Menggurat Visi Kerakyatan

Persma Jember Kritik Penempatan KKN di Luar Kota

83

Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat, jadi salah satu pembahasan dalam forum Musyawarah Kerja Kota (Muskerkot) Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Jember. Pada forum yang dihadiri beragam lembaga pers mahasiswa lintas perguruan tinggi di Jember itu, program KKN dinilai tidak turut menyelesaikan persoalan pendidikan.

Program KKN Universitas Jember contohnya, menerjunkan peserta hingga luar kota Jember. Hal ini dinilai tidak tepat sasaran karena tidak menempatkan peserta KKN di Jember saja. “Di Jember ini secara pembangunan sudah baik, lembaga-lembaga pendidikan sudah banyak namun tidak merata di wilayah-wilayah terpencil, hanya berpusat di kota,” kata Joko Cahyono, Sekjen PPMI Jember saat ditemui usai forum Muskerkot, Sabtu (13/2).

“Kenapa KKN ditempatkan di luar kota, sedangkan di Jember masih banyak masyarakat buta aksara,” tambah Joko. “Di Provinsi Jawa Timur, Jember angka buta aksaranya yang paling tinggi.”

Hal itu, menurut Joko, kian menambah persoalan pendidikan di Jember dan berujung pada timpangnya pendidikan. “Pembangunan lembaga pendidikan yang tidak merata sehingga satu daerah ini gak ada lembaga pendidikannya, sehingga minim sekali yang mengenyam pendidikan. Akhirnya mereka buta aksara.”

Joko juga  menyayangkan kondisi fasilitas pendidikan yang cukup memprihatinkan. “Jember sudah maju, kenapa masih ada sekolah yang gedungnya tidak terawat dan memprihatinkan. Alasnya masih tanah, temboknya masih belum bersemen, atapnya tidak ada gentengnya, bolong semua, tutur Joko. “Cuma ada tiga kelas, terus yang tiga kelasnya lagi ada di luar gedung, jadi di emperan depan rumah.”

Penyebaran fasilitas pendidikan yang tidak merata mengakibatkan tingkat buta aksara di Jember semakin tinggi. “Kota sekelas Jember yang memiliki Universitas yang banyak, tapi masih ada seperti itu dan tenaga pengajar yang ada di situ hanya lulusan SMA bukan yang S1 atau S2,” tandas Joko.

Muskerkot diselenggarakan guna mengawali isu PPMI dalam satu periode ke depan. Ia dihadiri oleh  anggota perwakilan dari beberapa lembaga pers mahasiswa di Jember. Dari forum tersebut menghasilkan kesepakatan mengawal isu buta aksara di Jember, karena kondisi pendidikan di Jember sangat dinilai sangat memprihatinkan.[]