Menggurat Visi Kerakyatan

Empat Bulan Persiapan, Pementasan Teater Dua Alami Banyak Hambatan

1.485

Mahasiswa Sastra Indonesia (Sasindo) sub jurusan Sastra  angkatan 2017 menggelar pertujukan teater. Acara ini bertempat di Gedung Soetardjo Universitas Jember (UJ) pada (14/12). Mereka memainkan naskah berjudul Grafito karya Akhudiat. Acara ini dibuka dengan penampilan Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Universitas Jember (UJ) dan PSM Melodi Sastra Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UJ.

Anya Shabila Abdi, selaku ketua panitia mengungkapkan bahwa tujuan dari acara ini adalah untuk menyelesaikan mata kuliah praktek, yakni Teater II. “Tujuannya, untuk menyelesikan mata kuliah Teater II.” Ujarnya.

Panitia mengambil tema jalanan. Tema ini sejalan dengan judul naskah, yaitu grafito.  Grafito adalah nama lain dari grafiti, mupakan sebuah coretan- coretan pada dinding yang menggunakan komposisi warna, garis, bentuk dan volume untuk menuliskan kata atau kalimat tertentu. “Temanya ini kita sebagian besar ambil dari tema naskah ini, jalanan,” Ucap Anya.

Anya menjelaskan bahwa pemilihan naskah merupakan pilihan bersama. Pada rapat pembukaaan panitia, sang sutradara, Halizatur Masturoh menyarankan beberapa naskah pada panitia, dan pilihan mereka jatuh pada naskah Grafito. “Waktu itu kita pembukaan panitia, ada beberapa naskah yang disajikan sama sutradara dan kebanyakan memilih Grafito.” Ungkap Anya.

Terdapat 19 aktor yang berlakon dalam acara ini. Selain mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2017 sebagai penampil dalam acara ini, mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2019 juga turut berpartisipasi. “Yang tampil mahasiswa Sastra Indonesia yang menempuh Teater II, yang khususnya sastra, dan ada beberapa volunteer, yaitu dua, pertama dari kyai, yang ke dua dari pastur yaitu angkatan 2019,”  ujar Anya. Ia menambahkan bahwa alasan adanya volunteer atau relawan karena angkatan yang menempuh teater dua sedikit, ia sadar akan butuh banyak tenaga.

Dalam mengadakan acara ini, panitia membutuhkan waktu empat bulan. Selama empat bulan itu,  panitia Teater II menemui banyak hambatan. Mulai dari peminjaman tempat, pembedahan naskah, hingga finansial. “Banyak banget kendalanya, pertama masalah tempat yang bentrok sama UKM lain sama acara UJ pun. Terus yah masalah buka naskah, naskah ini mau dibawa ke mana arahnya, uang tentu saja,” ujar Anya.

Untuk mengatasi masalah tempat, panitia berkoordinasi dengan pihak gedung Soetardjo UJ. Sementara untuk finansial, panitia menggalang dana, misalnya iuran dan membuka  paid promote atau promosi berbayar. “Kalau tentang tempat itu kita mengecek lagi ke rumah tangga yang bagian ngecek Gedung Soetardjo lagi, kalau uang itu ya lewat dari iuran-iuran itu dari panitia, dan bisa dan jualan-jualan makanan, waktu itu anak-anak open paid promote.” Ungkap Anya.

Selain hambatan dalam persiapan acara, ada juga beberapa hambatan dalam proses latihan. Yakni waktu latihan yang terlalu larut malam, kesehatan para pemain, sampai beberapa kesalah pahaman antar panitia, “Anak Teater II itu gak bisa pulang malam lebih dari jam sepuluh sedangkan kita dituntut latihan sampai  jam sebelas, sedangkan besokannya kita harus kuliah, pulang gitu latian lagi. Tiap hari kayak gitu, banyak banget kendalanya kita di masalah kesehatan, juga salah paham antar panitia.” Ujar Anya.

Anya mengatakan bahwa meski mengalami banyak hambatan, mereka bisa menampilkan acara sampai tuntas. “Sebelum hari ini kita terlalu banyak kendala di fakultas, di sinipun banyak banget cobaan Teater II kali ini, aku terutama sebagai pimpinan produksi itu ngerasa lelah banget, gak selesai-selesai berbulan-bulan tapi kita buktikan sukses.”

Yuri penonton dari Jurusan Sejarah FIB UJ angkatan 2016 memberikan komentarnya tentang acara ini. Ia berujar tidak mudah melaksanakan drama musikal. “Lumayan sih, karena kan ada musikalnya, kan gak gampang kalau ada musikalnya yah lumayan.” Tetapi Yuri menyayangkan adanya beberapa suara  pemain tidak terdengar jelas sehingga membuat bingung para penonton.

Yuri yang kebetulan berkecimpung dengan dunia musik, sedikit paham dengan suara. Ia menyarankan jika tahun depan akan mengadakan drama musikal lagi, maka pemilihan tempat dan pemilihan aktor harus diperhatikan. “Untuk kedepannya kalau mau buat musikal lagi, gedung itu sebenarnya sangat penting untuk suara, jadi lebih baik memilih gedung yang benar, gak kayak Soetardjo, terlalu lebar soalnya, jadi suaranya ternggelam, terus ya kalau bisa aktornya sih, yang paham sama nada.”

Anya berharap agar panitia Teater II selanjutnya mampu melaksanakan perancanaan acara yang lebih siap, dan detail. Selain itu ia juga berharap agar Teater II lebih kompak. “Semoga lebih kompak dan detail dalam melakukan perencanaan dan harus lebih siap.” harap Anya. []

 

Penulis : Alifia Suci Rahma

Editor : Anisa Fitri Wulandari