Menggurat Visi Kerakyatan
158

Beberapa hari yang lalu saya bertanya kepada seorang teman mengenai momen apa yang paling estetik selama dia memelihara ayam? Dengan respon cepat dia menjawab, “Ketika tangan saya terkena tai ayam.” Rentang sesaat tersebut bagi saya, ayam tak lebih dari sekedar tengah menghadiahkan cermin. Koreksi. Saya jadi teringat dengan pepatah kuno di pintu masuk Kuil Delphi, berbunyi gnothi seauton yang berati kenalilah dirimu sendiri.

Sebelumnya beberapa kali teman saya tadi menegaskan, jika dirinya telah diperbudak oleh ayam-ayam peliharaannya sendiri. Bagaimana itu bisa terjadi? Secara sederhana sebenarnya dia sedang berkomunikasi sama ayam, dengan cara menerka-nerka. Sama saja dengan berkomunikasi dengan diri sendiri. Komunikasi satu arah, dari dan kepada dirinya sendiri.

Sesekali ia menyadari bahwa, bentuk interaksi yang terjalin antara dirinya dengan ayam, hanyalah pemaknaan terhadap ayam. Akhirnya apa yang dipersepsikan oleh si ayam tak lain dari perilaku menanggapi diri sendiri. Hanya saja kerap terlambat dipahami.

Bisa jadi secara tak sadar, teman saya terjebak dalam proses penyatuan antara aku dan kehendak. Bagi Nietzsche penyatuan dalam kesementaraan tersebut menimbulkan aku-tuan. Seolah terbentuk struktur hirarki antara dia-tuan dengan ayam. Namun setelahnya selalu hadir ketidakmampuan untuk melebur dengan dominasi diri. Mungkin saja rentang yang tak sepenuhnya kosong tersebut, mengakibatkan keterserakan sentimen yang berujung pada aku-budak. Misalnya jika dikontekskan pada kondisi aku-tuan selalu memberi makan atau bahkan terkena tai ayam. Dalam hal ini, teman saya bukan menjadi subjek yang terbelah, akan tetapi terebut. Terseret ke dalam kehendak yang hidup dalam realitas imajinasi.

Sebenarnya ayam senantiasa mengajari kita akan banyak hal. Mengenai telur misalnya, bagaimana dia menyimpan kehidupan di dalam cangkang yang kuat. Di sisi lain, proses peralihan antara malam menuju terang bisa ditandai dengan berkokoknya para ayam. Seolah beralih fungsi menjadi lonceng, mengingatkan manusia, untuk segera bergegas menjemput yang terang. Terang yang membuat sebagian besar dari semesta menjadi terlihat.

Asal mula cahaya barangkali api. Bagi Heraklitos api merupakan bapak dari segala sesuatu. Alam mengalami metamorfosis setelah kemunculan api. Ia menyebutnya sebagai Arche, asal dan penyangga alam semesta. Api memang bergerak, tapi dia sedang beristirahat dalam proses geraknya. Segalanya ada tersebab cahaya. Matahari menghidupkan mata sekaligus mematikan cemas semesta.

Di negeri matahari terbit, Jepang ada legenda yang diremajakan setiap waktu. mengenai genealogi pulau-pulau Jepang yang merupakan hasil dari perkawinan Dewa Izanagi dan Dewi Izanami. Setelah melahirkan Jepang, Izanagi melahirkan Dewi Matahari, Amaterasu. Dewi yang dilahirkan dari mata kiri ayahnya itu, kemudian menjadi titik koordinat bagi silsilah keluarga kerajaan Jepang.

Amaterasu adalah cahaya. Bersamaan dengan datangnya roh-roh halus yang melekat di kegelapan dan menyatu pada tiada. Amaterasu mengajari kepada orang-orang tentang waktu kosong yang harus segera diisi. Sesuatu yang harus dijadikan kebiasaan atas dasar kebutuhan untuk bertahan hidup. Manusia harus segera berbenah menanam padi dan gandum, menenun, dan membudidayakan ulat sutera.

Pemikiran tentang Amaterasu Oomikami dan kosmologi menjadi masa silam yang diyakini orang Jepang. Peran  Amaterasu Oomikami menjadi aspek yang utama dalam ideologi pemerintah Jepang. Namun  sekaligus menjadi mekanisme pengontrol ideologi kerajaan. Kata ideologi sendiri diciptakan oleh Destutt de Tracy pada akhir abad ke-18. Ia menganggap ideologi sebagai visi yang komprehensif, cara memandang segala sesuatu. Dia orang pertama yang mendefinisikan identitas rasio tiap individu tersebut.

Struktur Amaterasu Oomikami yang tri-adik menjadikannya sebagai penjaga lingkungan langit, lingkungan bumi, dan lingkungan manusia. Hubungan penetrasi berpusat pada Amaterasu Oomikami yang merupakan sumber keselarasan yang dilestarikan dalam kebudayaan Jepang.

Dunia terdiri dari dunia ideal yaitu dunia pengetahuan dan dunia nyata. Hubungan kedua dunia ini berlangsung terus menerus, melibatkan alam semesta dan pengetahuan manusia. Orang Jepang menyadari baik secara sadar maupun tidak sadar bahwa, semesta harus harmonis dengan dirinya, lingkungannya, dan para dewa. Keselarasan merupakan cara terbaik untuk menghindari harmoni kehidupan yang sumbang. Antara manusia dan segala yang ada di alam semesta harus selaras, merupakan bagian satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Pohon, rumput, burung, bunga, dan sebagainya disematkan pada corak pakaian yang mereka kenakan. Begitu pula dalam meracik menu dan cita rasa masakan. Mereka sangat menghargai masakan sebagaimana bentuk alaminya. Bentuk, warna, dan rasa masakan dipertahankan se-alami mungkin.

