Menggurat Visi Kerakyatan

Diskusi Peran Bahasa dan Sastra Indonesia bagi Problem Masyarakat

298

Senin (21/3), Pendopo Fakultas Sastra Universitas Jember (FS UJ) diramaikan oleh beberapa mahasiswa Sastra Indonesia. Ikatan Mahasiswa Sastra Indonesia (IMASIND) mengadakan diskusi bertema “Problematika Bahasa Indonesia” dengan Dr. Asrumi, M.Hum sebagai pemateri. Diskusi malam itu berbicara mengenai peran akademisi bahasa dan sastra dalam kehidupan masyarakat.

“Kalau bicara linguistik itu luas banget. Tidak akan habis objek-objek yang akan dikaji. Hanya permasalahannya, apakah yang dikaji itu hanya berkutat untuk pengembangan ilmu itu sendiri?” tanya Asrumi kepada forum.

Asrumi menjelaskan bahwa kajian bahasa dan sastra sebenarnya sangat berperan dalam kehidupan masyarakat. Baik itu dalam kehidupan sehari-hari sampai pengaruhnya terhadap persoalan bangsa. Dalam kehidupan sehari-hari, Asrumi mencontohkan surat dari rektorat yang bahasanya ambigu. Kesalahan dalam penggunaan bahasa ini berpengaruh pada agenda yang ditetapkan. “Harusnya seperti itu dikonsultasikan dulu,” tukas Asrumi.

Malam itu, diskusi juga membahas mengenai peran kajian bahasa dengan konteks lebih luas. “Problematikanya, apa yang bisa kita berikan pada pemecahan persoalan bangsa? Linguistik dan sastra mampu masuk di berbagai lini kehidupan. Termasuk problema di masyarakat,” kata Asrumi. Ia mengambil contoh bagaimana Uni Soviet lekat dengan kata komunis. Negara adi kuasa memanfaatkan kata tersebut untuk meruntuhkan Uni Soviet.

Selain itu, kasus Bom Bali yang terjadi tahun 2002 dan 2005 menjadi contoh menarik. Setelah kasus Bom Bali, muncul ketegangan, baik di dalam Indonesia sendiri terlebih dengan negara lain. Indonesia mendapat stereotip terkait kasus Bom Bali. “Indonesia teroris, sarang teroris. Padahal Indonesia mayoritas muslim, akhirnya muslim teroris. Kemana-mana tertutup,” tutur Asrumi.

Fenomena seperti ini harusnya menjadi perhatian bagi akademisi bahasa dan sastra. Pemberian label negatif semacam ini rentan memicu rasialisme. Hal ini bisa saja berujung pada perpecahan. “Pembelajar bahasa, khususnya lingusitik harus paham betul bahwa dengan satu kata mampu menghancurkan Indonesia, juga dunia,” terang Asrumi.

“Sebaliknya, apa ndak mungkin satu kata dapat mendamaikan dunia?” tanya Asrumi. Pertanyaan tersebut tidak dijawab forum. Itu menjadi renungan dan problematika tersendiri bagi mahasiswa Sastra Indonesia FS UJ. []