Menggurat Visi Kerakyatan

DKK Pentaskan Beragam Tradisi Blambangan Banyuwangi

218

Bertajuk ‘Ontran-ontran ring Praja Blambangan’, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Dewan Kesenian Kampus (DKK), menghadirkan serangkaian pagelaran budaya Banyuwangi selama tiga hari, 20, 21, dan 22 Juni. Dihadirkan dalam enam bidang kesenian yang terdapat di DKK yaitu tari, teater, puisi, musik, seni rupa dan seni media rekam.

Pementasan sesi pertama pada atnggal 20 juni dibuka dengan suguhan tari gandrung, tari kesenian tradisional yang biasanya digelar sebagai penghormatan kepada Dewi Sri atau Dewi Kesuburan. Dilanjutkan dengan bidang puisi yang menghadirkan dramatisasi puisi, hasil adaptasi dari mantra jaran goyang. Mantra jaran goyang merupakan mantra pengasihan yang terkenal di masyarakat Banyuwangi. Kemudian dilanjutkan pementasan teater yang diangkat dari cerita rakyat Banyuwangi berjudul ‘Damar Wulan Ngenger’.

Riski Ardiansyah Prayogo, Ketuan Umum DKK, dalam sambutannya menjelaskan, tema kebudayaan Banyuwangi sengaja dipilih sebagai upaya menghidupkan kembali nuansa budaya tradisi. Ia juga berharap pementasan ini bisa menunjukkan bahwa, mahasiswa bisa melakukan proses kreatif untuk menjaga kelestarian budaya tradisional, “Meskipun kami tidak dapat dana, tapi kita masih bisa dan mau berproses kreatif melestarikan budaya tradisional,” jelasnya. Menurut Ardiansyah, produksi pentas enam bidang ini tidak mendapatkan dana dari birokrasi Fakultas Sastra Universitas Jember (FS-UJ). Akan tetapi atas dasar keresahan terhadap kesenian tradisional yang hampir punah, DKK tetap menggelar kegiatan ini.

Menanggapi pementasan ini Pramodya Ardhi Krisna, pegiat Unit Kegiatan Mahasiswa Kesenian (UKMK) UJ mengaku tertarik dengan tema yang diangkat. Makasiswa asal Jawa Barat ini berharap sering diadakan pementasan tradisi seperi ini. “Memang seharusnya kita mengangkat budaya lokal yang sering kita lupakan. Setidaknya dengan pementasan DKK ini, kita bisa tahu kalau Banyuwangi punya banyak kesenian tradisi,” ujar Krisna.[]

 

Penulis: Nurul Aini