Menggurat Visi Kerakyatan

Sebuah Surat Untuk PD II Fakultas Sastra Universitas Jember

220

Yang saya hormati dan saya cintai, Pembantu Dekan II (PD II) Fakultas Sastra Universitas Jember (FS-UJ) Ibu Latifatul Izza atau lebih akrab saya panggil Bu Iik. Perkenalkan nama saya Mohammad Sadam Husaen, Mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2011. Perlu saya cantumkan Nomer Induk Mahasiswa (NIM) saya? Saya Bukan siapa-siapa, saya hanya mahasiswa biasa, laki-laki, masih hidup, suka bolos, titip absen, nongrong di depan kelas sembari menunggu dosen dan mendekati mahasiswi baru layaknya mahasiswa pada umumnya.

Bu Iik yang cantik dan bijaksana, bagaimana kabar anda hari ini? Saya harap hari ini anda sehat wal-afiat dan selalu diberkati Tuhan yang maha segalanya. Jangan seperti saya yang kesehariannya sangat tidak sehat. Sering keluyuran, tak henti-hentinya merokok, berdiskusi di warung kopi sampai larut malam dan bahkan selalu dikepung ingatan tentang mantan. Ngomong-ngomong apakah anda pernah galau gara-gara mantan? Sebaiknya jangan diingat, rasanya sangat tidak menyenangkan. Saya rasa anda lebih galau memikirkan kegiatan dan fasilitas yang ada di kampus, benar kan Bu?

Saya menulis surat ini setelah mendengar desa-desus dari berbagai mahasiswa. Kabarnya anda hendak membenahi halaman sekretariat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) FS-UJ.  Kemudian saya sempatkan untuk melihat ke kawasan UKM FS-UJ yang letaknya di belakang fakultas. Ternyata, disana sudah banyak tumpukan pasir dan paving. Anda memang perhatian sekali dengan kebutuhan mahasiswa, apalagi pada kawan-kawan mahasiswa yang bergiat di UKM.

Sebagai salah satu pimpinan fakultas, pembimbing mahasiswa, pengatur stabilitas kampus, penjaga budi pekerti yang benar serta pewaris amanat Dikti dan Kemendikbud, tentu Anda menginginkan yang terbaik bagi mahasiswanya. Tidak mau mahasiswanya kesulitan dan mengeluh tentang fasilitas kampus, karena itu tanggung jawab anda sebagai PD II.

Sebagai salah satu mahasiswa FS-UJ, saya sangat menghargai apa yang anda rencanakan. Seperti menghargai jasa para mantan yang telah mewarnai hidup saya. Saya juga sangat percaya bahwa keputusan anda sudah dipertimbangkan matang-matang. Seperti keputusan menutup kantin sebagai sarana bertemunya kaum ‘atas’ dan ‘bawah’, membangun kamar mandi baru yang membuat ruang kemahasiswaan sedikit bau pesing, merombak Aula FS-UJ layaknya loby hotel yang sulit dipakai untuk kegiatan mahasiswa, merenovasi sekretariat UKM tanpa melihat kebutuhan UKM-nya dan sekarang akan memasang paving di halaman UKM yang ditumbuhi banyak tanaman.

Apapun yang menjadi keputusan dan kebijakan anda, itu hanya untuk mahasiswa. Mahasiswa tentu salah ketika menolak kebijakan yang diambil oleh Ibu. Difasilitasi kok malah ngelawan, seperti pribahasa Jawa dikek i ati kok ngerogo rempelo.

Saya paham kok Bu, mahasiswa harus menghargai apapun yang dilakukan oleh para pimpinan fakultas. Mahasiswa yang melawan itu tidak perlu diperhatikan Bu. Mereka hanya mahasiswa kok, tidak bisa menurunkan anda dari jabatan PD II, mereka hanya bisa menurunkan Soeharto yg sempat menerapkan rezim otoritarian di indonesia. Itu pun dulu, jadi anda santai saja.

Ibu PD II yang baik dan bijaksana, saya adalah salah satu mahasiswa yang menikmati hasil dari kebijakan dan keputusan yang Ibu ambil. Tapi saya rasa anda tidak perlu terlalu boros, tidak perlu berlagak seperti pahlawan kesiangan dengan memakai uang pribadi hanya untuk membenahi fasilitas kampus. Lebih baik Ibu memakainya untuk membeli aksesoris dan alat kecantikan agar Ibu tetap terlihat anggun, cantik jelita dan mempesona. Anda sebagai PD II tentu tahu kalau ada dana besar yang dikucurkan oleh kampus untuk membenahi fasilitas yang ada, jadi anda tidak perlu terburu-buru. Mahasiswa masih bisa sabar kok, menunggu tanpa kejelasan dana kegiatan yang sudah hampir setengah tahun belum juga cair.

Anda juga tak perlu lari kesana-kemari. Ingat kesehatan Bu, tak perlu pusing sampai-sampai anda harus meluangkan waktu untuk curhat kepada mahasiswa tentang kebijakan baru dana kegiatan dan pembangunan yang semakin sulit. Itu membuang waktu anda yang sangat berharga. Mahasiswa tidak mungkin mengerti apa yang anda jelaskan, karena mereka memang sedang menagih apa yang menjadi hak mereka. Mahasiswa tentu tak mau tahu tanggung jawab anda sebagai PD II yang dibayar oleh negara. Mahasiswa itu memang sak karepe dewe, Bu.

