Menggurat Visi Kerakyatan

Baru Direnovasi, Gedung Ormawa FIB yang Masih Layak Huni Direlokasi

Editor: Alit Wahyuni

1.270

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember (FIB UNEJ) merencanakan relokasi gedung Ormawa. Pada (04/10) rencana relokasi ini sudah masuk dalam proses tender, yaitu proses penawaran untuk mengajukan harga. Rencana relokasi ini dimulai dari adanya imbauan kepada beberapa Ormawa, yakni Badan Keluarga Mahasiswa Sejarah (BKMS), Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Melodi Sastra, dan English Department of Students Association (EDSA). Mereka dihimbau untuk memindahkan barang-barang dari gedung sekretariat ke pendopo yang berada di sebelah mushola.

Menurut Sunarlan, Wakil Dekan II (WD II), relokasi sekretariat Ormawa dilakukan karena pihak pusat UNEJ sudah memberikan anggaran untuk FIB. “Kemudian, setelah diberi oleh universitas seperti itu, kita tangkap dengan tangan terbuka. Artinya yang lain-lain, (fakultas) ekonomi sudah, FISIP sudah, ya, kita belakangan,” jelas Sunarlan pada (04/10).

Sunarlan menambahkan, bahwa anggaran yang dikeluarkan untuk relokasi ini berjumlah sekitar Rp. 2,9 miliar. “Kalau saya tidak salah, antaranya sekitar 2,9 miliar (rupiah),” tambah Sunarlan.

Tujuan relokasi gedung sekretariat Ormawa menurut Sunarlan adalah untuk meningkatkan kualitas sarana sehingga dapat lebih menunjang kegiatan mahasiswa. “Sebenarnya pemberian sarana supaya lebih bagus,” ucap Sunarlan.

Selain itu, Sunarlan berujar bahwa relokasi sekretariat Ormawa bertujuan agar aktivitas mahasiswa dan kebersihan gedung sekretariat dapat lebih terkontrol dengan baik. “Kalau di depan kan kita bisa kontrol bersama, termasuk kebersihannya,” ujar Sunarlan.

Sunarlan menjelaskan bahwa gedung Ormawa yang baru akan berisi dua belas ruang yang berada di sisi kanan dan kiri. Awalnya, rencana luas ruang-ruang tersebut berukuran tiga kali tiga meter. Namun, karena pertimbangan lain luas masing-masing ruang akan menjadi tiga kali empat meter. “Kami kan tentu memikirkan adek-adek. Nah, akhirnya muncul (ide), yang depan tangga itu, ada ruang terbuka itu, nanti bisa untuk diskusi, bisa untuk lesehan, begitu ya. Nah yang ini bisa tiga kali empat (meter). Akhirnya, agak maju dikit,” jelas Sunarlan.

Bangunan sekretariat Ormawa yang lama akan dialihfungsikan sebagai gudang fakultas. Nantinya, gudang tersebut dapat digunakan sebagai tempat penitipan barang-barang Ormawa. “Terus kemudian yang belakang kita jadikan gudang, tapi untuk adik-adik mahasiswa yang punya barang-barang banyak seperti Swapenka (Mahasiswa Pecinta Kelestarian Alam), nitip disanalah,” tutur Sunarlan.

Sebelum ada kebijakan relokasi, sekretariat Ormawa pernah direnovasi pada tahun 2019. Sunarlan berkata jika pada renovasi gedung sekretariat saat itu, belum ada obrolan tentang rencana relokasi gedung sekretariat tersebut.

Dwista Ratna Santika adalah ketua umum PSM Melodi Sastra. Ia menjelaskan bahwa pada Rabu (18/08) ia menerima telepon dari salah satu petugas akademik. Dia diminta untuk memindahkan barang-barang sekretariat. “Tanggal 18 Agustus aku ditelepon sama salah satu petugas di akademik,” ucap Dwista pada (27/09).

