Menggurat Visi Kerakyatan

Kali Pertama Adakan Parade Monolog, DKK Gandeng Pelajar SMA di Jember

603

Unit Kegiatan Mahasiswa Dewan Kesenian Kampus (DKK) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember (UJ) menyelenggarakan parade monolog untuk pertama kalinya. Acara ini bertempat di gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) UJ pada Selasa (5/11). Acara parade ini berlangsung selama dua hari, yakni pada 5-6 Oktober 2019. Penampil terdiri dari pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) dan anggota DKK. Pada hari pertama menampilkan lima monolog. Monolog adalah suatu ilmu terapan yang mengajarkan tentang seni peran di mana hanya dibutuhkan satu orang atau dialog bisu untuk melakukan adegan atau sketsanya.

“Dari awal niat kami memang untuk bersilaturahmi ke teater, khususnya pelajar,” ungkap Arif Budiman, Ketua Umum DKK. Tujuan dari diadakannya acara parade monolog untuk menjalin komunikasi dengan komunitas teater di kalangan pelajar.

“Masyarakat awan mungkin menganggap parade monolog itu lomba, konsep lomba ini yang kami hilangkan, menjadi tampil bersama-sama, tanpa hadiah khusus.” Ungkap Arif. Arif memandang bahwa parade monolog adalah penampilan monolog yang dilakukan berturut-turut, dengan naskah dan pemain yang berbeda. Ia menambahkan bahwa DKK memberikan sertifikat pada pelajar yang tampil sebagai apresiasi karena sudah berpartisipasi, dengan harapan agar para pelajar merasakan bagaimana rasanya berteater dengan mahasiswa.

“Sebenarnya kami sudah memberikan undangan pada semua SMA di Jember, tapi yang mengkonfirmasi bisa tampil di acara ini hanya tujuh SMA,” ungkap Arif. Untuk  empat kelompok teater pelajar yang belum tampil akan tampil pada Rabu (6/11) di tempat yang sama. Ada tiga teater pelajar yang berpartisipasi dalam parade monolog pada Selasa (05/11). Teater Q SA dari SMAN 1 Jember menampilkan monolog berjudul Kayon. Teater Pandhawa dari SMAN 5 Jember menampilkan monolog berjudul Koruptor yang Budiman. Teater Sinkron dari SMAN 2 Jember menampilkan monolog berjudul Ranah Pemimpi. Selain itu ada dua penampil dari DKK yang ikut mementaskan monolog, mereka mementaskan monolog berjudul Aku Sang Presiden dan Kursi.

“Jadi acara kami ini gak hanya pertunjukan saja, tapi diselingi dengan workshop keaktoran,” ungkap Arif. Arif berujar bahwa alasan memilih monolog daripada pertunjukan seni lainnya, karena fokus DKK pada acara kali ini adalah  keaktoran. Workshop yang ia maksud akan dilaksanakan pada Rabu (6/11) dengan mengundang Maimura, aktor senior Jawa Timur. Tak hanya mengisi workshop, Maimura akan mementaskan sebuah monolog berjudul Ritus Travesti.

“Dari segi konsep kita sukses, karena pertama kalinya di Jember, kita berkolaborasi dengan pelajar untuk menyelenggarakan acara monolog.” Arif menilai acara ini sukses karena acara parade monolog ini merupakan yang pertama kali di Jember dan DKK berhasil mengadakan acara tersebut.

“Dengan tiket sepuluh ribu, harus ada penawaran yang menarik penonton, hambatan kita di situ,” ujar Arif. Untuk menggelar acara ini, DKK membutuhkan waktu selama sebulan. Kendala dalam mempersiapkan acara ini adalah pada proses promosi. Arif juga menilai bahwa penonton yang menonton hari ini adalah mereka yang memiliki ketertarikan dalam bidang teater.

“Melihat dari apresiasi penonton, saya berharap acara ini lanjut lagi tahun depan, karena memberikan regenarasi untuk proses teater dari SMA ke mahasiswa.” Arif berspekulasi bahwa jika pelajar belajar teater, itu akan membantu perkembangan mereka ketika mereka masih ingin berteater saat menjadi mahasiswa, jadi mereka tidak perlu belajar teater dari awal lagi.

Afrraah, mahasiswa jurusan Sastra Inggris angkatan 2017 FIB UJ mengungkapkan alasannya menonton parade monolog, “Saya berpikir saya masih kurang, saya perlu belajar, mencari ruang untuk belajar, dan acara ini merupakan kesempatan saya untuk belajar,” ungkap Afrraah. Afrraah tertarik menonton monolog karena ia merasa ada suatu hal yang bisa ia pelajari setelah menonton teater. Dalam parade monolog tidak hanya menampilkan sebuah pertunjukan saja  tapi juga mengadakan diskusi dan apresiasi untuk penonton juga tim kreatif teater.

“Menarik karena membawakan masalah-masalah yang sedang hangat terjadi di masyarakat,” ungkap Afrraah. Salah satu penampil yang menarik perhatian Afrraah adalah penampil nomor dua, yakni teater Pandhawa. Teater ini membawakan monolog berjudul Koruptor yang Budiman karya Agus Noor.

“Saya berharap acara ini tetap ada dalam kurun waktu tertentu,” harap Afrraah. Sejalan dengan harapan Arif, Afrraah juga berharap agar acara ini aktif diselenggarakan, entah terselenggara dalam setahun sekali atau enam bulan sekali. Afrraah menilai acara ini merupakan wadah para pecinta seni untuk menyaksikan pertunjukan maupun berdiskusi tentang seni. []

 

Penulis: Alifia Suci Rahma

Editor: Yuniar Putri