Para mahasiswa yang melawan itu tentu tidak melihat sisi baik dari kebijakan yang Ibu ambil. Mereka mungkin sedang terjebak pada romantisme ’98. Romantisme tentang khitoh mahasiwa sebagai agen of change. Mereka belum sadar bahwa sekarang sudah bukan zamannya lagi. Sekarang zamannya kampus memproduksi robot-robot siap kerja dan berpenghasilan kan? Mahasiwa yang penurut dan berakhlakul karimah lah yang dIbutuhkan di kampus religius macam Universitas Jember (UJ).

Iman dan syariat Islam harus ditegakkan di UJ, yang tidak semua mahasiswanya beragama islam ini. Saya sangat setuju dengan gagasan Pak Saleh selaku Pembantu Rektor III UJ yang imannya sahih melebihi para ulama lain.

Bu, anda adalah tauladan yang sangat baik. Bu Iik adalah pemimpin yang pengertian, tak hanya pada mahasiswanya tapi juga pada warga di sekitar kampus UJ. Buktinya Ibu berani menutup kantin sastra yang menjadi salah satu ruang publik paling digemari oleh mahasiswa dan dosen.

Sebelumnya saya minta maaf, saya menebak niat baik Ibu menutup kantin sastra agar mahasiswa bisa membaur dengan masyarakat di luar kampus. Lebih baik para mahasiswa setelah kuliah tak perlu makan di kantin kampus dan nongkrong bersama para dosen. Mending para mahasiswa pulang, mengerjakan tugas dan makan di luar kampus agar tahu kondisi sosial di luar kampus.

Itikad anda memang sangat mulia, karena mahasiswa harus peka dengan realitas sosial. Bukan malah ngobrol tentang pengekangan dan hal-hal tidak baik yang sudah terjadi di kampus perjuangan ini. Mahasiswa harusnya ngobrol tentang pacar yang sebentar lagi menjadi mantan, begitu kan Bu?

Anda juga pasti tahu sejarah revolusi Prancis, tentu tak patut dipertanyakan lagi. Bisa dibilang dalam hal pengetahuan sejarah anda sejajar dengan Nugroho Notosusanto, sejarawan yang dengan baik hati membantu Soeharto untuk merumuskan sejarahnya sendiri. Selain itu, anda juga sudah menulis buku tentang sejarah yang hampir semua datanya sahih dari website sharing Wikipedia yang bisa diedit oleh semua orang itu. Yang saya tahu revolusi Prancis berawal dari ruang publik yaitu di warung kopi, benar atau tidak Bu? Jika salah tolong dibenarkan.

Maafkan jika saya salah, karena dosen yang mengajari saya hanya memakai referensi seadanya dan kurang kreatif mengajar mahasiswanya.

Kembali pada ruang publik kampus, saya pernah mendengar konsep ruang publik atau Public Sphere ini dikeluarkan oleh Jurgen Habermas. Apa anda tahu darimana saya mendengar konsep itu? Di luar kampus tentunya, dari diskusi-diskusi yang saya ikuti karena metode pengajaran di kampus masih setingkat Sekolah Menengah Atas. Dosen berceramah di depan sembari membaca slide tanpa ada proses dialektika.

Saya sempat menemukan proses dialektis yang menyenangkan di kantin sastra, tapi saya tidak menolak kebijakan anda menutup kantin lho. Saya penurut kok, saya takut nilai saya jelek kalau melawan dosen. Terlihat bar-bar ya, tapi realita seperti itu masih ada kok di kampus ini. Kenapa saya tidak kontra dengan keputusan anda untuk menutup kantin? Karena saya tidak mau anda ketakutan dengan obrolan seru yang terjadi di kantin.

Saya ingat, dulu di kantin sering terjadi proses pertukaran informasi dan berbagai pandangan berkenaan dengan pokok persoalan yang tengah menjadi perhatian umum di kampus, terutama FS-UJ. Kantin sebagai Public Sphere membuat fakultas terlihat hidup karena disitu muncul keaktifan mahasiswa untuk berpikir bebas, saling bertukar wacana dengan dosen. Karena tak ada sekat di ruang publik, tidak seperti di dalam kelas.

Tapi kalau dibiarkan lama-lama seperti itu juga tidak baik, stabilitas kampus bisa terganggu dengan hak berpendapat dari para mahasiswa dan para dosen. Fakultas sastra bisa-bisa dianggap fakultas paling kolot karena terus melawan. Itu tidak baik bagi masa depan para pemimpin yang sedang mengejar citra. Iya kan?

