Menggurat Visi Kerakyatan

Angkat Sejarah Egrang Lewat Kreasi Pertunjukan Seni

129

Egrang rupanya bukan hanya sebatas permainan tradisional yang sering dimainkan oleh anak-anak. Hal ini dibuktikan oleh kreasi anggota muda UKMF Seni dan Budaya Kurusetra Fakultas Ekonomi Universitas Jember (FE-UJ), dalam sebuah panggung pertunjukan bertajuk “Egrangmu Egrangku”. Berlangsung di lapangan basket FE-UJ pada Sabtu (24/05), anggota muda UKMF Seni dan Budaya Kurusetra memvisualkan sejarah dan latar belakang keberadaan egrang lewat pemutaran film, seni tari, teater, dan musik.

Sebelum pertunjukan ini dihelat, penyelenggara melakukan obeservasi soal sejarah dan keberadaan egrang di masyarakat di Komunitas Belajar Tanoker Ledokombo, Jember. Berdasarkan hasil observasi tersebut, ditemukan bahwa egrang bukan hanya sekadar permainan anak-anak.

Unggul Purnomo Aji, ketua panitia kegiatan, menyebutkan bahwa pada mulanya egrang pada zaman dahulu sudah digunakan sebagai peralatan yang membantu kehidupan manusia. “Sebenernya egrang ini bukan hanya permainan sebenarnya dulu. Sebenernya digunakan sebagai alat akan tetapi di kembangkan lagi sebagai permainan,” kata Unggul. Karena itu, anggota muda UKMF Seni dan Budaya Kurusetra memutarkan film dokumenter tentang sejarah egrang, pertunjukan tari, dan teater yang memadukan egrang sebagai instalasi panggung.

Menanggapi konsep pertunjukan yang menggunakan egrang sebagai instalasi panggung, Novan Dwi Saputra, penggiat teater di UKMF Seni dan Budaya Kurusetra, mengatakan bahwa egrang memiliki relasi dengan upacara adat dan tradisi masyarakat. “Tidak masalah ketika egrang itu dipentaskan, karena dulu itu selalu ada pementasan egrang sama halnya dengan permainan tradisional lainnya yang memiliki makna dalam upacara adat ada tradisi yang dipakai dsitu,” kata Novan.

Sementara itu, Drs. Sonny Sumarsono, M.M., Pembantu Dekan III FE-UJ mendorong mahasiswa untuk selalu aktif dalam kegiatan organisasi mahasiswa di lingkungan kampus. Sehingga mahasiswa, kata Sonny, tidak hanya terpaku pada target indeks prestasi tinggi ketika belajar di kampus. “Saya sampaikan bahwa untuk menyongsong masa depan ini, semata-mata mahasiswa itu tidaklah hanyalah IPK 4. Karena memang sudah jamannya kuliah-pulang itu sudah tidak jaman,” kata Sonny ketika memberikan sambutan dalam pembukaan acara.[]

 

Reporter: Alifah Zaki Rodliyah
Penulis: Kholid Rafsanjani