dhiva apabila pengakses internet terlalu banyak, server tidak kuat menampung sehingga server menjadi lambat.

Sejalan dengan opini teman-temannya Dhiva merasa bahwa fitur ini tidak terlalu penting dan bersifat terlalu menekan mahasiswa. Karena mungkin ada beberapa orang yang tidak menyalakan GPS untuk alasan tertentu. “Jujur, aku tidak terlalu peduli karena menurutku kurang penting dan tidak bermanfaat buat aku. Dan dengan absen ini, GPS juga harus nyala,” ungkapnya. []