Menggurat Visi Kerakyatan

Kantin ditutup, Civitas Akademik Sastra Kehilangan Ruang Publik

115

Penutupan kantin Fakultas Sastra, Universitas Jember (FS UJ) sejak Juni lalu disayangkan beberapa pihak. Apalagi sempat tidak ada penjelasan resmi terkait sebab penutupan kantin.  Baik dari Dekan FS UJ sebagai pemangku kebijakan tertinggi di fakultas atau pun Pembantu Dekan II (PD II) FS UJ sebagai pihak paling berwenang terkait sarana dan prasarana fakultas. Hingga rabu lalu (24/09) PD II, Dr. Latifatul Izzah, M.Hum. turun bicara. (Baca: Soal Penutupan Kantin Sastra, Ini Alasan PD II Fakultas Sastra Universitas Jember)

Mahasiswa menyayangkan penutupan kantin karena dinilai banyak merugikan mereka. Seperti yang diungkap Pramoedya Ardi Krishna mahasiswa Sastra Inggris 2012 “Kantin ditutup itu sangat merugikan bagi mahasiswa.”  Ia menjelaskan kebutuhan akan kantin tidak hanya untuk mencari makan atau ngopi namun juga sebagai  ruang interaksi, bersosialisasi dengan warga akademisi sastra, “kantin bukan cuma untuk ngopi dan nongkrong, disana kita bisa ketemu dosen dan mahasiswa dari jurusan lain,” jelas Pramoedya.

Hal senada diungkap pegawai administrasi Jurusan Sastra Inggris, Bob Hasan Bisri,  ia menjelaskan sering menjumpai kegiatan di kantin tidak hanya berupa transaksi jual beli. Ada interaksi lain antara mahasiswa, karyawan dan dosen, “Adanya kantin yang dulu, manfaatnya bukan sekedar untuk makan atau minum atau ngopi ya, tapi juga tempat paling enjoy untuk berdiskusi, berkonsultasi, melakukan bimbingan dari mahasiswa dengan dosennya, dosen dengan dosen lainnya, karyawan dengan mahasiswa dengan dosen dan lainnya,” jelasnya.

Pramoedya menambahkan penutupan kantin mengakibatkan hilangnya ruang publik yang nyaman untuk masyarakat sastra, “Gak ada kantin  banyak mahasiswa akhirnya setelah kuliah langsung pulang. Gak ada tempat santai dan ruang diskusi lagi.”

Bob juga merasa tugasnya sebagai administrasi akademik dulu kemudian administrasi sastra inggris hingga saat ini terbantu dengan adanya ruang publik seperti kantin, “Di kantin masih bisa berinteraksi dengan dosen maupun mahasiswa terkait dengan palayanan tugas saya sebagai admin di akademik waktu itu.” Setelah kantin tutup ia merasa pelayanan terhadap mahasiswa tidak maksimal “Tanpa kantin, urusan perut jadi terganggu, urusan pelayanan juga terganggu.”[]

 

Penulis: Nurul Aini