Menggurat Visi Kerakyatan

Ramalan Tentang Si Tukang Kuntit

276

Suatu hari seseorang ceritakan ramalannya. Ia meramal banyak hal di masa depan, salah satunya tentang tukang kuntit. Saya sempat lupa, bukan karena ramalan itu soal 35 tahun lalu, yang ditulis 35 tahun sebelumnya, bukan. Lebih karena ia begitu melekat. Apa yang begitu melekat sering kita lupakan, bakan tidak kita sadari.

Tukang kuntit ini tahu banyak tentangmu, melebihi dirimu sendiri. Dia tahu kota mana yang terakhir kamu datangi, tontonan yang kamu suka, selera musikmu, barang yang terakhir kamu beli, juga yang kamu inginkan, riwayat pendidikanmu, kawanmu, tetanggamu, sampai keluargamu.

Sekarang, dia tahu kamu sedang berkumpul dengan kawan-kawan di sebuah warung kopi. Dia mengingat semua percakapanmu, baik di ruang publik maupun di kamar indekos yang kamu yakin hanya ada dirimu dan teman sekamarmu. Dia ingat semua percakapan yang bahkan kamu sendiri lupa. Dia menyimpan semua fotomu.

Dia merekammu. Mengikutimu.

Dalam dunia imaijner, Gen Urobuchi menceritakan bahwa tukang kuntit ini memiliki kuasa untuk menggolongkanmu sebagai kriminal, atau seorang sipil taat. Dia menentukan apakah kamu layak hidup atau lebih baik mati. Semua dia tentukan dengan membaca kondisi mentalmu. Bersama Naoyoshi Shiotani dan Katsuyuki Motohiro, Urobuchi mengemas dunia itu dalam dua dimensi, lalu memberinya nama Phsyco-pass. Semoga kamu tidak salah kira bahwa dunia dua dimensi tersebut terlampau imajiner. Justru dunia itu mewakili ketakutan terbesar saya atas si tukang kuntit ini.

Ingatan saya soal ramalan 35 tahun lalu, yang ditulis 35 tahun sebelumnya, muncul kembali begitu seorang teman rekomendasikan film Citizenfour, lalu Snowden. Setelah menonton film itu, saya menyadari bahwa kehadiran si tukang kuntit semakin nyata.

Dia hadir di sidang terbuka soal skandal Facebook dan Cambrige Analytica. Dia hadir di gereja dalam kotbah-kotbah soal antikris. Dia hadir enam tahun lalu saat Kementrian Dalam Negeri dan perusahaan swasta bikin kerja sama. Dia hadir setiap hari dengan menawarimu pinjaman uang, kadang jual beli mobil motor bekas, besoknya kredit tanpa jaminan, menang undian 125 juta rupiah, barusan dia tawari kupon belanja sebuah market place, saya tebak besok dia datang dengan diskon paket ayam goreng dan teh botol.

Saya tidak akan menyebut secara ekplisit siapa si tukang kuntit ini. Pasalnya ia ada dalam berbagai wujud. Bila Urobuchi menyebutnya Phsyco-pass, peramal yang saya kenal itu menyebutnya teleskrin. Di sidang, orang-orang menyebutnya permissions. Pendeta menyebutnya chip 666. Kemendagri menyebutnya menjaga data kependudukan. Sementara yang lain, mungkin, menyebutnya sumber penghasilan.

Dari semua penyebutan tersebut, si tukang kuntit ini memiliki kesamaan dalam satu hal: data pribadi. Si tukang kuntit tidak hanya sekedar tahu data pribadimu. Ia menyimpan, juga memanfaatkannya.

Di sela saya menulis ini, seorang sales rokok datang. Ia menawarkan produknya pada kawan di depan saya. Kawan saya menolak. Sales itu kemudian meminta nama dan nomor ponsel kawan saya dengan alasan “untuk data pelanggan”. Saya cukup lega ia tidak menyebut nama aslinya. Sayangnya kawan saya tetap memberi nomor telepon miliknya pada sales. Dari kejadian tersebut, apa yang kawan saya lakukan, bisa jadi saya dan kamu lakukan juga. Kita begitu mudah memberi data pribadi tanpa mendapat jaminan keamanan atas data tersebut. Saya tidak menyebut sales barusan sebagai tukang kuntit. Ia hanya perantara. Walau tak dapat dipungkiri perantara juga dapat untung dari aliran data pribadi.