Lingkungan sebagai sebuah mikrokosmos, menjadi arsitektur yang selaras dengan bangunan masa, yaitu rumah). Di dalamnya, keteraturan selalu berjalan beriringan dengan ketidakteraturan. Sebagaimana berlangsung terus menerus secara dialektis. Kewajiban dan tanggung jawab manusia adalah untuk mengembalikan keseimbangan dunia dari ketidakteraturan.

Amaterasu adalah matahari. Sumber kehidupan. Anak-anak matahari yang dijahit untuk menyisir jalur politheis bisa saja kelak akan berani berkata, agama kami adalah semesta yang tak angkuh. Dari pemaknaan tersebut, Amaterasu, nenek moyang kami, juga disimbolkan sebagai cermin yang berarti kerendahan hati, koreksi. Notalgia menyisir yang telah lalu barangkali, merupakan langkah koreksi terbesi. Itu merupakan bagian dari teologi Shinto yang menuntun jiwa.

Mungkin mereka terdengar sebagai seorang Budhisme, mempunyai prinsip samsara yang berarti menjalani kehidupan dengan mengontrol harapan dan keinginan. Lagi pula mereka bertujuan mencapai satori. Dalam tradisi pemikiran orang Jepang yang natural, pragmatik, dan realistis telah diaplikasikan dan direkonstruksi dari bonno o tatsu (mengontrol harapan dan keinginan) menjadi bonno o ikasu (mengendalikan harapan dan keinginan).

Akar realitas bagi Jepang bisa jadi, merupakan visi berlebihan untuk tetap ada sinkronitas antara ilmu langit dengan perilaku manusia di bumi. Akan tetapi di semesta ini, tak selalu kehadiran cahaya atau penerang disambut dengan gembira. Sebagaimana kelahiran bagi yang bernama kedewasaan dalam berpikir. Pembaharuan bagi ilmu pengetahuan acap kali dimusuhi, diredam, atau dihilangkan.

Sebagai penganut pragmatisme, John Dewey menganggap terlalu mengakar dalam memikirkan sifat realitas, hanya akan membuatmu menjadi gila. Berbeda dengan Galileo Galilei misalnya, dia berani menerima resiko dianggap gila karena menentang tatanan kebenaran umum yang bebal.

Bumi mengintari matahari, teori dari Fisikawan dan Astronom Galileo, kala itu seketika memancing amarah Paus Urbanus VIII (pada era abad pertengahan) beberapa saat pasca diproklamirkan. Satu setengah abad yang lalu, masa tersebut adalah era kegelapan. Fase dalam sejarah yang ditandai dengan terkekangnya kehendak untuk bebas. Kegilaan akan dianggap sebagai ancaman yang harus diberangus. Sebab kegilaan berawal dari ketidaksesuain cara berkipikir orang kebanyakan. Segala jenis penemuan baru yang berkontradiksi dengan keyakinan gereja akan dianggap menyimpang. Sesat.

Kekuatan yang luar biasa dari Gereja Katolik Roma berasal dari susunan rapi beberapa rohaniawan yang melestarikan dogma. Para rohaniawan memiliki otoritas untuk menyebarkan agama atau doktrin Gereja. Masyarakat dipaksa berlutut untuk menyepakati kebenaran versi gereja.

Berbagai ancaman penyiksaan, penjara, bahkan ancaman dibakar di tiang mewarnai masa kegelapan. Otoritas gereja harus dijaga ketat agar tak surut, demi status quo. Ada harapan yang kuat bahwa situasi yang mengganggu harus segera menguap. Lewat kekuasaannya, gereja mengasingkan kebebasan berpikir.

Gereja telah memutuskan gagasan bahwa, matahari bergerak mengelilingi bumi adalah fakta mutlak dari kitab suci. Maka tak boleh ada tingkah kompromis untuk memperdebatkannya. Galileo diperintahkan untuk menyerahkan diri ke Kantor Kudus. Dia dipaksa memulai percobaan untuk memegang keyakinan Gereja Katolik Roma, bahwa bumi, bukan matahari, adalah pusat alam semesta.

Galileo diberitahu kemudian bahwa, ia bisa mempertimbangkan ide sebatas hipotetis yang tak perlu diuji. Tak mampu bertindak lebih, Galileo sepakat untuk tidak mengajarkan ajaran sesat lagi. Sebagai konsekuensi ia harus menghabiskan sisa hidupnya untuk mendekam dalam tahanan rumah. Butuh waktu lebih dari 300 tahun bagi gereja untuk mengakui bahwa Galileo benar, sekaligus untuk membersihkan nama Galileo dari klaim menyimpang.

Kekuasaan dihuni oleh, yang menurut Focault sebagai rezim diskursus (kekuasaan wacana). Ada permainan dan penetapan kebenaran absolut. Celakanya setiap kekuasaan hanya mampu diraih dan dirobohkan degan cara, menguasai mesin produksi kebenaran. (kebenaran dogmatis dan kebenaran rasio yang besifat dinamis)

Aufklarung pada mulanya hanya sekedar bayang-banyang ide semata. Kemunculan era pencerahan tersebut, merupakan sebuah ruang yang selalu dalam proses menuju, klaim diri sebagai spesies subjek yang merdeka. Pelepasan diri dari anomali mitos yang menciptakan kebenaran absolut tanpa argumen yang logis. Berharap terbit masa perayaan kebebasan tanpa campur tangan kekuatan di luar dirinya. Masing-masing dari kita menjadi subjek otonom. Terputus dari rantai ketergantungan. Ada adalah tindakan. Cerahan harus segera dijemput, tak hanya sekali, namun berulangkali.[]

 

Penulis: Dieqy Hasbi Widhana