Menggurat Visi Kerakyatan

Suara DKK dalam Hirarki Memori

Editor: Siti Alvia Warda

360

Dewan Kesenian Kampus Fakultas Ilmu Budaya (DKK FIB) menggelar pagelaran seni bertema “Hirarki Memori” pada Jumat (01/07) lalu. Acara ini sebagai bentuk aksi dari DKK sebab khawatir sekretariat tempat mereka berproses, terancam hilang.

Kini, organisasi mahasiswa (ormawa) di FIB sudah memiliki sekretariat baru. Seperti diberitakan sebelumnya, semua ormawa memiliki jatah ruang. Namun, masih ada ormawa yang belum pindah, salah satunya DKK. Mereka mengatakan, sekretariat lama adalah tempat mereka berproses. Mereka menganalogikannya sebagai tempat memori. Sebabnya, mereka khawatir memori itu akan hilang.

Kekhawatiran itu DKK tuang dalam pagelaran seni “Hirarki Memori”, ialah sebuah pagelaran seni di sekitar area FIB, pada pukul 13.00 – 14.30 WIB, Jumat (01/07).

Sekretariat Baru Belum Cukup

Yudha Fernanda, selaku ketua umum DKK menyampaikan, pemilihan tema “Hirarki Memori” bukan tanpa alasan. Ia merasa khawatir, ruang berproses tempatnya menyimpan memori bisa terancam hilang. Ruang berproses yang Yudha maksud adalah sekretariat lama DKK. “Hirarki memori berarti ancaman akan kehilangan ruang berproses, sebab kita diminta untuk meninggalkan sekretariat kita dan pindah yang baru,” ujar Yudha pada Sabtu (01/07).

Menurut Yudha, sekretariat yang baru dinilai belum cukup, untuk mewadahi anak-anak DKK. Ini juga sekaligus menjadi alasannya, tak mau pindah ke sekretariat yang baru. Menurutnya, DKK membutuhkan ruangan yang luas untuk berlatih. “Di sekretariat yang barupun belum cukup mewadahi kita, untuk berproses, untuk melaksanakan agenda-agenda, rapat, apalagi latihan. Karena ruangannya sempit,” jelasnya.

Tak hanya itu, Yudha juga menganggap keputusan dekanat membangun sekretariat ini, timpang sebelah. Ia menilai, dekanat kurang komunikatif dengan ormawa. Awal mula adanya pengumuman perpindahan, hanya beberapa ormawa yang dikabari, salah satunya Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Melodi Sastra FIB. “Hirarki Memori untuk menyikapi kurangnya komunikasi dari dekanat,” tambahnya.

Selain itu, Yudha mengaku bahwa peraturan-peraturan terbaru memberatkannya. Seakan hal itu menjadi batas dirinya untuk berproses. “Keputusan-keputusan dekanat dirasa merugikan atau membatasi gerak kita untuk melakukan proses, melakukan kegiatan organisasi,” jelasnya.

Harapan untuk Menghapus Ancaman

Berdasarkan penjelasan Yudha, ia mempersiapkan acara ini sejak dua hari sebelum acara berlangsung. Sebab DKK baru menerima edaran penertiban Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang berisi tentang penertiban sekretariat UKM pada hari Rabu, (29/06). “Persiapannya sendiri sebenernya dua hari, karena kita dapet edaran penertibannya dua hari yang lalu, jadi kita langsung menyikapi ini gitu lho,” jelas Yudha.

Pentas pagelaran ini berada di area FIB. Pagelaran puisi dan musik ditampilkan di depan kantin FIB, sedangkan pagelaran seni tersebar di depan Gedung Ki Hadjar Dewantara, Pendapa Achmad Hatib, serta kantin. Menurut Yudha, tempat-tempat tersebut menjadi lokasi strategis bagi DKK. Sebab, mahasiswa biasanya berkumpul di tempat-tempat tersebut. Sehingga peluang untuk mendapatkan penonton, bisa mereka dapat. “Mahasiswa banyak disana, kita kan ingin dilihat banyak orang juga makanya kita pilih tempat yang rame,” tambah Yudha.