Kepedulian atas data pribadi, bagi sebagian orang bukan jadi persoalan. Namun menurut saya itu perkara besar karena kita –melalui data pribadi, dijadikan komoditas oleh si tukang kuntit ini.

Data pribadi tersebut dapat digunakan untuk mengenali kecendrungan seseorang, sampai pada akhirnya menguasai. Kemampuan eksplorasi manusia dikekang oleh alogaritma. Yang paling ngeri, ‘kekuasaan’ tersebut bisa dengan mudah menuntut manusia untuk seragam, baik dalam ideologi, standar moral, sampai orientasi seksual. Menyimpang sedikit, jejak kita dilacak, lalu kita jadi target. Ketakutan terbesar saya atas pemanfaatan data pribadi atau privasi ini, adalah ancaman terhadap kebebasan berpikir, berbicara, dan berekspresi. Hidup jadi penuh kewaspadaan karena setiap perbuatan kita, baik digital maupun analog, terekam dan tercatat. Seperti kerjaan malaikat saja. Bedanya, malaikat melaporkan rekaman dan catatan pada Tuhan (bagi yang percaya) dan tidak menjadikannya sebagai komoditas.

Agar tidak dijadikan komoditas, sewajibnya negara memiliki tanggung jawab atas perlindungan privasi warganya. Namun jangankan tanggung jawab, undang-undang soal data pribadi saja belum punya, masih berbentuk rancangan dan belum disahkan. Sementara, ketika warga menuntut keamanan data kependudukan pada Kemendagri, malah kena pasal pencemaran nama baik.

Ingin rasanya saya mengarahkan megafon ke telinga Kemendagri sambil berteriak kencang-kencang: “Tuan dan nyonya belajar logika sudah sampai mana?” persis seperti pertanyaan Sisir Tanah dalam lagunya Pidato Retak dan Konservasi Konflik.

Kehadiran si tukang kuntit bikin saya dan beberapa kawan jadi paranoid. Pada laku yang paling sederhana, kami memutuskan untuk menutup webcam yang ada pada leptop. Tingkat lain yang lebih serius, ada yang sempat berhenti menggunakan media sosial selama berbulan-bulan, menghapus beberapa akunnya, sampai alergi pada layanan akses internet gratis di ruang-ruang publik. Namun pada akhirnya kami tidak tahan. Mau tak mau, baik karena tuntutan pekerjaan atau tuntutan sosial, kami kembali menggantungkan privasi pada ketidakamanan. Upaya minimal yang bisa kami lakukan adalah dengan mempercayakan privasi pada layanan-layanan open source.

Dalam cuplikan film Snowden, Corbin O’Brian seorang mentor sekaligus perekrut agen intelijen Amerika menyebut “Secrecy is security, and security is victory.” Saya sepakat. Pada era yang riuh ini, privasi jadi alat yang efektif untuk menguasai.

Yang bikin saya merinding, nama O’Brian begitu familiar karena mirip dengan O’Brien. O’Brien adalah nama yang disebut oleh peramal sebagai sosok yang menyimpan kedok. O’Brien awalnya nampak dapat dipercaya, kamu percayakan privasimu padanya, dia memberimu sesuatu sebagai imbalan atas privasi yang kamu bagikan dengannya. Namun pada akhirnya, dialah yang jadikan privasi sebagai titik berangkat, agar bisa menyiksamu, menguasaimu, sampai akhirnya mengubah tingkah lakumu, bahkan pola pikirmu.

Oh iya, saya belum sebutkan nama peramal itu ya. Perkenalkan, dia adalah George Orwell. Lalu kamu siapa? Kamu adalah Winston!