Menggurat Visi Kerakyatan

Kuliah Ilmu Sejarah, Mimpi Akreditasi Cemerlang Nasib Mahasiswanya Remang-Remang

Kontributor: Muhammad Bimvanka Ridho Abdhillah
Penyunting: Redaksi Ideas

187

Sebagai mahasiswa Ilmu Sejarah, guncangan stereotip nggak punya masa depan dan hidup menjadi pengangguran dengan gaya adalah hal biasa. Kebanyakan dari kami ketika ditanya “kenapa masuk ilmu sejarah?”, pasti akan menjawab dengan kepala tegak “karena kami ingin menggali identitas bangsa”. Meski kebanyakan orang menggumam kalau kuliah di jurusan ini cuma buang-buang waktu dan duit, diriku tetap riang gembira menjalaninya.

Bersama kawan sejawat lainnya, aku menjalani hidup sebagai mahasiswa sejarah dengan secerca harapan pengetahuan. Paling tidak, kami berharap duit UKT kami nggak sia-sia.  Mendengarkan dengan tekun sabda dosen ketika di depan kelas setiap mata kuliah dimulai adalah ikhtiar kita. Ketika perkuliahan berlangsung, beliau-beliau ini membuka pembelajaran dengan tampilan slide yang ngebuat kita bengong sejenak. “Old school gila nih PPT, seru nih pasti kuliah” kata salah satu kawanku ketika masih semester satu.

Tapi, itu hanya pandangan mahasiswa baru yang lugu. Hari ini, kami tengah diterpa dilema setelah melewati empat semester dengan lucu, unyu dan fafifu. Saya merasa, makin kesini kuliah di jurusan Ilmu sejarah nggak semenarik ketika masih menjadi mahasiswa baru. Pembelajaran monoton membuat gairah kami tidak semembara seperti awal semester satu. Apalagi materi dan cara mengajar beberapa dosen dari dulu sampai sekarang nggak ada bedanya. Rasanya, belajar sejarah di kelas seperti memutar ulang sinetron kolosal. Dengan nada layu dosen membaca PPT kuno disertai template, dan materi itu-itu saja di setiap semesternya. Perbedaanya hanya isi dan informasi di mata kuliah satu dengan lainnya. Untuk metode ajarnya? bahkan mahasiswa yang sering titip absen pun tahu arah sinetron kolosal tersebut.

Saya sempat mengira metode mengajar seperti ini hanya terjadi di tahun-tahun awal, mungkin pengenalan cara belajar, istilahnya step by step lah. Tetapi makin kesini kok cara ajarnya terus berulang-ulang dan nggak berubah sama sekali. Lagi-lagi dengan gaya vintage seperti naskah yang terselip di rak paling berdebu, dosen berharap mampu menciptakan mahasiswa berpikir maju. Tetapi kenyataannya, kebanyakan dari mahasiswa hanya mewarisi kebosanan dari metode cara ajar usang.

Lebih ekstrim lagi, metode ajar dari salah satu dosen kadang membuat mahasiswa ketar-ketir. Dongeng ngelantur kesana-kemari, tidak memberi referensi buku serta sumber bacaan lainnya dan di minggu kelima tiba-tiba makalah harus siap untuk dipresentasikan sampai satu semester selesai. Mahasiswa maju satu persatu sedangkan lainnya hanya mendengar suara kertas kosong tanpa muatan apapun sambil menunggu tiket antrian kedepan. Ketika waktu presentasi, alih-alih mendapatkan arahan, justru kami dicerca habis-habisan. Katanya nggak menguasai materi, dan sumber yang kami gunakan tidak valid. Gumam ku, kok bisa mahasiswa tidak menguasai materi dan sumber yang digunakan nggak valid, emang pengajarnya siapa?

Tetapi, ditengah krisis nasib mahasiswa sejarah yang semakin remang-remang, petinggi prodi hanya sibuk berdansa dengan file excel demi laporan tahunan. Alih-alih berupaya memoles metode belajar agar mahasiswa tak lagi ngang-ngong saat ditanya “siapa bapak sejarah Indonesia dan sebutkan karyanya?” Justru mereka sedang lari sprint untuk mengejar akreditasi unggul yang entah kapan finishnya. Ketika gagal tergaet, kami yang disalahkan karena kurang menguasai materi perkuliahan. Sedangkan beliau-beliau ini saja nggak sepenuh hati mengajar kami. Akses buku minim, nggak ada update urgensi kajian sejarah yang relevan untuk hari ini, fasilitas pendukung apalagi. Aku sampai hari ini saja nggak tahu apa fungsi laboratorium sejarah selain jadi tempat ngumpul kacung prodi. Alih-alih menjadi juru selamat, urusan akreditasi justru membawa mimpi buruk bagi akal sehat mahasiswa.

Nilai A seperti nasi kotak 17-an yang dibagi-bagikan asal semua merasakan, biar semua kebagian dan kelihatan merata, padahal muatannya sekedar formalitas borang belaka. Beberapa mahasiswa yang sampai hari ini tidak bisa membedakan antara Eduard Douwes Dekker dengan Ernest Douwes Dekker mampu gemilang dengan menggaet IPK 3,95, asal rajin absen dan pandai mengangguk diantara resolusi pecah materi sampah.

Sebenarnya untuk apa mengejar akreditasi unggul ketika mahasiswanya terseok oleh kedunguan pikiran. Ruang kelas seharusnya dipenuhi perdebatan perbedaan sudut pandang, malah berubah seperti tayangan usang program TVRI tahun 90-an. Katanya ilmu sejarah itu multi perspektif? Tapi nyatanya, prespektif kami saja nggak diterima. Jadinya, kami hanya bisa duduk diam sembari mendengarkan dongeng heroisme dosen ketika masih muda, kalau menyela dan mendebat dibilang tidak punya etika. Hasilnya, ketika kelas selesai bukannya dipenuhi pemahaman, malah isi kepala penuh keraguan dan pertanyaan, “ini kuliah apa kursus dongeng?”.

Tapi beginilah nasib remang-remang mahasiswa sejarah hari ini bahkan di masa depan nanti. Urusan borang yang tersusun dalam excel hingga rapat berdurasi marathon tak kunjung menyelamatkan kami dari jebakan slide usang serta ruang kosong sinetron kolosal. Kami hanya bisa tertawa getir di barisan belakang dengan metode belajar tidak adaptif. Kisah kami mirip seperti catatan kaki dalam buku sejarah tebal, tercantum keberadaanya, tetapi tidak dibaca apalagi dipahami. Kami hanya sekedar pernak-pernik akreditasi cemerlang yang tak kunjung terang. []

Leave a comment