Menggurat Visi Kerakyatan

Perkuliahan Daring Selama Ramadan?

Penulis: Benita Shabrina

8

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember melaksanakan perkuliahan secara daring (dalam jaringan) terhitung sejak tanggal 23 februari sampai 28 maret melalui surat edaran yang bertandatangan Prof. Nawiyanto. M.A., Ph.D selaku dekan FIB.

Surat edaran yang disebarluaskan  melalui sebuah postingan di akun Instagram @fib_unej pada hari kamis (5/2) mengenai perkuliahan daring selama bulan Ramadan menginformasikan bahwa perkuliahan akan kembali normal tatap muka pada tanggal 30 maret 2026.

Dengan informasi yang sangat singkat dan minim di Instagram menghasilkan banyak respon yang beragam. Postingan tersebut mendapatkan total 627 komentar dan mayoritas komentar banyak dari mahasiswa luar kampus Universutas Jember yang menginginkan kampusnya melakukan hal yang sama.

Namun, bagaimana sih sebenernya respon dari mahasiswa FIB itu sendiri? Melalui angket kusioner yang kami sebarkan terdapat 38 responden mahasiswa yang menyuarakan perasaannya.

Respon Mahasiswa FIB UNEJ

Dari 38 responden tersebut, ditemukan 23 responden berpendapat bahwa pembelajaran daring selama bulan Ramadan adalah keputusan yang tepat dan efektif, sedangkan sisanya sebanyak 15 responden merasa sebaliknya. Ditemukan bahwa rata-rata responden yang memilih perkuliahan daring ini efektif rata-rata  adalah mahasiswa FIB asli daerah Jember, sedangkan responden yang menilai bahwa pembelajaran selama daring tidak efektif didominasi oleh mahasiswa non daerah Jember.

Minimnya informasi yang didapat dari pihak fakultas melalui surat edaran yang disebar di Instagram membuat banyak mahasiswa bertanya-tanya dan berspekulasi sendiri mengapa pembelajaran selama Ramadan dilaksanakan secara daring atau online.

Bertepatan dengan pelaksanaan puasa pada bulan Ramadan 1447 H dan jumlah perkuliahan yang akan di ikuti mahasiswa hanya tiga kali pertemuan sebelum akhirnya libur kembali, yakni libur lebaran. Hal tersebut yang banyak melatarbelakangi jawaban dari mahasiswa FIB merasakan bahwa perkuliahan daring menjadi Solusi dari permasalahan sementara dan menjadi momentum bulan puasa banyak dituliskan oleh responden.

Perkuliahan daring terlihat fleksibel dikarenakan tidak mengharuskan mahasiswa untuk datang ke kampus dan hadir di kelas. Kebanyakan mahasiwa merasa diuntungkan sebab mereka dapat menghemat energi dan biaya transportasi.

“Berdasarkan pengalaman saya kemungkinan kelebihannya yaitu lebih fleksibel, bisa di mana saja dan hemat biaya” pungkas Irfan Aliefandi Nugroho, mahasiswa FIB angkatan 2025. Jawaban Irfan sebagai salah satu responden mengenai kelebihan itu tidak lain adalah spekulasi dari keputusan yang telah dibuat. Meski begitu, menurutnya perkuliahan daring selama Ramadan tidak efektif sebab materi dari dosen sulit untuk dipahami karena terkadang hilang sinyal saat dosen menyampaikan materi yang penting, hilang sinyal bisa terjadi dari pihak dosen ataaupun mahasiswa itu sendiri karena akses sinyal yang sulit.

Selain hemat biaya dan fleksibel mahasiswa merasa punya lebih banyak waktu bersama keluarga, tidak seperti Ketika perkuliahan dilaksanakan secara luring, terutama untuk mahasiswa luar daerah Jember, seperti jawaban Rana yang berdomisili Mojokerto, “Yang saya rasakan dengan adanya kebijakan ini adalah bisa menghabiskan waktu dengan keluarga lebih lama.”

Meski begitu, tidak sedikit juga mahasiswa yang merasa bahwa  perkuliahan daring selama Ramadhan tanpa kendala dan berjalan efektif. Rahma Anisa, mahasiswa FIB angkatan 2024 mengeluhkan keterbatasan jaringan internet, “Menurut saya, saat daring struggle untuk pelaksanaan perkuliahan adalah sistem yang sering error atau keterbatasan jaringan internet.” Keterbatasan internet terutama bagi mahasiwa yang menggunakan paket data seluler bukan wifi memakan biaya yang berlebih.

Pemahaman materi dan pelaksanaan kegiatan belajar dalam suatu kelompok tugas jadi terkendala. Dalam suatu kasus presentasi diskusi antar kelommpok dan keaktifan kelas sering berjalan tidak efektif “Saat presentasi kelompok di sesi QnA menjadi susah untuk berdiskusi bersama teman satu kelompok,” keluh Rifka Aulia Mufidah.

Keputusan perkuliahan daring selama bulan ramadhan menimbulkan respon yang beragam dari mahasiswa. Keuntungan seperti hemat biaya tanpa harus ke Jember karena dekat dengan libur idul fitri jadi tidak perlu mudik, lebih banyak waktu bersama keluarga dan kekurangan seperti pembelajaran yang tidak efektif, kendala jaringan, dan biaya tambahan untuk mempersiapkan paket data seluler selama perkuliahan. Keputusan daring selama Ramadhan adalah sesuatu yang di satu sisi menjadi sebuah anugrah bagi sebagian mahasiswa dan di sisi lain adalah ketidakefektifan yang mengikutinya.

Leave a comment