Dwista mengaku bahwa ia tidak mendapatkan informasi resmi dari pihak kampus mengenai diberlakukannya kebijakan relokasi sekretariat. “Cuma ditelpon secara personal sama pihak akademik itu,” ujarnya.

Barang-barang gedung sekretariat tersebut kemudian ditempatkan sementara ke pendopo gudang gamelan yang terletak di sebelah mushola FIB. “Barang-barangnya BKMS, PSM, sama EDSA itu ada di pendopo depan,” kata Dwista.

Mengenai lokasi gedung sekretariat Ormawa yang baru, Dwista mengatakan bahwa menurut Sunarlan, gedung Ormawa akan dipindahkan ke lahan parkir dosen dan karyawan. “Pak Narlan ngomong ke aku, rencana gedung baru ini. Jadi, gedung baru itu rencananya dibangun di parkiran dosen yang ada atapnya,” tuturnya.

Dwista menyayangkan keputusan relokasi tersebut, hal ini dikarenakan gedung sekretariat baru saja direnovasi. Gedung sekretariat tersebut juga belum ditempati mahasiswa karena selama pandemi mereka beraktifitas di rumah. “Gedung baru kok mau diubah lagi, ngapain gitu maksudnya,” kata Dwista.

Selain itu, Dwista juga menyebutkan bahwa Ormawa lainya selain PSM Melodi Sastra, BKMS, dan EDSA, baru menerima kabar tersebut setelah 12 hari sejak pemberitahuan pertama, yaitu pada tangal 30 Agustus. “Tanggal 18 ke tanggal 30 (Agustus),” ucapnya.

Dwista berharap, pihak kampus dapat bersikap lebih transparan terkait dana yang dikeluarkan untuk relokasi sekretariat Ormawa, karena menurutnya mahasiswa berhak tahu kejelasan tentang hal tersebut. “Transparasinya sih kalo kata aku. Kita kan pihak mahasiswa juga perlu tahu kejelasan dana itu pembagiannya kayak gimana, maksudnya alokasinya kayak gimana,” ucapnya.

Pendapat lain diutarakan oleh Shanty Handayani, ketua umum BKMS. Shanty berpendapat bahwa kebijakan relokasi sekretariat memiliki dampak positif dan negatif. “Dari sisi positif, secara tidak langsung ormawa juga diperhatikan terkait sarana dan prasarana,” kata Shanty pada (26/09).

Untuk sisi negatifnya, menurut Shanty bangunan sekretariat Ormawa yang sekarang masih layak untuk ditempati. Terlebih lagi, bangunan tersebut baru saja direnovasi. “Bangunan sekretariat yang lama relatif baru direnovasi, rasanya sayang untuk ditinggalkan, karena masih layak untuk ditempati,” ungkapnya.

Shanty menyarankan, alokasi dana yang digunakan baik untuk merenovasi atau membangun gedung sekretariat Ormawa yang baru dapat dialihkan untuk keperluan lain. “Anggaran pembangunan gedung baru atau renovasi gedung lama yang dikucurkan mungkin dapat dialihkan untuk keperluan yang lain ataupun kegiatan kemahasiswaan yang lain,” kata Shanty.

Shanty berharap relokasi sekretariat ke tempat yang lebih mudah dipantau oleh pihak dekanat dapat memberikan manfaat bagi Ormawa. Menurutnya, kinerja Ormawa dalam menjalankan kegiatannya akan meningkat apabila terpantau oleh pihak dekanat. “Dengan adanya perhatian dan pantauan langsung yang diberikan oleh pihak dekanat harapan kedepannya ormawa dapat lebih maksimal dalam menjalankan program kegiatannya,” ujar Shanty. []

 

Catatan: Sunarlan selaku salah satu narasumber dalam berita ini meninggal dunia pada Jumat, 29 Oktober 2021. Wawancara dilakukan pada Senin, 4 Oktober 2021.