Menggurat Visi Kerakyatan

Minimnya Dukungan Pemkab Jember Terhadap Komunitas Musik Patrol

125

Minimnya dukungan pemerintah kabupaten Jember, tidak membuat redup semangat masyarakat untuk melestarikan budaya lokal. Hal ini disampaikan oleh Pramoedya Ardhi Krisna, Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa Kesenian (UKMK) Universitas Jember (Unej) ketika memberi sambutan dalam pembukaan Carnival Music Patrol  XIV pada Sabtu (19/07).

Menurut Krisna, sebelum karnaval ini digelar, pihaknya sempat mengajukan permohonan kerja sama kepada instansi pemerintahan terkait. Namun hasilnya nihil, panitia kegiatan tidak mendapatkan bantuan kerja sama hingga kegiatan berlangsung.

“Kami beberapa kali minta bantuan dukungan dana kepada pemerintah pun selalu dipersulit. Seperti tahun ini, kami tidak dapat bantuan dari pemerintah,” kata Krisna.

Bahkan Krisna menilai peran pemerintah kabupaten (Pemkab) Jember dalam merawat nilai kebudayaan lokal. Pemkab Jember, kata Krisna, justru mendukung acara karnaval modern layaknya Jember Fashion Carnival (JFC) lewat acara Bulan Berkunjung Jember (BBJ) sebagai ikon pariwisata Jember. Sementara itu perhelatan tradisional layaknya karnaval musik patrol justru dipandang sebelah mata.

“Kita tentu tahu ada JFC tiap tahunnya. Tapi JFC kan mengambil budaya dari luar negeri dari brazil dan sudah modern.dan di jember sendiri kita punya yang lokal, yang asli jember yaitu ada patrol. Kenapa tidak dikembangkan itu,” jelasnya.

Sementara itu, tidak adanya respon Pemkab Jember dalam merawat kesenian lokal pun berdampak pada eksistensi komunitas musik patrol di Jember. Hal ini, menurut Krisna, membuat semakin surutnya jumlah komunitas patrol di Jember. “Akhirnya komunitas patrol yang lama akhirnya mati. Karena pemainnya tidak ada dan tidak ada dukungan dari siapapun,” kata Krisna.

Beberapa komunitas Patrol, kata Krisna, mengatakan bahwa tanpa adanya karnaval musik patrol maka besar kemungkinan kesenian patrol di Jember akan terancam eksistensinya.[]

 

Penulis: Kholid Rafsanjani