Menggurat Visi Kerakyatan

Dewan Kesenian Kampus (DKK) Gelar Pameran “Muda Mudi Mudo Vol. 2: Layers” Usung Tema Utopia dan Folks

Penulis: Desti Sagita
Editor: Ichwan Widiyanata Prayogi

58

Dewan Kesenian Kampus (DKK) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember (FIB Unej) menggelar pameran seni kontemporer Muda Mudi Mudo Vol. 2: Layers di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Unej pada (9–11/12). Mengusung tema “Utopia dan Folks”, pameran ini menghadirkan gagasan tentang ruang ideal yang dipertemukan dengan keseharian masyarakat.

Averina Firstly Salsabila, produser pameran, menjelaskan bahwa tema “Utopia dan Folks” dalam pameran Muda Mudi Mudo Vol. 2: Layers berangkat dari pemikiran utopis para pengkarya yang muncul dari keresahan mereka terhadap masyarakat. “Keresahan itu kami kembangkan menjadi gagasan utopis yang tetap terhubung dengan folks, supaya karya tidak berhenti pada kami saja, tetapi bisa dirasakan dan dipahami masyarakat,” ujar Ave.

Setiap pengkarya membawa gagasan berbeda yang mereka jelaskan melalui karya masing-masing. Rama Ryan Adidarma, mahasiswa Sastra Indonesia 2023, memaparkan bahwa karya kolaboratifnya berjudul “Menuju Wahana Otonomi” merupakan gabungan dari karya Baghas Dwi Prakoso, Riski Rosalinda, dan Muhammad Aiman Hannan. Ia menjelaskan meski berangkat dari pengalaman berbeda, keempat karya itu dipertemukan oleh tema tentang keterikatan lingkungan sosial dan keinginan untuk bebas. “Hal yang sama di antara kami adalah lingkungan yang membuat kami terikat pada banyak hal. Lewat karya ini, kami ingin menunjukkan bahwa pada akhirnya yang kami inginkan hanyalah kebebasan,” ujar Rama.

Pengkarya lain yang menampilkan karya berjudul “Berisik” adalah Alya Aurellia Ananta, mahasiswa Ilmu Sejarah 2023. Ia menggunakan magot yang menggerogoti pare, telur, sarang burung, beras, dan halaman terakhir buku Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer karya Pramoedya Ananta Toer. Menurut Alya, proses itu menggambarkan kebisingan sosial yang menggerogoti perempuan melalui komentar dan stigma. “Isu jugun ianfu menunjukkan bagaimana perempuan dijanjikan sesuatu tetapi justru dieksploitasi. Banyak perempuan, termasuk pekerja seks, dihakimi tanpa melihat kondisi mereka,” ujar Alya.

Salah satu pengunjung, Muhammad Fatahillah Akbar, mahasiswa Sastra Indonesia 2023, menilai bahwa meskipun setiap pengkarya membawa ide dan gagasan yang berbeda, tema utopia dan folks membuat seluruh karya tetap saling terhubung. “Pengkaryanya banyak dan karyanya berbeda-beda, tetapi dengan tema utopia dan folks semuanya saling terhubung. Maksud setiap karya berbeda, tetapi garis besarnya tetap punya keterkaitan,” jelasnya. 

Ia berharap DKK terus menghadirkan pameran serupa yang relevan dan dapat dinikmati oleh masyarakat. “Harapannya semoga DKK bisa menggelar acara semacam ini karena menunjukkan seni yang dekat dengan masyarakat dan memiliki makna yang bisa diambil. Semua hal bisa menjadi seni selama kamu bisa menikmatinya, sama halnya dengan pameran DKK ini,” pungkasnya. []

Leave a comment