Yudha juga menjelaskan, acara tersebut sekaligus menjadi niatan mereka untuk mewakili teman-teman UKM lain yang ingin menyampaikan suaranya, namun takut dengan adanya ancaman-ancaman dari dekanat FIB Universitas Jember (Unej). Ancaman-ancaman yang muncul sebab teman-teman UKM tak mau menaati peraturan FIB. “Ancaman-ancaman itu seperti birokrasi dipersulit, dananya tidak bisa dicairkan atau paling buruk itu UKM atau HMJ nya itu dibekukan,” jelasnya.

Ia berharap, dengan adanya acara ini, pihak dekanat bisa mendiskusikan kembali terkait peraturan yang berhubungan dengan UKM. “Harapannya aturan itu bisa didiskusikan kembali dengan teman-teman UKM,” jelasnya.

Lewat Seni, yang Terancam Bersuara

Yudha mengemas Hirarki Memori ke dalam pembacaan puisi, pertunjukan musik dan seni rupa. Ia mengonsepnya dengan open stage. Maknanya, tak hanya anak DKK yang bisa tampil. Siapapun bisa menuangkan keresahannya di atas panggung.  “Konsepnya open stage sebenernya, kayak siapa yang pengen menyuarakan, pengen tampil dipersilahkan gitu,” tuturnya.

Pagelaran ini, sengaja menjadi aksi dari DKK. Suara-suara keresahannya mereka tuang ke dalam kesenian. Yudha menjelaskan, karena ia dan teman-temannya hidup berdampingan dengan kesenian. Sehingga kesenianlah yang menjadi wadah mereka untuk menyuarakan aksi. “Kita menyuarakan itu lewat karya, karena kita UKM kesenian,” jelasnya.

Laksana puisi yang berjudul “Sandera Kebebasan” karya Raisya Ad Dina Najma Soraya dan Athalla Riani Choirunisa, yang dibacakan pada saat pertunjukan. Puisi itu mengandung makna dalam. Lewat Yudha, Raisya bercerita bahwa makna dari judul puisi itu sendiri menyuarakan tentang sekumpulan orang yang merasa sulit berkreasi karena terhalang oleh peraturan. “Orang-orang yang ingin bebas berkreasi dibatasi oleh beberapa aturan tanpa ia tahu tujuan aturan itu sendiri. Namun dari banyaknya cerca dan sulit berbagai situasi, semangat untuk berkarya malah semakin menggebu,” jelasnya.

Seperti yang Yudha jelaskan, penampil tak hanya dari DKK, anggota Mahasiswa Pecinta Kelestarian Alam (Swapenka) juga turut meramaikan. Mereka juga membacakan puisi dan menyanyikan lagu. “Yang terlibat pertama DKK, ada temen-temen dari Swapenka,” imbuhnya.

Seperti Hakim, ketua umum Swapenka itu juga turut hadir. Hakim merasakan keresahan terkait peraturan baru dari dekanat. Ia merasa keputusan itu diambil secara sepihak, tanpa melibatkan ormawa. “Transparansi bersama anak ormawa itu gak ada sama sekali saya lihat,” tutur Hakim pada Sabtu (02/06).

Ia menyebut perihal peraturan jam malam. Bagi Hakim, ini tidak sesuai dengan peraturan yang ada di pusat Unej. Ia mendasarinya dengan melihat banyak ormawa di pusat, yang kegiatannya tidak dibatasi oleh jam malam. “Dari UKM pusat aja yang di bawah langsung dari universitas yo gak ada jam malam di sana. Kenapa di fakultas harus ada jam malam, lebih ke situ sih,” ujarnya.

Berdasarkan keresahan tersebut, Hakim terdorong untuk tampil di pagelaran Hirarki Memori. Ia membawakan potongan musikalisasi puisi dari Sombanusa. Puisi itu merepresentasikan suara dari golongan-golongan yang terabaikan. “Makna dari puisi itu menyuarakan bahwa kita yang ada di sana adalah warna hitam yang merangkum semua yang diabaikan,” jelas Hakim.

Harapannya, dekanat bisa mendengar suaranya. Komunikasi antara dekanat dan ormawa bisa lebih baik lagi. “Komunikasinya diperbaiki lagi,” tuturnya. []

 

Leave a comment