Menggurat Visi Kerakyatan

Mahasiswa Kritik Rencana Pembangunan Kota Jember dalam Peringatan Hari Bumi

68

Bertepatan dengan peringatan Hari Bumi, ratusan mahasiswa di Jember menyampaikan kritik kepada pemerintah daerah lantaran belum juga menyelesaikan Rancangan Tata Ruang Wilayah (RTRW) kota Jember. Hal ini disampaikan lewat aksi kampanye peduli lingkungan dalam memperingati Hari Bumi, pada Selasa (22/04) kemarin.

Sebagaimana yang dikatakan oleh koordinator aksi Febri Arisandi, salah satu tujuan aksi tersebut adalah mengingatkan pemerintah daerah Jember yang belum juga menyelesaikan RTRW kota Jember.  “Kalau untuk pemerintah sendiri, kita memang mengingatkan bahwa RTRW Jember harus cepat diselesaikan. Karena itu merupakan kewajiban bagi suatu daerah,” ungkap Febri.

Semrawutnya pembangunan di Jember, lanjut Febri, juga karena tidak ada pembagian batas wilayah industri dan lahan pertanian yang jelas dari pemerintah setempat. “Banyak lahan industri ditaruh di pertanian. Akhirnya apa, contoh nyata adalah gumuk. Gumuk yang ada di Jember itu, dari sekitar seribu lebih gumuk, sekarang tinggal lima ratusan. Karena tidak ada yang namanya RTRW,” tegasnya.

Selain itu, aksi kampanye peduli lingkungan tersebut juga dimanfaatkan untuk menolak pencantuman potensi tambang dan bentuk eksploitasi lingkungan dalam RTRW kota Jember. “Memang di sini kita mengusung menolak RTRW yang menjurus kepada eksploitasi. Karena eksploitasi itu bisa merusak lingkungan kita,” kata Febri.

“Contoh seperti di Banyuwangi, sampai sekarang belum selesai, Tumpang Pitu. Jember kan banyak potensi, jadi kita tidak mau potensi kita dirusak. Makanya cepat RTRW diselesaikan!” tegasnya.

Dalam aksi kampanye peduli lingkungan yang diikuti oleh berbagai elemen Organisasi Pecinta Alam (OPA), organisasi mahasiswa, dan pegiat komunitas di Jember tersebut, terdapat pula aksi teaterikal yang menggambarkan para petani yang kehilangan lahan produksi. Hal ini disebabkan oleh semakin terbukanya aktivitas pertambangan dan eksploitasi lahan di Jember.

“Teaterikal di sana kita menggambarkan bahwa dulu, yang awalnya mereka para petani menanam dengan sangat mudahnya tumbuh, tapi sekarang sudah tidak ada lahan. Sudah terbuka oleh eksploitasi-eksploitasi seperti tambang batu gumuk, tambang emas di Manggar. Itu sangat merusak tanah,” tandas Febri.

Setelah menyuarakan aspirasinya lewat brosur, poster, dan teaterikal, peserta aksi membagikan bibit pohon kepada pengguna jalan. Di sepanjang rute, aksi kampanye tersebut berjalan dengan tertib.[]

Penulis: Kholid Rafsanjani

Editor : Siti Hanifa