Menggurat Visi Kerakyatan

Membangun Relasi Lewat Acara TKMT ke Enam di UJ

252

Program Studi Televisi dan Film, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember (PSTF FIB UJ) mengadakan Temu Karya Mahasiswa Televisi dan Film (TKMT) ke enam. TKMT ini akan berlangsung selama tiga hari yaitu pada tanggal 13-17 November 2019, bertempat di FIB UJ. Sebanyak  25 intansi perguruan tinggi di Indonesia akan mengikuti acara ini.

Federasi Organisasi Mahasiswa Televisi dan Film se Indonesia (FORMATIF) rutin menggelar acara TKMT.  Jika acara sebelumnya dilaksanakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, namun TKMT kali ini diadakan di UJ. “Ini acara dua tahunan sekali yang digagas FORMATIF, kemarin itu, letaknya di ISI (Institut Seni Indonesia ) Surakarta, nah sekarang Jember jadi tuan rumah acara ini,” ungkap Abdul Ghaniy Rosyidin selaku Festifal Director acara ini.

Tema acara ini adalah Bermain dan Berekspresi. Tema tersebut memilki arti bahwa terciptanya sebuah ekspresi dihasilkan dari sebuah permainan. Dengan berekspresi pula kita dapat melupakan berbagai permasalahan. “Ketika kita bermain, kita hanya fokus pada permainan kita, dan masalah di luar permainan itu akan hilang, intinya misal kita bermain, hasil dari permainan itu  adalah sebuah kemenangan, nah ekspresi itu adalah kemenangan.”

Ghaniy mengungkapan bahwa, tujuan acara TKMT ini tidak hanya untuk  meningkatkan rasa solidaritas antar jurusan PSTF dan membahas mengenai perkembangan PSTF di Universitas lain. Namun selain itu juga sebagai studi banding antar Universitas di Indonesia. “Acara ini juga sebagai ajang pertemuan dan pembahasan bagaimana perkembangan jurusan mereka, juga sebagai studi banding antar kampus,” ungkap Ghaniy.

Ada beberapa rangkaian dalam acara ini. Pertama, acara simposium. Dalam simposium ini akan ditampilkan beberapa tema. Seperti pendidikan film sekarang maupun yang akan datang, kritisisme, dan produksi film. Kedua, pemutaran film dari mahasisa PSTF, baik mahasiswa UJ maupun delegasi universitas lain. Ketiga, pertemuan forum temu komunitas atau biasa disebut Guyub Pasir. Keempat, pemutaran kuratorial yang akan dilaksanakan di Kota Cinema Mall (KCM) Jember. Kelima adalah akan dilaksanakannya rapat Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART). “Acaranya mulai dari kemaren sampai hari minggu, ada symposium, pemutaran documenter, pemutaran film dari delegasi, lalu guyuh pasir, yakni forum temu komunitas, pemutaran kuratorial di KCM, dan ada pembahasan AD/ART,” ungkap Ghaniy.

Kemudian berbicara mengenai Rapat AD/ART,  akan membahas mengenai  keberlanjutan FORMATIF dan penentuan tempat pelaksanaan TKMT selanjutnya. “Dengan temen-temen delegasi yang kita undang itu, kita bahas bagaimana ke depannya untuk FORMATIF  ini, dan penentuan tuan rumah TKMT selanjutnya,” ujar Ghaniy.

Delegas-delegasi yang telah diundang panitia adalah perwakilan dari 25 intansi perguruan tinggi di Indonesia. Namun,Ghany mengungkapkan bahwa yang hadir hanya sepuluh instansi.“Kita kemaren mengundang 25 intsansi  perguruan tinggi namun yang bisa datang kesini sepuluh instansi,” ujar Ghaniy. Sepuluh instansi tersebut ialah Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, Universitas Pasundan (UNPAS), Jakarta Film Akademi (JFA), Universitas Brawijaya (UB), Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, Universitas Dian Nuswantoro, ISI Jogja, dan ISI Denpasar.

Ghany memaparkan bahwa membutuhkan waktu selama dua bulan untuk mempersiapkan acara ini. Dalam waktu dua bulan tersebut ia juga mengungkapkan bahwa terdapat beberapa kendala, yaitu mengenai keuangan dan pemilihan panelis atau pemateri. “Selain finansial, hambatannya adalah menyatukan jadwal antar panelis dan melihat apakah panelis ini layak untuk tema dari simposium,” ujar Ghaniy.

Untuk mengatasi masalah finansial, panitia bekerja sama dengan sponsor. Mereka membantu menjual produk dari sponsor maupun mempersilahkan sponsor untuk membuka standnya  sendiri. “Sponsor bisa juga menitipkan barangnya  untuk dijual di acara ini,” ucap Ghaniy.

Ghaniy merasa bersyukur karena acara ini sudah berjalan dengan lancar dan sesuai harapan. Hal itu dikarenakan banyak komunitas dari perguruan tinggi yang datang pada saat pembukaan. “Alhamduliah udah berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan, terutama tadi malem, yang sangat di luar ekspektasi, ramai sekali, dari komunitas perguruan tinggi lain.” ujar Ghaniy.

Dalam rangka untuk mengembangkan perfilman Indonesia, Ghaniy berharap orang-orang yang memiliki passion pada pertelevisian dapat bergabung dalam acara ini. “Harapannya teman-teman yang memiliki passion di bidang film itu bisa hadir, bisa saling sharing tentang mereka lakukan, atau capai, maupun kendala di dunia film di bidang film, sehingga bisa kita cari solusi bersama untuk ke depannya bagaiamana agar perfilman Indonesia berkembang dengan baik.”

Ahmad Maulana, mahasiswa dari ISBI Bandung mengungkapkan bahwa ia  merasakan manfaat dari mengikuti acara ini, yaitu ia dapat mengenal orang baru dan juga  membangun relasi antar sineas atau penggiat fim ataupun film maker dari universitas lain. “Aku jadi ketemu orang baru, dan aku ngerasa di PSTF itu butuh banyak relasi kan, nah kesempatan kayak gini ini bia jadi peluang buat sineas atau film maker,” ujar Ahmad.

Ahmad berharap agar Bandung kembali menjadi tuan rumah TKMT selanjutnya. “Pinginnya jadi tuan rumah lagi, biar mereka main ke Bandung,” harap Ahmad.  []

Penulis : Alifia Suci Rahma

Editor : Amizatul Liana Afikoh