PLATFORM DIGITAL SEKOLAH SASTRA ANAK: DORONG LITERASI DAN EMPATI DI TENGAH KEBERAGAMAN JEMBER
Penulis: Ichwan Widiyanata Prayogi
Editor: Desti Sagita
Sekolah Sastra Anak (SSA) resmi meluncurkan platform digital sebagai upaya menggencarkan budaya literasi anak yang menyenangkan dan inklusif pada Minggu (9/11). Kegiatan yang berlangsung selama dua hari di dua lokasi berbeda, yaitu Auditorium Perpustakaan Daerah Kabupaten Jember dan Al-Kautsar Education Center, Sumbersari, melibatkan guru, anak-anak, serta komunitas literasi untuk menjelajahi dunia membaca secara interaktif dan kreatif.
Acara yang digelar selama dua hari ini diawali pada Sabtu (8/11) dengan pelatihan teknik mengajar interaktif serta penggunaan Learning Management System (LMS) bagi para pegiat literasi. Sementara itu, pada hari kedua, SSA secara resmi meluncurkan platform digitalnya melalui program “Anak Melek Literasi Digital” yang menghadirkan pengalaman membaca dan berekspresi melalui media digital.
Zahra Fadia Siti Haliza, inisiator Sekolah Sastra Anak (SSA), menyampaikan bahwa adaptasi terhadap perkembangan teknologi menjadi langkah penting agar literasi tetap relevan bagi anak-anak masa kini. “Membaca sastra anak penting untuk perkembangan nalar dan empati seorang anak, tetapi perubahan zaman membuat kita sebagai pegiat literasi juga harus adaptif. Kami tidak bermaksud mendorong anak-anak lebih dekat dengan gadget, kami hanya ingin agar kesempatan mereka mempelajari dunia digital dimulai dengan hal-hal yang positif dan produktif,” ungkapnya.
Zahra menambahkan, keterlibatan anak-anak dalam ruang digital justru membuka kesempatan lebih luas bagi mereka untuk mengekspresikan diri dan berbagi karya. “Anak-anak senang sekali kami ajak berkarya di ruang digital. Ruang digital mampu menyibak batas ruang dan waktu sehingga karya yang mereka unggah dapat diapresiasi oleh banyak orang kapan pun dan di mana pun,” jelasnya.
Pendekatan literasi berbasis partisipasi ini menempatkan anak bukan sekadar sebagai penerima pengetahuan, tetapi juga sebagai pencipta dan kolaborator. Melalui praktik langsung penggunaan platform digital, sesi membaca bersama, dan proyek kreatif, kegiatan ini mendorong lahirnya generasi pembaca yang imajinatif serta memiliki empati yang kuat.
Senada dengan hal tersebut, Ghanesya Hari Murti, S.S., M.Hum., anggota tim pengabdian Universitas Jember (Unej) Kemenristekdikti Berdampak, menilai bahwa adaptasi ini membawa dampak penting bagi penguatan literasi anak. “Platform digital memungkinkan anak-anak saling melihat dan mengapresiasi karya satu sama lain. Proses digitalisasi menjadikan karya mereka lebih inklusif, sekaligus menumbuhkan empati dan kepedulian di tengah ruang kebudayaan Jember yang kaya akan tradisi, mulai dari Madura, Jawa, hingga Tionghoa. Melalui karya-karya yang lahir dari keberagaman itu, harapannya anak-anak turut berkontribusi dalam merawat nilai-nilai inklusivitas,” tegasnya.
Zahra berharap bahwa platform digital ini tidak berhenti sebagai proyek sesaat. SSA menargetkan agar platform ini terus dipakai sebagai ruang kreasi bagi anak-anak. “Ke depan, kami ingin anak-anak terbiasa menyampaikan gagasannya melalui media yang mereka sukai. Entah melalui gambar, suara, atau tulisan, semuanya adalah bentuk literasi yang hidup. Harapannya, ini menjadi motivasi bagi mereka untuk terus membaca dan berkarya,” pungkasnya. []