Kalau tidak ada kantin kan kampus bisa lebih damai. Ibu tidak takut muncul perlawanan dari kalangan mahasiswa, tidak ada proses dialektis yang dianggap bid’ah disana-sini. Struktur sosial harus ditegakkan Bu, mahasiswa harus sadar bahwa mereka anak dan para dosen adalah orang tua. Bagaimanapun seorang anak harus menuruti perintah orang tua, karena membantah perintah orang tua adalah dosa besar. Sungguh mulia memang apa yang diharapkan oleh pihak birokrasi UJ, saya kagum.

Ibu PD II yang baik, anda juga pernah bilang kalau akan membangun pujasera di halaman belakang fakultas? Ah, mungkin anda sudah lupa, seperti saat saya melupakan kenangan indah dengan mantan ketika sudah punya pacar baru. Saya tidak berniat mengingatkan anda kok, saya cuma bertanya. Toh mau dibangun atau tidak itu otoritas anda. Saya sarankan lebih baik jangan dibangun kalau nanti pujaseranya dipenuhi barisan iklan rokok.

Ada satu lagi keputusan anda yang sangat saya hargai yaitu merombak aula. Karena setelah aula itu dirombak banyak tokoh-tokoh terkenal yang datang ke FS-UJ, mulai dari sastrawan, sejarawan bahkan ulama-ulama berbasis kompetensi. Saya sangat bangga menjadi salah satu mahasiswa FS-UJ walaupun perizinan menggunakan aula sangat sulit bagi mahasiswa yang ingin mengadakan acara. Ruang aula itu memang harus dijaga dengan baik, karena ruangan itu dibangun dari uang mahasiswa. Kalau sampai rusak gara-gara ulah mahasiswa kan bahaya, anda juga nanti yang repot.

Pekerjaan anda sungguh mulia menurut saya. Ibu merencanakan pembangunan, merawat bangunan bahkan merenovasi bangunan sekretariat UKM FS-UJ. Sekretariat UKM dijadikan lebih tinggi. Ada 10 UKM yang ada di FS-UJ, sedangkan bangunan sekretariat UKM hanya ada tujuh ruangan. Dengan bijaksana Anda bersama bapak Wisasongko, PD III FS-UJ yang berwibawa itu membagi tujuh ruangan itu kepada 10 UKM yang ada. Anda dan Pak Wisasongko mengajarkan bagaimana indahnya berbagi. Sungguh mulia.

Para Mahasiswa yang bergiat di UKM juga diajari bagaimana cara berbagi tempat dengan barang-barang inventaris ketika rapat di dalam sekretariat, karena barang inventaris milik fakultas lebih memerlukan gudang dibandingkan barang inventaris UKM. Bagaimana tidak, inventaris fakultas dibeli dengan uang negara, betul kan Bu?

Kembali ke persoalan awal, pembangunan yang segera akan berlangsung adalah pemasangan paving di halaman sekretariat UKM FS-UJ. Memang halaman sekretariat UKM perlu direnovasi Bu karena debu sangat mengganggu apalagi bagi saya yang alergi. Saya bisa tidak masuk kuliah hanya karena bersin-bersin seharian akibat debu. Pilihan yang tepat untuk memasang paving di halaman itu Bu.

Pohon-pohon yang umurnya mungkin melebihi umur Ibu mungkin sudah saatnya ditebang. Kampus yang besar lebih Butuh lahan parkir daripada ruang yang rindang dan asri, seperti itu kan Bu? Mahasiswa lebih penting daripada tumbuh-tumbuhan yang hampir punah. Sangat bijaksana memang.

Ah, sepertinya harus saya sudahi surat ini. Maafkan jika saya terlalu banyak berbicara dan berceracau. tapi jika tidak menuliskan ini saya juga bisa diserang alergi, bahkan lebih parah daripada cuma bersin-bersin. Saya lebih alergi terhadap omong kosong daripada terhadap debu. Tapi anda tak pernah berbicara omong kosong kan Bu?

Tentu tidak, sudah banyak yang anda lakukan kok demi mahasiswa. Demi pendidikan yang layak tentu harus dimulai dari pembangunan saluran air Bukan dari perbaikan fasilitas perkuliahan, proyektor walaupun posisinya miring toh masih bisa digunakan, iya kan Bu?

Saya sangat berterima kasih pada anda karena telah melakukan banyak hal demi kami; mahasiswa sastra. Tapi Bu, kepentingan dan keperluan itu kadang punya definisi yang berbeda lho. Kepentingan bisa jadi sepihak sedang keperluan bisa jadi keputusan komunal.

Sekali lagi saya ucapkan terima kasih kepada Ibu PD II yang baik hati. Jika banyak perkataan saya yang mengganggu anda silahkan panggil saja saya. Sekali lagi nama saya Mohammad Sadam Husaen, mahasiswa Sastra Indonesia 2011. Hanya mahasiswa biasa, Bukan anggota organisasi apapun ketika menulis surat ini. Oh iya lupa, perlu NIM saya Bu? Ini 110110201036.

Tabik!


Penulis: Mohammad Sadam Husaen, Mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Jember. Hanya mahasiswa biasa, laki-laki, masih hidup, suka bolos, titip absen, nongrong di depan kelas sembari menunggu dosen dan mendekati mahasiswi baru layaknya mahasiswa pada umumnya. Bisa disapa di @husaensadam