Menggurat Visi Kerakyatan

Kekerasan Seksual dan Penyebaran HIV AIDS Meningkat, Aktivis Perempuan Jember Rilis Sekolah Perempuan

Kepala Sekolah Perempuan, Wiwin Riza Kurnia memberi penjelasan Sekolah Perempuan kepada calon peserta didik dan tamu undangan yang hadir dalam Grand Launching Sekolah Perempuan pada Minggu (19/10) kemarin, di Kedai Gubug Jember.

117

Meningkatnya angka kekerasan seksual terhadap kaum perempuan, kekerasan dalam rumah tangga yang dialami kaum perempuan, tingginya angka pengidap HIV AIDS di Jember, menjadi sebuah pijakan bagi kelompok aktivis perempuan di Jember dalam mengadakan pendidikan alternatif untuk kaum hawa. Hal ini disampaikan oleh Kepala Sekolah Perempuan, Wiwin Riza Kurnia dalam acara Grand Launching Sekolah Perempuan, pada Minggu (19/10) kemarin di Kedai Gubug Jember.

“Maraknya kekerasan seksual terhadap perempuan, tingginya jumlah pengidap HIV AIDS, dan kekerasan dalam rumah tangga. Karena alasan itulah yang mendasari Sekolah Perempuan perlu ada di Jember,” kata Wiwin saat mempresentasikan sumber data terkait.

Berdasarkan temuan Wiwin, pada 2013 sejumlah 1.118 orang di Jember positif mengidap HIV AIDS. Bahkan jumlah tersebut mengalami kenaikan pada tahun 2014, jumlah pendidap HIV AIDS di Jember pada 2014 sebanyak 1.335 orang. Menurut Wiwin, minimnya pendidikan perempuan dan reproduksi di Jember juga menjadi salah satu faktor penyebab meningkatnya jumlah pengidap HIV AIDS.

Pada akhirnya, kata Wiwin, segala persoalan itu menjadi penghambat bagi kaum perempuan untuk menggali dan mengembangkan potensi diri, apalagi melebarkan kiprah dalam dunia karir.

“Banyak sekali hambatan-hambatan yang terjadi. Mulai dari diskriminasi, marjinalisasi, stereotipe, diskriminasi, hingga kekerasan dalam rumah tangga. Dan banyak juga hambatan-hambatan lainnya. Dalam pengembangan potensi diri dalam perempuan itu sendiri.”

Sementara itu aktivis dari Rumah Perempuan, Eri Andriani mengatakan bahwa kesempatan ini merupakan langkah emas bagi Sekolah Perempuan untuk mengadakan pendidikan untuk kaum perempuan. Salah satunya karena ketidakmerataan pendidikan di wilayah daerah layaknya Jember. “Di Jember masih banyak perempuan yang memiliki nasib tidak sama dengan kita,” tutur Eri.

“Salah satu kekuatan sekolah perempuan adalah berdaulat dan membangun bangsa. Saya berharap nanti di Sekolah Perempuan kita bisa belajar. Karena saya yakin kurikulum yang digagas itu dari perempuan pengalaman perempuan. Optimis bahwan nantinya akan beragam karena pesertanya berasal dari daerah yang berbeda, dan pengalaman yang beragam,” tambahnya.

Untuk langkah berikutnya, Wiwin berharap tak hanya aktivis perempuan saja yang memberi dukungan pada terselenggaranya pemberdayaan potensi perempuan. “Jadi langkah awal untuk memberdayakan perempuan di jember. Dan mengajak semua elemen berpartisipasi dalam mewujudkan tujuan ini,” jelas Wiwin.*